SELASA PEKAN PERTAMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 03“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan. Sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat 6:7-8)

Banyak dari antara kita yang mengira bahwa doa tidak lebih daripada berbicara dengan Allah. Dan karena biasanya doa adalah sepihak, doa lalu sekedar berarti berbicara dengan Allah. Gagasan seperti itu cukup untuk membuat orang sangat kecewa. Kalau saya mengemukakan masalah, saya mengharapkan pemecahan. Kalau saya mengetengahkan soal, saya menantikan jawaban. Kalau saya mengharapkan tuntunan, saya menginginkan tanggapan. Dan kalau makin lama tampaknya saya berbicara dalam kegelapan, tidak mengherankan kalau dalam waktu singkat saya mulai berpikir bahwa wawancara saya dengan Allah ternyata adalah pembicaraan sepihak. Lalu saya mulai bertanya kepada diri saya sendiri: sebenarnya saya berbicara  kepada siapa, kepada Allah atau kepada diri saya sendiri?

Kesulitan kehidupan doa kita terletak di sini: mungkin pikiran kita penuh dengan gagasan mengenai Allah tetapi hati kita tinggal jauh dari-Nya.

+++++++

Akhirnya dengarkanlah hati Anda. Di situlah Yesus berbicara paling akrab dengan Anda. Doa pertama-tama dan terutama adalah mendengarkan Yesus, yang bersemayam dalam lubuk hati Anda. Ia tidak berteriak. Ia tidak memaksakan diri. Suara-Nya tidak tinggi, sangat dekat dengan bisikan, suara kasih yang lembut. Apa pun yang terjadi dengan hidup Anda, teruskanlah mendengarkan suara Yesus dalam hati Anda: mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian, karena dalam dunia kita yang ramai dan terus berteriak ini suara kasih Allah dengan mudah tidak dapat terdengar lagi. Anda perlu menyisihkan waktu, setiap hari untuk mendengarkan Allah, juga kalau itu hanya sepuluh menit. Sepuluh menit setiap hari bagi Yesus saja, dapat membuat hidup Anda berubah secara mendasar.

Anda akan mengalami bahwa tidak mudah untuk tinggal tenang setiap kali selama sepuluh menit. Anda akan segera merasa bahwa berbagai suara yang lain, yang sangat ramai dan mengganggu, yang tidak datang dari Allah, menarik perhatian Anda. Namun kalau Anda mempertahankan waktu doa harian Anda, sedikit demi sedikit namun pasti, Anda akan mendengar suara kasih yang lembut dan akan semakin rindu untuk mendengarkannya.

+++++++

Keheningan yang mendalam memasukkan kita ke dalam pemahaman bahwa pertama-tama doa adalah penerimaan. Orang yang berdoa berdiri dengan tangan terbuka menghadap dunia. Ia tahu bahwa Allah akan menyatakan diri-Nya dalam alam yang mengelilinginya, dalam pribadi-pribadi yang ia jumpai, dalam keadaan-keadaan yang ia masuki. Ia percaya bahwa dunia menyimpan rahasia Allah dan berharap rahasia itu akan dinyatakan kepadanya. Doa menciptakan keterbukaan itu dan dalam keterbukaan itu Allah dapat memberikan diri-Nya. Sungguh, Allah berkenan memberikan diri. Ia mau menyerahkan diri-Nya kepada manusia yang Ia ciptakan. Bahkan Ia merendahkan diri agar diperbolehkan masuk ke dalam hati manusia.

DOA: Tuhan, mengapa begitu sulit untuk mengarahkan hatiku kepada-Mu? Mengapa pikiranku berkelana ke mana-mana, dan mengapa hatiku menginginkan hal-hal yang membawaku ke jalan yang sesat? Biarlah aku mengalami kehadiran-Mu di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupanku. Kupersembahkan kepada-Mu badanku yang letih, pikiranku yang kusut, dan jiwaku yang gelisah, dan anugerahkanlah kepadaku istirahat yang tenang.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 27-29. 

Cilandak, 24 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, O