YANG DITABURKAN DI TANAH YANG BAIK

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Tomas Aquino, Imam & Pujangga Gereja – Rabu, 28 Januari 2015) 

n80

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20)

Bacaan Pertama: Ibr 10:11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

perumpamaan-parable-of-the-sower-3Dengan perumpamaan ini, Markus menunjukkan satu pengajaran Yesus yang indah. Sebelum perikop ini Markus memusatkan perhatian pada banyak kerja dan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Sekarang, melalui perumpamaan ini penulis Injil mulai menyoroti cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan perumpamaan untuk mengilustrasikan kemurahan-hati Allah yang berlimpah-limpah.

Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih sabda-Nya, mengundang kita untuk mengenal dan mengalami kasih dan kerahiman-Nya. Dia selalu mengulurkan tangan-tangan-Nya kepada kita.  Mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah membelakangi atau menolak kita, maka seharusnya hal ini memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan. Dalam “perumpamaan tentang seorang penabur” ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk memeriksa cara mereka hidup sehingga mereka benar-benar dapat berbuah baik dan banyak, sementara mereka mengalami hidup dan kasih-Nya.

Pada waktu kita dibaptis, Allah dengan penuh kemurahan hati menganugerahkan kepada kita benih hidup baru-Nya. Namun demikian, karena kegelapan yang ada dalam dunia di sekeliling kita, dan karena dorongan yang ada dalam diri kita untuk terlibat dalam dosa, maka pertumbuhan benih ini tidak semudah yang kita bayangkan. Si Jahat selalu saja mencari jalan untuk mencuri sabda Allah dari diri kita, dengan demikian dapat menghambat pertumbuhan kita dalam Kristus. Kita menjadi korban distraksi-distraksi dalam bentuk berbagai kekhawatiran, kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan kehidupan duniawi. Kita mengalami ketakutan dan kegelapan di dalam hati kita.

Kesulitan-kesulitan ini dapat mengecilkan hati kita dan membuat kita merasa waswas dan gelisah penuh kekhawatiran. Yesus mengajarkan perumpamaan ini agar supaya kita dapat memiliki pengharapan. Selagi kita  membuang jauh-jauh segala hasrat kedosaan kita dan menolak dosa yang ada dalam dunia di sekeliling kita, maka benih-hidup-baru yang tidak dapat rusak dapat bertumbuh dan menghasilkan buah yang menyenangkan Allah dan kita semua. Dengan memelihara benih – artinya dengan mempasrahkan diri Allah bekerja dalam diri kita – kita memberikan kesempatan kepada keajaiban hidup ilahi untuk menggantikan kecenderungan-kecenderungan untuk berdosa yang selama ini ada dalam diri kita.

Sower and seed50Bagaimana caranya kita mempasrahkan diri kepada Allah? Yesus minta kepada kita untuk berdoa, untuk menyediakan waktu yang cukup guna membaca dan mempelajari dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, untuk menguji/memeriksa kehidupan kita dalam terang ajaran-Nya, dan untuk melayani orang-orang lain dalam kasih. Apabila kita taat kepada-Nya, maka kita akan mengalami kasih-Nya bagi kita. Dan pengalaman  ini akan mentransformir kita, sehingga dengan berjalannya waktu, kita menjadi lebih dan lebih serupa lagi dengan Dia. Cintakasih kita kepada Tuhan dan ketaatan kita kepada-Nya – seperti juga cintakasih kita dan pengampunan kita terhadap mereka yang bersalah kepada kita – akan mencabut akar kehidupan kita yang lama dan memberikan ruangan kepada hidup baru untuk bertumbuh dengan baik. Allah hanya meminta kepada kita untuk mengambil beberapa langkah-iman setiap harinya. Dia akan memberkati setiap langkah-iman kita, meski langkah-langkah yang kecil sekalipun. Dia juga akan memberikan kepada kita suatu rasa haus dan lapar yang semakin mendalam akan kebersatuan kita dengan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sadar sekali bahwa Engkau sangat mengasihiku dan sesamaku. Engkau begitu memperhatikan diriku dan mengajar aku bagaimana caranya menghayati hidup sebagai murid-Mu di dunia ini. Berkatilah langkah-langkahku hari ini selagi aku berupaya menyuburkan benih hidup baru-Mu dalam diriku. Ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada rahmat-Mu dalam setiap langkah yang kuambil. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGAR DAN MENYAMBUT FIRMAN ITU LALU BERBUAH” (bacaan tanggal 28-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatansorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-1-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 17 Januari 2015 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS