SENIN PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 01“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni”  (Luk 6:36-37).

Perintah Yesus, “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu murah hati” adalah suatu perintah untuk ambil bagian dalam kemurahan hati Allah sendiri. (Kemurahan hati, menerjemahkan kata compassion, yang berasal dari dua kata Latin pati dan cum yang berarti menderita bersama, berbela rasa, murah hati). Ia menuntut kita untuk membuka topeng ilusi pribadi kita yang diwarnai persaingan, untuk melepaskan cengkeraman kita terhadap keistimewaan-keistimewaan semu yang kita pakai untuk membangun jati-diri kita, dan untuk dimasukkan ke dalam persekutuan hidup dengan Allah yang hanya Ia kenal sendiri. Inilah rahasia kehidupan Kristen: menerima pribadi yang baru, identitas baru, yang tidak tergantung pada apa yang dapat kita capai, tetapi pada apa yang kita terima dengan rendah hati. Pribadi baru ini adalah buah dari keikutsertaan kita dalam kehidupan ilahi, dalam dan melalui Kristus. Yesus menghendaki agar kita menjadi milik Allah seperti Ia adalah milik Allah. Ia ingin agar kita menjadi anak-anak Allah seperti Ia adalah milik Allah. Ia ingin agar kita menjadi anak-anak Allah seperti Ia sendiri adalah Anak Allah. Ia ingin agar kita meninggalkan kehidupan yang lama, yang begitu penuh dengan ketakutan dan keraguan, serta menerima kehidupan baru, kehidupan dari Allah sendiri. Dalam dan melalui Kristus kita menerima identitas baru yang memungkinkan kita berkata, “Aku tidak sama dengan penghargaan yang dapat kukumpulkan melalui persaingan. Diriku adalah cinta yang telah kuterima dengan bebas dari Allah”. Ini membuat kita dapat berkata bersama Santo Paulus, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). 

Pribadi yang baru ini, yaitu pribadi Yesus Kristus, memungkinkan kita untuk bermurah hati seperti Bapa. Melalui kesatuan dengan-Nya, kita diangkat keluar dari suasana dan semangat bersaing dan dimasukkan ke dalam keutuhan ilahi. Dengan ikut ambil bagian dalam keutuhan pribadi yang tidak mengenal persaingan, kita dapat masuk ke dalam hubungan-hubungan yang baru dan penuh hati dengan sesama. Dengan menerima identitas dari Dia yang adalah pemberi segala kehidupan, kita dapat berada bersama dengan yang lain tanpa jarak atau ketakutan. Identitas yang baru ini, yang bebas dari keserakahan dan keinginan berkuasa, memungkinkan kita untuk masuk sepenuhnya dan tanpa syarat ke dalam penderitaan orang-orang lain sehingga kita dapat menyembuhkan orang sakit dan membawa yang mati kepada kehidupan. Kalau kita ambil bagian dalam kemurahan hati Allah, suatu cara hidup yang sama sekali baru terbuka bagi kita, yaitu cara hidup yang dapat kita lihat dalam kehidupan para rasul dan orang-orang Kristen yang terkenal, yang telah memberi kesaksian tentang Kristus selama berabad-abad. Kemurahan hati bukanlah bagian dari persaingan, seperti kemurahan hati yang kita ciptakan sendiri. Kemurahan hati adalah wujud dari suatu cara hidup baru, di mana membanding-bandingkan pribadi, permusuhan dan persaingan ditinggalkan secara bertahap.

+++++++

Kemurahan hati menuntut kita untuk pergi ke tempat ada luka, masuk ke tempat-tempat ada penderitaan, ikut serta dalam keterpecahan, ketakutan, kebingungan dan kecemasan. Kemurahan hati menantang kita untuk berteriak bersama mereka yang berada dalam penderitaan, berkabung bersama mereka yang kesepian, menangis bersama mereka yang mencucurkan air mata. Kemurahan hati menuntut kita untuk menjadi lemah bersama yang lemah, ringkih bersama dengan yang ringkih, tak berdaya bersama dengan yang tak berdaya. Murah hati berarti terlibat penuh dalam keadaan hidup manusia. Kalau kita memandang kemurahan hati dengan cara ini, menjadi jelas bahwa di dalamnya terkandung lebih daripada sekedar keramahan atau kelemah-lembutan yang biasa. Tidak mengherankan bahwa kemurahan hati yang dimengerti sebagai menderita bersama, seringkali menimbulkan penolakan yang mendalam atau bahkan protes dalam diri kita. Kita cenderung untuk mengatakan: Ini adalah penyiksaan diri, ini masokisme, ini kesenangan yang tidak wajar akan rasa sakit, ini keinginan yang tidak sehat. Kita perlu mengakui penolakan ini untuk menyadari bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang kita inginkan atau menarik bagi kita. Sebaliknya penderitaan adalah hal yang ingin kita hindari. Karena itu, kemurahan hati tidak terdapat di antara jawaban-jawaban kita yang paling wajar. Kita adalah orang-orang yang menghindari penderitaan dan kita memandang orang yang merasa tertarik akan penderitaan sebagai orang yang tidak normal, atau paling sedikit tidak biasa.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang kepada kami untuk menyatakan kemurahan hati dan kasih Bapa-Mu. Buatlah kami umat-Mu mampu memahaminya dengan seluruh hati, budi dan jiwa kami. Dan kepadaku ya Tuhan, hamba-Mu yang tiap-tiap kali jatuh, tunjukkanlah belas-kasihan-Mu yang tanpa batas. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 44-46. 

Cilandak, 2 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS