JANGANLAH KITA MELARIKAN DIRI DARI PENCOBAAN-PENCOBAAN HIDUP

(Bacaan Pertama Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa IV – Rabu, 4 Februari 2015)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Yosef dr Leonisa, Imam Biarawan

YESUS KRISTUS - 11Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah. Sudah lupakah kamu  akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak? “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.” [1] Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Sebab itu, kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah [2]; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yanag pincang jangan terkilir, tetapi menjadi sembuh.

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seoran pun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorang pun kehilangan anugerah Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. (Ibr 12:4-7,11-15)

 [1] Ibr 12:5-6; lihat Ayb 5:17, Ams 3:11-12; [2] Ibr 12;12; lihat Yes 35:3 

Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mrk 6:1-6 

Karena cintakasih kepada anak-anak mereka, para orangtua yang baik akan mendisiplinkan anak-anak mereka guna melatih mereka dalam perilaku yang benar dan mengajar mereka konsekuensi-konsekuensi dari perilaku yang salah. Jika ini adalah kasus bagi para orangtua di dunia, mengapa kita harus terkejut ketika menyadari bahwa Bapa surgawi juga melakukan tindakan pendisiplinan atas diri kita? Allah ingin kita masing-masing bertumbuh dalam kekudusan, ketaatan, dan kedewasaan (kematangan) sebagai seorang Kristiani. Allah rindu untuk membebaskan kita dari cengkeraman dosa agar kita dapat menjadi semakin serupa dengan Putera-Nya terkasih, Yesus. Allah ingin agar kita menjadi bejana-bejana berharga dari rahamat dan kuasa-Nya di tengah dunia ini.

Apa saja yang menghalangi kita untuk digunakan oleh Allah sebagai saluran berkat-Nya? Penghalang utama bukanlah struktur eksternal dari dosa di tengah dunia atau celaan-celaan dari Iblis, melainkan resistensi batiniah kita sendiri terhadap kelemahlembutan dan kasih Allah. Masalah kita yang utama adalah kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa dan pola-pola dosa dalam diri kita yang menyebabkan kita menentang Allah dan panggilan-Nya. Sederhana saja: “Kita tidak ingin mati terhadap dosa!”

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherItulah sebabnya mengapa Allah mengizinkan berdatangannya berbagai pencobaan dan kesulitan ke dalam hidup kita. Berbagai pencobaan dan kesulitan itu memacu kita untuk meninggalkan dosa secara lebih mendalam dan berpaling kepada Allah secara lebih penuh lagi. Allah melihat secara jauh lebih jelas daripada kita sendiri melihatnya: bagian-bagian dari hidup kita yang bagaikan “tangan yang lemah, lutut yang goyah, dan kaki yang pincang” (lihat Ibr 12:12-13), dan Ia rindu untuk menyembuhkannya. Ia juga mengetahui bahwa tidak semua penyembuhan adalah hal yang menyenangkan, tetapi sekali-sekali dapat menjadi sangat sulit. Bayangkanlah seseorang yang harus menjalani terapi fisik setelah lama sekali mengalami kelumpuhan. Dengan harapan dapat berjalan lagi, orang itu menanggung derita kesakitan dan  “dorongan-dorongan” yang terasa keras dari sang terapis. Demikian pula halnya dengan diri kita dari waktu ke waktu. Namun demikian, seperti ditulis oleh Santo Paulus dengan baiknya, kita dapat “bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Oleh karena itu, janganlah kita melarikan diri dari pencobaan-pencobaan hidup. Pencobaan-pencobaan hidup itu dapat menghasilkan buah yang paling manis. Selagi kita merangkul pendisiplinan Allah atas diri kita, maka kita pasti akan mengalami kerja transformasi-Nya dalam hati kita. Kita pun dapat menjadi kagum bagaimana Allah menggunakan kita untuk menyentuh orang-orang lain dan membangun Kerajaan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku menerima bagianku dalam penderitaan Putera-Mu dan karya penyelamatan-Nya di atas kayu salib. Semoga pencobaan-pencobaan  yang kualami menjadi pelatihanku sehingga dengan demikian aku dapat menjadi instrumen-Mu untuk menyembuhkan dunia sekelilingku yang membutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN ADALAH PRASYARATNYA” (bacaan untuk tanggal 4-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-2-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak,  28 Januari 2015 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS