IMG_5203

 Cilandak, 18 Februari 2015 

Saudari-Saudari yang dikasihi Kristus, 

SELAMAT MENJALANI MASA PRAPASKAH TAHUN 2015 

Hari ini adalah HARI RABU ABU, hari pertama dalam Masa Prapaskah. 

Dalam kaitan dengan masa penuh rahmat ini, marilah kita sekarang menyoroti kehidupan dua orang kudus. Kedua orang kudus itu hidup di tempat yang berbeda dan pada zaman yang berbeda pula, namun keduanya menemukan kebebasan sejati dalam pesan Salib Kristus. Mereka adalah Santo Paulus [abad pertama] dan Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226]. Dua orang kudus ini dan para kudus lain yang tak terbilang jumlahnya merasakan bahwa tidak ada peristiwa yang lebih penting daripada kematian Yesus di bukit Kalvari. 

Dalam salah satu suratnya, Santo Paulus menyatakan: “… aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:2). Di sisi lain, Santo Fransiskus telah menjadi seorang saksi hidup dari sang Tersalib. 

Pada hari ini, salib Kristus dapat kelihatan tidak relevan bagi isu-isu riil yang kita semua hadapi dalam hidup ini. Tidak sedikit keluarga-keluarga kita yang telah menderita – langsung maupun tidak langsung – sakit dan kepedihan hati karena relasi yang terluka, perceraian, atau karena penyalahgunaan narkotika. Namun demikian Yesus tetap saja mengundang kita setiap hari: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:28-29). Adalah dalam Yesus – dalam kuat-kuasa salib-Nya – bahwa kita dapat menemukan jawaban-jawaban yang begitu kita butuhkan. 

Oleh kuat-kuasa salib Yesus, Paulus menemukan kemampuan untuk mengasihi orang-orang yang justru membencinya dan memberkati mereka yang mengutuk dirinya (2Kor 6:4-10). Pada waktu Fransiskus jatuh cinta dengan sang Juruselamat yang tersalib, ia mengalami kuat-kuasa untuk mengatasi godaan dan untuk hidup dalam kedinaan dan kemurnian. Kasih Yesus begitu nyata bagi dirinya sehingga kedua matanya seringkali dipenuhi air mata manakala dia berdoa dan memberi kesaksian pengorbanan Yesus bagi dirinya dan bagi semua orang. Biar bagaimana pun juga, salib tidak terpisah dari hidup nyata bagi dua orang pahlawan iman ini, demikian pula seharusnya dengan kita masing-masing. Kita pun dapat menemukan jawaban-jawaban riil atas masalah-masalah riil selagi kita menghadap Yesus dan meletakkan segala beban dan kecemasan kita di dekat kaki salib-Nya. 

Sungguh menyemangati diri kita-lah ketika mengetahui bahwa Yesus tetap merupakan jawaban bagi hidup kita! Yesus dapat melakukan untuk kita apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh manusia; menyembuhkan luka-luka kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mengangkat beban-beban rasa bersalah dan rasa malu kita. Yesus ingin memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa dan otoritas Roh Kudus.  Yang diminta oleh-Nya dari kita adalah agar kita duduk bersimpuh di dekat kaki-kaki-Nya untuk beberapa menit setiap hari, guna merenungkan kematian dan kebangkitan-Nya. Selagi kita melakukan hal tersebut, kita akan mendengar bisikan-Nya kepada kita, “Engkau telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil darimu” (bdk. Luk 10:42). 

Semoga Masa Prapaskah ini menjadi suatu masa penuh kedamaian dan penghiburan bagi kita semua selagi kita mencari pengalaman lebih mendalam dari kehadiran Allah dalam hidup kita. 

Selamat menjalani Masa Prapaskah tahun 2015! 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS