IMAN YANG DITOPANG OLEH PENGHARAPAN

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat,  30 Januari 2015) 

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan-Ordo III

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIATetapi ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak bertahan dalam perjuangan berat dan penderitaan, baik waktu kamu dijadikan tontonan dengan mengalami cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu bahwa kamu sendiri memiliki harta yang lebih baik dan lebih tetap. Sebab itu, janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang datang, akan tiba dan tidak akan menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. [1] Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh hidup. (Ibr 10:32-39)

[1] Ibr 10:37-38; lihat Hab 2:3-4 

Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,23-24,39-40; Bacaan Injil: Mrk 4:26-34

Umat Kristiani dalam Gereja awal/perdana tentunya memiliki iman yang sangat teruji. Dalam perjalanan nenek moyang mereka melalui padang gurun, Musa berada bersama  mereka untuk memelihara serta mempertahankan visi pengharapan mereka akan tanah terjanji yang diwariskan kepada mereka. Sekarang, para pengikut baru dari Kristus dipanggil untuk menggantungkan diri pada pengharapan bahwa pada suatu hari akan bersama Yesus. Sesungguhnya, iman itu kosong dan tanpa daya apabila tidak ada pengharapan. Nabi Habakuk, yang dipetik dalam bacaan di atas, mengkaitkan pengharapan dengan iman ketika dia menyatakan: “… penglihatan itu masih menanti saatnya …… apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. …… orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:3,4). Sebuah janji – “visi” – diberikan, dan mereka yang memperkenankannya menjadi dasar dari pengharapan mereka mampu untuk hidup oleh iman.

09_01Kita dapat memandang pengharapan dan iman dalam dua cara. Pertama, ada sebuah realitas objektif yang kita ketahui, yaitu bahwa Yesus akan datang kembali dan rumah kita yang sejati adalah di surga bersama-Nya. Pengharapan ini dapat mendorong kita dari hari ke hari selagi kita menyembah Yesus dan mendengarkan sabda-Nya. Akan tetapi, tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari dapat membuat kita berpikir bahwa realitas surga adalah sesuatu yang jauh dan tak mungkin dapat dicapai. Bagaimana kita dapat mengkaitkan suatu  janji “surgawi” sedemikian dengan hidup kita sehari-hari sehingga dengan demikian kita dapat menjadi umat beriman?

Kita dapat seringkali mengingat akan janji-janji yang telah dibuat Allah dalam Kitab Suci. Misalnya, apabila kita sedang mengalami kesepian, merasa tidak berpengharapan atau depresi terkait suatu situasi, kita dapat berpaling kepada Tuhan, yang mengundang kita datang kepada-Nya untuk beristirahat dan penyegaran (lihat Mat 11:28-30). Apabila kita merasa bingung jalan apa yang harus kita ambil, kita dapat mengingat bahwa Allah sangat senang untuk mencurahkan hikmat-Nya jika kita minta kepada-Nya (Yak 1:5). Selagi kita memegang janji-janji-Nya sebagai dasar pengharapan kita, maka kita akan menemukan iman yang kita butuhkan untuk membawa kita melalui berbagai pencobaan atau kesulitan dalam hidup kita. Kita akan mengalami damai sejahtera Allah dan kasih-Nya, walaupun jika “visi” itu kelihatan lambat datangnya (lihat Hab 2:3).

DOA: Bapa surgawi, kami datang kepada-Mu sebagai anak-anak-Mu, dan kami mengetahui bahwa Engkau akan memenuhi segala kebutuhkan kami. Tunjukkanlah kasih-Mu kepada kami, ya Allah kami, dan penuhilah secara berlimpah diri kami dengan kasih-Mu itu. Biarlah kekuatan-Mu menjadi kekuatan kami, dan penuhilah diri kami dengan sukacita ilahi yang hanya dapat diberikan oleh Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “AWAL YANG KECIL-KECILAN” (bacaan tanggal 30-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 10:32-39), bacalah tulisan yang berjudul “KITA BUKANLAH ORANG-ORANG YANG MENGUNDURKAN DIRI” (bacaan tanggal 1-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.  

Cilandak, 26 Januari 2015 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS