SEMUA MAKANAN HALAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu,  11 Februari 2015)

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23) 

Bacaan Pertama: Kej 2:4b-9,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:2,27-30 

Dalam menanggapi tuduhan-tuduhan dari orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa  bukan makanan yang kita makan yang  membuat kita tidak bersih di mata Allah. Yang penting adalah apa yang ada dalam hati kita – dan perilaku yang mengalir keluar dari hati kita.

Melalui tradisi-tradisi, kaum Farisi dan para pemuka agama Israel lainnya menjadi terbiasa untuk memusatkan perhatian mereka pada tanda-tanda luar dari kemurnian ritual. Kebalikannyalah dengan Yesus. Rabi dari Nazaret ini langsung menyoroti inti- pokok permasalahannya. Dosa dan kekudusan terletak di dalam hati manusia, bukan di tempat lain. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memusatkan perhatian kita atau menekankan pada tanda-tanda luar saja dari hubungan kita dengan Allah – misalnya mendoakan doa-doa tertentu pada jam-jam tertentu pula, puasa dua kali dalam satu pekan, pantang makan daging pada hari Jumat, dlsb.? Atau, apakah kita membuka diri terhadap kebenaran perihal apa yang sesungguhnya ada dalam hati kita? Apakah kita memeriksa bagaimana sikap-sikap dari hati kita diungkapkan dalam cara-cara kita memperlakukan orang lain? Berbagai rituale dan peraturan memang membantu suatu kehidupan kekudusan, akan tetapi tidak pernah menjadi yang sentral. Yang penting adalah bagi kita untuk memeriksa hati kita, tentunya dengan pencerahan oleh terang Roh Kudus.

images (1)Kadang-kadang tidak mudahlah bagi kita untuk mengkonfrontir dosa yang ada dalam hati kita, namun kita tidak perlu merasa takut. Yesus datang untuk menyelamatkan kita, bukan menghakimi kita (lihat Yoh 3:17). Dia adalah untuk kita, tidak untuk melawan kita. Oleh karena itu, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Ia mengetahui sekali kondisi hati kita, dan betapa buruk pun kondisi hati kita itu, Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sambil merasa murka dan jijik. Sebaliknya, Dia menantikan kita – dengan tangan terbuka penuh belas kasih – untuk dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah-Nya – sebagaimana apa adanya kita masing-masing, dengan dosa-dosa kita – untuk menerima rahmat dan kerahiman-Nya (lihat Ibr 4:16).

Yesus adalah sang Dokter Agung. Ia datang kepada kita dengan penyembuhan dan pengampunan, penghiburan dan pertolongan. Ia ingin merestorasikan kita dalam kasih-Nya. Seperti sang pemazmur, marilah kita mohon kepada-Nya: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-24). Oleh karena itu, marilah kita membuka hati bagi sentuhan-Nya yang lemah lembut, sehingga Dia pun dapat mengidentifikasikan segala sakit-penyakit dosa dan menerapkan kuasa penyembuhan salib-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menciptakan di dalam diri kita sebuah hati yang bersih. Bersama sang pemazmur kita berdoa: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (lihat Mzm 51:9). Baru setelah itu, kita akan mampu membawa buah-buah yang baik dalam kekudusan dan kebenaran ke tengah-tengah dunia.

DOA: Yesus, aku mengakui bahwa aku adalah seorang pendosa yang membutuhkan belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Ciptakanlah sebuah hati yang bersih dalam diriku. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhanku dan Allahku. Pulihkanlah aku kepada kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN YANG EKSTERNAL” (bacaan tanggal 11-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak, 5 Februari 2015 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements