IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 22 Januari 2015)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA 

IMAM BESAR AGUNG -1Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga. Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umat. Sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah yang diucapkan sesudah hukum Taurat, menetapkan Anak yang telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya.

Inti semua yang kita bicarakan itu ialah: Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga, dan melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan kurban dan persembahan dan karena itu Imam Besar itu perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Sekiranya Ia berada di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan mereka menurut hukum Taurat. Mereka melayani dalam kemah yang menjadi gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, “Perhatikanlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” Tetapi sekarang Ia telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih mulia pula. (Ibr 7:25-8:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17; Bacaan Injil: Mrk 3:7-12

“Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka”  (Ibr 7:25).

YESUS KRISTUS - 0000Marilah kita membayangkan petikan bacaan di atas. Yesus – Imam Besar Agung kita – selalu berada di hadirat Allah, dan melakukan syafaat bagi kita. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga” (Ibr 7:26). Artinya seorang Imam Besar Agung, …… yang sempurna. Hal ini seharusnya memberikan kepada kita pengharapan yang besar!

Yesus mengetahui apa yang kita butuhkan, sehingga dengan mudah kita dapat menggabungkan doa-doa kita dengan doa-Nya dan yakin bahwa doa-doa itu akan didengar (Ibr 4:15-16). Hal ini berarti bahwa kita dapat dengan berani datang menghadap hadirat Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan. Sabda Allah dalam Kitab Suci juga menjanjikan bahwa jika kita tetap bersama Yesus, dan jika kita memperkenankan sabda-Nya tetap diam dalam hati kita, maka kita dapat meminta apa saya yang kita butuhkan, dan Ia akan menjawab, artinya menanggapi kebutuhkan kita itu (Yoh 15:7). Hal ini semata-mata karena kita milik Kristus, dan pengorbanan-Nya telah membuat sempurna penebusan atas dosa-dosa kita.

Kita tidak usah merasa khawatir doa syafaat kita tidak didengar karena bersifat terlalu spesifik dan Allah barangkali tidak akan mendengarkan doa kita itu. Karena kita memiliki keyakinan teguh bahwa Yesus melakukan pekerjaan sebagai Pengantara bagi kita dan bersama kita, maka kita pun berani untuk spesifik dalam doa-doa syafaat kita. Selagi kta menggabungkan kehendak-kehendak kita dengan kehendak dari Dia yang sangat mengasihi kita dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita, maa kita tidak perlu takut membawa kebutuhan-kebutuhan kita di hadapan hadirat Bapa surgawi yang mengasihi kita.

Ketika kita “bereksperimen” dengan doa-doa syafat, janganlah terkejut ketika kita menyadari bahwa Roh Kudus lah yang memimpin doa-doa kita. Roh Allah inilah yang menggerakkan hati kita untuk mendoakan teman kita yang sedang sekarat di rumah sakit, berdoa untuk salah seorang anak kita yang sedang bertugas membuat “business presentation” di hadapan anggota-anggota Direksi perusahaan pelanggannya. Dst. Dlsb.

DOA PRIBADIKita sudah terbiasa untuk mendoakan mereka yang paling dekat dengan kita. Sekarang, janganlah terkejut apabila Roh Kudus membimbing kita untuk memperluas jangkauan doa-doa syafaat kita. Dengan demikian kita memperluas ruang lingkup doa-doa kita menjadi melampaui batas-batas keluarga, misalnya mendoakan para korban kecelakaan pesawat AIRASIA dst., bahkan ke luar dari batas-batas negara kita. Misalnya: untuk para korban penyakit Ebola di beberapa negara di Afrika, untuk para korban terorisme di Perancis maupun di Nigeria, untuk rekonsiliasi di Sri Lanka seperti dipelopori oleh Bapa Suci Fransiskus beberapa hari lalu, untuk kedamaian di Belgia, untuk bencana alam di banyak tempat di dunia  (India dlsb.). Jadi, ketika kita menonton/memirsa berita di TV, kita pun jangan sampai tidak peduli pada bisikan Roh Kudus untuk berdoa dengan hening dalam hati kita untuk banyak ujud yang Dia ingin kita doakan. Santa Teresa dari Lisieux menjadi orang kudus pelindung misi bersama Santo Fransiskus Xaverius, walaupun suster ini adalah seorang Karmelites Tak Berkasut (OCD) yang tugas pelayanannya adalah berdoa dari dalam sel biaranya (seorang biarawati kontemplatif).

Saudari dan Saudariku yang terkasih. Dalam doa, marilah kita (anda dan saya) menghadap Bapa surgawi membawakan ujud-ujud kita dengan berani dan penuh keyakinan. Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:19). Marilah kita senantiasa berupaya untuk berdoa dalam kesatuan dengan Yesus, “Dia yang sempurna”, maka kita pun dapat yakin seyakin-yakinnya bahwa Dia akan melakukan pekerjaan-Nya sebagai Pengantara dengan sempurna.

DOA: Terima kasih penuh syukur, ya Yesus, karena Engkau menjadi Imam Besar Agung bagi diriku dan para murid-Mu yang lain. Terima kasih Engkau hidup selama-lamanya untuk melakukan syafaat bagiku. Aku menaruh rasa percayaku dan pengharapanku pada-Mu saja, dan aku percaya bahwa Engkau mengetahui apa saja yang kubutuhkan, lebih baik daripada apa yang kuketahui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA SEPERTI ORANG BANYAK ITU?” (bacaan tanggal 22-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:25-8:6), bacalah tulisan yang berjudul “IA SANGGUP MENYELAMATKAN DENGAN SEMPURNA SEMUA ORANG YANG MELALUI DIA DATANG KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 24-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 16 Januari 2015 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Martir-martir pertama Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS