MENGAPA MURID-MURID-MU TIDAK BERPUASA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Jumat sesudah Rabu Abu – 20 Februari 2015) 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15) 

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19

Pertanyaan para murid Yohanes itu memang masuk akal. Orang-orang kudus haruslah menghayati kehidupan asketisisme, dan hidup asketisisme tak terlepaskan dari puasa. Musa banyak sekali berpuasa, demikian pula nabi Elia. Yohanes Pembaptis hidup hanya dari madu hutan dan belalang. Orang-orang Farisi berpuasa dua kali seminggu. Oleh karena itu terbentuklah pendapat umum bahwa sudah dengan sendirinyalah kekudusan dan berpuasa berada bersama, …… tak terpisahkan. Puasa dapat diartikan sebagai kedaulatan roh terhadap badan, penaklukan daging/kedagingan, tata tertib dan disiplin. Puasa adalah persiapan untuk penerimaan rahmat dari Allah. Bukankah Yesus Kristus sendiri berpuasa selama 40 hari dan 40 malam (Mat 4:1-11; bdk. Mrk 1:12-13;Luk 4:1-13)?

Jawaban Yesus sungguh-sungguh mengejutkan. Yesus bahkan tidak memperhatikan motif-motif yang disebutkan di atas, melainkan menembus lebih dalam lagi ke inti permasalahannya. Keberadaan Yesus di dunia ini sesungguhnya merupakan sebuah pesta perkawinan bagi umat manusia. Pada pesta perkawinan/pernikahan orang bersuka-ria, bukannya berpuasa. Yesus Kristus adalah Sang Mempelai ilahi yang datang untuk mencari dan memilih mempelai perempuan-Nya. Mempelai yang dimaksud adalah Gereja. Yesus telah menjemput mempelai perempuan-Nya dan kini sedang merayakan pesta perkawinan dengannya. Para murid adalah tamu-tamu dalam pesta itu. Mereka telah diundang untuk menghadiri pesta di dunia ini. Oleh karena itu mereka harus berada dalam suasana pesta, maka puasa tidak pada tempatnya di sini.

Akan tetapi, kemudian Yesus berkata: Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat 9:15). Mengapa begitu? Karena bilamana pesta perkawinan telah selesai, maka Yesus pun akan pergi kepada Bapa-Nya di surga untuk menyediakan tempat bagi mempelasi perempuan-Nya. Sang mempelai perempuan sendiri – Gereja – harus menanti dengan penuh pengharapan kedatangan kembali Sang Mempelai laki-laki guna memimpinnya masuk ke dalam rumah Bapa (lihat Yoh 14:2-3).

KRISTUS RAJA - Jesus_on_throne_Sementara itu roda sejarah terus berputar, antara kedatangan-Nya pertama kali sebagai seorang bayi manusia tanpa daya sekitar 2.000 tahun lalu dan kedatangan-Nya kembali kelak pada akhir zaman. “Masa transisi” itu diisi dengan berbagai suasana yang berubah-ubah silih berganti, kegembiraan diselingi dengan kedukaan karena masih harus menanti. Itulah sebabnya mengapa hari pesta berselang-seling dengan hari puasa. Sang mempelai mengetahui bahwa dirinya adalah mempelai perempuan yang terpilih, namun ia masih belum berada dalam kamar pengantin. Oleh karena itu hatinya penuh kegairahan, matanya menatap ke tempat yang jauh dan pandangannya senantiasa tertuju ke surga. Namun demikian, ia pun yakin akan keterpilihannya. Inilah yang menyebabkan suasana silih berganti pada anggota-anggotanya, suasana gembira dan suasana duka, perasaan memiliki dan mengingini, perasaan sudah mempunyai dan belum memperoleh. Maka dari itu hari-hari pesta senantiasa diselang-seling dengan hari puasa yang membawa suasana sedih dan penuh keprihatinan.

Jika dipandang dari sudut ini puasa bukan melulu berarti latihan untuk menguasai badan dan mengatasi pertimbangan budi serta antimaterialistis belaka. Puasa kita merupakan pernyataan suatu semangat religius yang mendalam, yang melambangkan waktu penantian kedatangan Tuhan Yesus dengan penuh kerinduan. Inilah vigilia sejarah gereja sebelum pesta pernikahan yang bersifat abadi. Semua vigilia sebelum pesta gerejawi dan masa puasa (Masa Prapaskah) sebelum Hari Raya Paskah mengingatkan kita akan sikap Kristiani yang menanti-nanti, yang mendambakan, dan yang mempersiapkan diri akan kedatangan kembali Tuhan Yesus serta undangan-Nya kepada kita (= Gereja =Mempelai Perempuan) untuk datang menghadiri Pesta Perkawinan abadi. Jadi, puasa bukan hanya masalah kesehatan, melainkan karya cintakasih. Dalam jawaban Yesus di tas tersirat pula acuan kepada misteri cintakasih, yang memberikan arti yang mendalam kepada pesta dan puasa.

DOA: Yesus, sebagai Gereja, dalam setiap perayaan Ekaristi kami dengan mantap kami menyatakan: “Wafat Kristus kami maklumkan, kebangkitan-Nya kami muliakan, kedatangan-Nya kami rindukan.” Kedatangan-Mu kami nanti-nantikan dengan penuh kerinduan, ya Tuhan dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan yang berjudul “BERPUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH” (bacaan tanggal 20-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Tulisan ini diolah dari Richard Gutzwiller (terjemahan KARMEL P. SIANTAR, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, (Tjetakan I 1968), Pertjetakan Arnoldus Endeh Flores NTT, hal. 150-153). 

Cilandak, 9 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS