KEBOSANAN DAN PRIBADI YANG KOSONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Kamis, 29 Januari 2015) 

YESUS KRISTUS - 11Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil. (Mrk 4:21-25) 

Bacaan Pertama: Ibr 10:19-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Yesus berkata, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu”  (Mrk 4:24). Ini merupakan sebuah petunjuk kuat (atau katakanlah: sebuah peringatan) bagi sebagian dari kita yang menderita karena ditimpa rasa bosan. Apakah sebenarnya kebosanan itu? Apakah mengulang-ulangi suatu tindakan sebagai suatu rutinitas? Tidak! Kita makan dan tidur, mandi, mengenakan pakaian dll. dan tidak pernah merasa lelah melakukan hal-hal rutin seperti itu. Ada orang-orang yang mendefinisikan kebosanan sebagai “menjadi muak karena tidak melakukan apa pun”. Atau barangkali lebih baik, kebosanan adalah “letih-lesu karena tidak melakukan apa pun yang berarti”.

Saya tidak dapat benar menjadi bosan apabila saya mengetahui bahwa kerja saya sepanjang hari sesungguhnya telah memberikan puji-pujian kepada Allah dan membawa berkat-berkat bagi saya dan “dunia” di sekitar saya. Namun bila saya mengetahui bahwa saya telah membuang satu hari lainnya dengan mencoba untuk menggelembungkan kebanggaan pribadi saya atau berupaya untuk memenuhi diri saya dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, maka saya bisa saja jatuh ke dalam kedua hal tersebut dan pada akhirnya saya menjadi muak dengan diri saya sendiri dan dengan dunia.

YESUS MENGAJAR DI DEKAT DANAUJika saya menantikan orang-orang lain untuk membuat hidup saya menjadi menarik atau exciting, bila saya dengan kemauan sendiri menjadi merasa bosan, maka saya pantas menerima perasaan kosong yang mengiringi hal tersebut; karena pada kenyataannya saya memang “kosong”. Jika saya tidak dapat memikirkan sesuatu yang lebih baik dalam menggunakan waktu senggang saya kecuali memirsa televisi saja sepanjang hari atau berdiri di persimpangan jalan sambil menantikan datangnya excitement, maka sebenarnya saya adalah “kosong”. Jika saya tidak mampu menyelamatkan diri saya dari kebosanan karena saya adalah semacam kupu-kupu yang senantiasa terbang ke sana ke mari, tidak pernah dalam keadaan tenang lebih dari 5 menit, maka saya perlu sekali mendengarkan suara Allah.

Allah dapat saja hanya berkata: “Anak-Ku, jika saja engkau mulai membuat dirimu menjadi suatu berkat bagi orang-orang lain, maka engkau tidak akan menjadi bosan lagi. Jika saja engkau belajar apa artinya mengasihi Allah dan sesamamu, jika saja engkau mulai berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga engkau menghargai sukacita dari kehidupan, maka kehidupan tidak akan membosankan. Masalah kamu jadinya adalah tidak mempunyai waktu yang cukup setiap hari untuk mencapai hal-hal baik yang engkau hasrati.

Akan tetapi, apabila engkau menggunakan waktu untuk bersantai sambil menantikan kedatangan kenikmatan-kenikmatan, jika engkau tetap melangkah ke sana ke mari tanpa arah, maka kehidupanmu sungguh dapat merupakan kebosanan, dan apabila engkau meninggal dunia tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa mereka merasa kehilangan engkau. Kita merasakan kehilangan orang-orang tertentu pada waktu mereka meninggal dunia. Orang-orang tertentu itu adalah mereka yang dengan kasih mereka kepada Allah dan sesama, dengan kemurahan hati mereka yang penuh ketekunan, telah membuat hidup menjadi lebih berbahagia untuk setiap orang di sekeliling mereka.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah diriku menjadi seorang murid Kristus yang baik, sehingga aku dapat mengasihi Engkau dan sesama seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “PERHATIKANLAH APA YANG KAMU DENGAR” (bacaan tanggal 29-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 26 Januari 2015 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS