KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 6 Maret 2015) 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMEN“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46) 

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mat 21:42; Mzm 118:22).

Sepanjang sejarah penyelamatan (keselamatan), kita lihat bahwa banyak “batu” telah ditolak, namun kemudian justru menjadi “batu penjuru” yang dipercaya dan dicintai. Manakala kita berpikir tentang “batu penjuru”, kita mungkin berpikir tentang tokoh-tokoh seperti Yusuf, Daud, atau Yeremia. Kita mungkin berpikir mengenai orang-orang kudus seperti Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] atau Santa Teresa Benedicta dr Salib (Edith Stein) [1891-1942]. Tentunya kita juga berpikir tentang Yesus sendiri. Tetapi, bagaimana dengan diri kita sendiri (anda dan saya)? Pernahkah kita berpikir tentang diri kita sendiri sebagai sebuah batu penjuru?

Saudara-saudara Yusuf menolak dia dan menjualnya sehingga menjadi budak di Mesir (lihat Kej 37:23-28). Namun kerendahan hati Yusuf dan kemauannya untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah memungkinkan dirinya untuk bangkit keluar dari jeratan perbudakan dan menjadi batu penjuru yang menyelamatkan keluaganya dan seluruh Mesir.

FA NGPBROL DENGAN BURUNG2Karena dia berupaya untuk menghayati hidup Injili, Santo Fransiskus ditolak dan tidak diwarisi apa-apa oleh ayahnya (catatan: ayahnya adalah saudagar kaya di Assisi). Namun karena ketergantungannya pada Allah, Fransiskus mampu untuk mengabdikan hidupnya guna menyebarkan sabda Allah dengan penuh sukacita. Cinta kasihnya kepada Allah menolong dirinya mengatasi penolakan dari keluarganya (kecuali ibundanya) dan menjadi batu penjuru bagi Gereja pada abad pertengahan.

Dalam situasi-situasi ini dan banyak lagi, bukan penolakanlah yang crucial, melainkan kerendahan hati dan ketekunan dan ketetapan hati dari orang-orang yang ditolak. Inilah yang membuat orang-orang itu menjadi batu-batu penjuru iman dan saksi-saksi Injil.

Nah, apakah kita (anda dan saya) siap menjadi batu penjuru? Barangkali kita berpikir bahwa Allah tidak dapat menggunakan kita karena kita tidak cukup baik, tidak pintar-pintar amat, atau tidak cukup kaya. Akan tetapi, sesungguhnya kita tidak perlu mempunyai kekuasaan atau keberanian untuk melayani Allah. Yang kita butuhkan adalah kerendahan hati dan juga mau dan mampu untuk diajar. Atau, barangkali kita takut mengalami penolakan, seperti Yusuf dan Santo Fransiskus dari Assisi? Namun kita juga harus mengingat bahwa Allah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah memperkenankan kita dicobai melampaui kemampuan kita untuk bertahan – dengan catatan kita bersandar pada-Nya dan kuat-kuasa-Nya (lihat 1Kor 10:13).

Saudari dan Saudaraku, dengan penuh keyakinan bahwa Allah senantiasa menyediakan segala kebutuhan kita dan dipenuhi hasrat untuk ikut membangun Gereja-Nya, marilah kita menaruh hidup kita di hadapan Tuhan Yesus dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin mengabdikan hidup kita untuk upaya memajukan Kerajaan-Nya di dunia ini.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Buatlah diriku seperti Engkau, sebuah pilar iman bagi orang-orang di sekelilingku. Aku ingin agar senantiasa mau bergantung pada-Mu. Bukalah mata dan telingaku, sehingga dengan demikian aku dapat lebih waspada guna menanggapi panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “BATU YANG DIBUANG TELAH MENJADI BATU PENJURU”  dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 37:3-4,12-13,17-28), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH YUSUF BIN YAKUB” (bacaan untuk tanggal 9-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 3 Maret 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS