SABTU PEKAN PERTAMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 07“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:44-46).

Orang-orang Kristen saling mengingat dalam doa-doa mereka (Rm 1:9; 2Kor 1:11; Ef 6:8; Kol 4:3) dan dengan demikian mereka membantu dan bahkan membawa keselamatan bagi orang-orang yang mereka doakan (Rm 15:30; Flp 1:19). Namun doa yang mengungkapkan kesetiakawanan sejati adalah doa yang tidak hanya diperuntukkan bagi sesama orang Kristen warga jemaat, kawan atau sanak-saudara. Yesus menyatakannya dengan sangat jelas, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44); dan ketika menderita sengsara dan tergantung di kayu salib Yesus berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Di sini buah-buah kehidupan doa tampak sangat jelas. Doa membuat kita mampu untuk membawa masuk ke dalam pusat kehidupan kita, bukan saja orang-orang yang mencintai kita tetapi juga orang-orang yang membenci kita. Ini hanya mungkin kalau kita rela menjadikan musuh-musuh kita bagian dari diri kita sendiri dan dengan demikian mengubah mereka pertama-tama dalam hati kita sendiri.

Hal pertama yang harus kita lakukan kalau kita berpikir mengenai orang lain sebagai musuh kita adalah berdoa untuk mereka. Ini pasti tidak mudah. Ini menuntut suatu disiplin yang dapat membiarkan mereka yang membenci kita atau yang tidak kita senangi, masuk ke dalam pusat batin kita. Sulit untuk memberi tempat kepada orang yang membuat sulit hidup kita atau yang membuat kita kecewa atau sakit. Namun setiap kali kita mengalahkan perasaan terhadap musuh-musuh kita ini dan rela untuk mendengarkan jeritan orang-orang yang membenci kita, kita akan mengenal mereka sebagai sesama juga. Berdoa bagi musuh-musuh kita adalah saat di mana rekonsiliasi terjadi. Tidak mungkin membawa musuh-musuh kita ke hadapan Allah sementara kita masih terus membenci mereka. Kalau dilihat dalam terang doa, seorang diktator yang bengis atau seorang penganiaya yang jahat dapat dilihat bukan lagi sebagai sumber ketakutan, kebencian atau balas dendam; karena kalau kita berdoa kita berdiri di hadirat misteri agung Kebaikan Hati Ilahi. Doa mengubah musuh menjadi kawan dan dengan demikian menciptakan hubungan yang baru. Mungkin tidak ada doa yang lebih kuat daripada doa untuk musuh. Namun doa itu juga paling sulit karena paling bertentangan dengan kecenderungan hati kita. Inilah sebabnya tdak sedikit orang suci yang melihat doa bagi musuh sebagai ukuran kesucian seseorang.

Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kami (Luk 6:27-28).

Sabda ini tidak hanya mengungkapkan makna hakiki dari tindak bukan kekerasan, tetapi juga inti pewartaan Yesus. Seandainya ada orang yang bertanya, manakah kata-kata dalam Injil yang paling radikal, jelas jawabannya adalah, “Kasihilah musuhmu”. Kata-kata inilah yang dengan paling jelas menyatakan corak kasih yang diwartakan oleh Yesus. Dalam kata-kata ini dinyatakan jati-diri kehidupan sebagai murid Yesus. Kasih kepada musuh adalah ukuran hidup sebagai seorang Kristen.

DOA: Tuhan, pandanglah umat-Mu dengan penuh belaskasihan, dan nyatakanlah cinta-Mu kepada kami bukan sebatas pikiran dan gagasan, tetapi dalam pengalaman hidup kami. Kami dapat saling mencintai karena Engkau telah mencintai kami terlebih dahulu. Biarlah kami mengalami kasih-Mu itu sehingga kami mampu melihat berbagai macam cinta manusiawi sebagai pantulan cinta yang lebih agung, cinta yang tanpa syarat dan tanpa batas. Amin. 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 38-40. 

Cilandak, 28 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS