KAMIS PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 003“Aku, Tuhan yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan langkah-langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya” (Yer 17:10)

Tidak sulit untuk melihat bahwa kita semua mempunyai keinginan untuk menghasilkan sesuatu dalam dunia kita masing-masing. Ada yang berpikir dalam kerangka besar seperti misalnya mencita-citakan perubahan dalam tata susunan masyarakat. Yang lain sekurang-kurangnya ingin mendirikan rumah, menulis buku atau memenangkan suatu perlombaan. Ada pula yang merasa sudah cukup puas kalau dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi seseorang. Namun pada dasarnya kita semua menilai diri kita dengan ukuran sumbangan yang dapat kita berikan kepada kehidupan ini. Dan kalau kita sudah menjadi tua, kebahagiaan atau kesedihan kita ditentukan oleh banyak atau sedikitnya sumbangan yang kita berikan dalam membangun dunia kita dan sejarahnya …

Kalau kita mulai terlalu terikat oleh hasil-hasil pekerjaan kita, sedikit demi sedikit kita akan sampai pada pendapat yang keliru bahwa hidup adalah suatu papan tulis. Di situ orang mencatat prestasi yang kita hasilkan untuk mengukur nilai pribadi kita. Dan sebelum kita sadar sepenuhnya akan hal itu, kita sudah menjual diri kita kepada orang-orang yang memberikan gelar. Ini berarti bahwa kita bukan hanya di dunia, tetapi juga dari dunia. Lalu kita menjadi orang seperti yang dikehendaki oleh dunia. Kita disebut pandai karena orang memberikan gelar tinggi kepada kita. Kita disebut orang suka membantu karena orang lain berterima kasih kepada kita. Kita adalah orang yang baik, karena orang lain menyukai kita. Dan kita adalah orang penting karena orang lain sangat memperhitungkan kita. Pendek kata, kita berharga karena kita berhasil.

+++++++

Menghayati hidup Kristiani berarti hidup di dunia tetapi tidak dari dunia. Kebebasan batin seperti ini dapat berkembang dalam keheningan …

Hidup tanpa tempat hening, artinya hidup yang tidak terbangun di atas batin yang hening, dengan mudah dapat runtuh. Kalau kita terlalu mengandalkan hasil-hasil pekerjaan kita sebagai satu-satunya jalan untuk menampilkan jati-diri kita, kita akan menjadi sangat posesif dan defensif dan cenderung untuk melihat orang lain lebih sebagai musuh yang harus dijauhi daripada kawan yang dapat saling berbagi kehidupan.

Dalam keheningan, sedikit demi sedikit kita dapat melepaskan mimpi-mimpi yang menjadikan kita orang yang selalu siap dengan kuda-kuda, dan menyadari dalam pusat batin kita bahwa yang menentukan jati-diri kita bukanlah hasil-hasil yang dapat kita rebut, tetapi anugerah-anugerah yang telah kita terima. Dalam keheningan, kita dapat mendengarkan suara Dia yang sudah berbicara kepada kita sebelum kita dapat mengucapkan apa pun; yang sudah menyembuhkan kita sebelum kita dapat menawarkan pertolongan; yang sudah membebaskan kita sebelum kita dapat membebaskan orang lain; yang sudah mencintai kita sebelum kita dapat menyatakan cinta kita kepada orang lain. Dalam keheningan itulah kita menemukan bahwa berada (catatan penyalin: keberadaan) kita lebih penting daripada memiliki, dan bahwa diri kita mempunyai nilai jauh lebih tinggi daripada hasil-hasil yang dapat kita capai. Dalam keheningan, kita melihat bahwa hidup kita bukanlah milik yang harus kita pertahankan, melainkan anugerah yang harus kita bagikan. Di situ pulalah kita dapat melihat bahwa kata-kata penghiburan yang kita ucapkan adalah anugerah yang diberikan kepada kita; bahwa kasih yang dapat kita nyatakan adalah bagian dari kasih yang jauh lebih agung; dan bahwa hidup baru yang dapat kita lahirkan bukanlah milik yang harus kita pertahankan melainkan anugerah yang harus kita terima dengan tangan terbuka.

Dalam keheningan kita menjadi sadar bahwa nilai hidup kita tidak sama dengan kebergunaan kita.

DOA: Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan atau berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Selidikilah aku ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku dan tuntunlah aku di jalan yang kekal. (Mzm 139:1-3,23-24) 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 53-55. 

Cilandak, 5 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS