SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup – Sabtu, 14 Februari 2015) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANGPada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.  (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6,12-13 

Gurun Sahara, Kalahari, Gobi. Kebanyakan dari kita barangkali tidak pernah mengalami hidup di padang gurun atau gurun pasir – bagaikan hutan belantara namun gundul dengan sedikit saja tetumbuhan/hewan yang dapat menopang kehidupan manusia. Namun demikian, kita semua tentunya pernah melalui “pengalaman padang gurun” dalam kehidupan kita, yaitu masa-masa di mana kita merasakan kekeringan secara fisik, emosional, dan/atau spiritual. Berbagai pergumulan, ketegangan dan konflik keluarga, kebutuhan-kebutuhan keuangan yang tidak terpenuhi, depresi, atau kebingungan terkait tujuan-tujuan Allah dalam hidup kita dapat menyebabkan timbulnya masa-masa di mana kita hampir mengalami keputus-asaan.

Pengalaman padang  gurun membangkitkan dalam diri kita rasa haus dan lapar akan sesuatu yang baru – suatu hasrat untuk mengikut Allah dengan lebih setia dan tulus, dan suatu ketetapan hati untuk mengenal dan melaksanakan rencana-Nya dalam hidup kita tanpa reserve. Kita dapat melihat tangan-tangan Allah dalam hal ini, walaupun kita baru menyadarinya setelah berjalannya waktu. Dengan melihat ke belakang – khususnya pada saat-saat itu – kita seringkali menjadi sadar bahwa di tengah-tengah kesulitan-kesulitan hidup itu, justru terlihat tangan-tangan Allah yang penuh berkat itu bekerja.

MUKJIZAT PERLIPATGANDAAN ROTI OLEH YESUS- 001Padang gurun adalah tempat terpencil yang jauh dari kerumunan manusia dengan segala hiruk pikuknya. Di tempat yang terpencil seperti itulah Yesus membuat mukjizat penggandaan roti dan ikan, sehingga mampu membuat kenyang sekitar 4.000 orang, bahkan menyisakan roti sebanyak 7 bakul (Mrk 8:8). Sebagaimana Dia memperhatikan orang banyak yang mengikuti-Nya di tempat terpencil seperti padang gurun itu, Yesus juga bekerja secara istimewa pada saat-saat padang gurun dalam kehidupan kita. Ada peristiwa-peristiwa di mana Dia akan memimpin kita ke padang gurun yang terpencil, ke tempat yang tidak familiar bagi kita dan tidak menyenangkan, agar dengan demikian kita dapat mengalami suatu perjumpaan yang lebih intim/akrab dengan diri-Nya. Kenikmatan-kenikmatan duniawi lalu menjadi kurang menarik atau kurang memuaskan, dan Yesus memberikan kepada kita suatu rasa haus dan lapar yang lebih mendalam akan diri-Nya. Yesus dapat memampukan kita untuk melihat sampai berapa jauh dosa kita telah mempengaruhi (secara buruk) relasi kita dengan diri-Nya. Yesus dapat juga memberikan kepada kita suatu rasa terkait kerinduan-Nya agar kita kembali kepada-Nya dengan hati yang dipenuhi kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Di tempat terpencil, Yesus mempergandakan tujuh roti dan beberapa ekor ikan kecil yang kemudian mampu mengenyangkan rasa lapar 4.000 orang. Betapa indahnya dan bahagianya hati bilamana kita mengetahui bahwa Yesus dapat dan akan melakukan sesuatu yang serupa bagi kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Yesus – kepenuhan janji-janji Bapa surgawi kepada umat-Nya – tidak pernah gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam. Seringkali kita tidak menyadari betapa kita membutuhkan pertolongan-Nya sampai pada saat kita berada di suatu padang gurun dalam kehidupan kita. Saat seperti itu membuat kita merasa sungguh hina-dina di hadapan-Nya. Di sisi lain, buah-buah dari perjumpaan dengan-Nya sungguh indah dan memberikan hidup. Hanya Allah-lah yang dapat membuat mukjizat-mukjizat sedemikian.

DOA: Bapa surgawi, aku seringkali terlalu mengandalkan kemampuan diriku sendiri dalam mencoba memecahkan masalah-masalah yang kuhadapi dalam hidupku dan tidak menyadari bagaimana aku membutuhkan Engkau. Ampunilah segala kemandirianku yang keliru dan terimalah kepasrahan diriku untuk menggantungkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “MENGAPA KITA HARUS MERAGUKAN BELAS KASIHAN ALLAH?” (bacaan tanggal 14-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak,  8 Februari 2015 [HARI MINGGU BIASA V]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS