SABTU PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

640px-Rembrandt_Harmensz_van_Rijn_-_Return_of_the_Prodigal_Son_-_Google_Art_Project

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia”  (Luk 15:18-20)

Ini adalah kisah mengenai berbalik kembali. Setiap kali saya semakin menyadari pentingnya berbalik kembali. Hidup saya menjauh dari Allah. Saya harus kembali … Berbalik kembali adalah perjuangan sepanjang hidup.

Saya tertarik pada kembalinya si anak itu karena yang mendorongnya adalah kepentingannya sendiri. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan! Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku”. Ia tidak kembali karena rasa cintanya yang baru kepada ayahnya. Bukan, ia kembali sekedar supaya tidak mati kelaparan. Ia sadar bahwa jalan yang telah ia pilih ternyata membawanya kepada kematian. Kembali kepada bapanya adalah perlu agar ia tetap hidup. Ia sadar bahwa telah berdosa, namun kesadaran ini dirasakan karena dosa telah membawanya ke ambang kematian.

Saya terkesan melihat bahwa bapanya tidak menuntut motivasi yang lebih tinggi. Cintanya begitu utuh dan tanpa syarat dan begitu saja ia menerima anaknya kembali ke rumah.

Gagasan ini sangat membesarkan hati. Allah tidak menuntut hati yang murni sebelum menyambut dan memeluk kita. Juga seandainya kita kembali hanya karena jalan yang sudah kita pilih sendiri ternyata tidak membawa kebahagiaan. Allah tetap akan menerima kita kembali. Juga seandainya kita kembali karena hidup sebagai orang Kristen ternyata memberikan rasa damai yang lebih dalam daripada hidup sebagai hidup sebagai orang kapir, Allah tetap akan menerima kita. Seandainya kita kembali hanya karena dosa-dosa kita tidak dapat memberikan kepuasan seperti kita bayangkan, Allah tetap akan menerima kita. Seandainya kita kembali karena ternyata saya tidak sanggup melakukannya sendiri, Allah akan menerima kita. Cinta Allah tidak menuntut supaya kita menjelaskan alasan kita kembali. Allah bergembira karena melihat kita kembali ke rumah dan rela memberikan semua yang kita inginkan agar tetap tinggal di rumah.

Dalam batinku aku melihat lukisan Rembrant yang berjudul “Kembalinya Si Anak Hilang”. Bapa yang sudah tua dan matanya redup menyambut anaknya yang kembali, memeluknya dalam cinta tanpa syarat … Tampaknya ia hanya memikirkan satu hal: Ia sudah kembali, dan saya begitu gembira karena ia berada dekat padaku lagi”.

+++++++

Suara keputusasaan berkata, “Saya berdosa dan berdosa lagi. Sesudah berkali-kali saya mengucapkan janji kepada diri saya sendiri dan kepada orang lain bahwa saya akan hidup lebih baik, ternyata saya kembali lagi ke tempat-tempat yang gelap. Sudah bosan saya berusaha untuk mengubah diri. Saya sudah mencobanya bertahun-tahun. Ternyata saya tidak berhasil dan tidak akan pernah berhasil. Rasanya lebih baik kalau saya pergi, dilupakan orang, hilang ditelan kematian”.

Suara ini aneh tetapi menarik karena tampaknya dapat menghapus segala ketidakpastian dan mengakhiri seluruh perjuangan. Dengan sangat jelas suara itu berpihak kepada kegelapan dan menawarkan yang pintas.

Yesus datang untuk membuka telinga kita agar dapat mendengar suara yang berkata, “Aku adalah Allahmu. Aku membentukmu dengan tangan-Ku dan Aku mencintai ciptaan-Ku. Aku mencintaimu dengan cinta yang tidak kenal batas, karena Aku mencintaimu sebagaimana Aku dicintai. Jangan melarikan diri dari pada-Ku. Kembalilah kepada-Ku – bukan hanya sekali, dua kali tetapi selalu dan setiap kali. Engkau adalah anak-Ku. Bagaimana mungkin engkau ragu-ragu bahwa Aku akan menerimamu lagi, memelukmu, menciummu dan membelai-belaimu? Aku adalah Allahmu – Allah yang berbelas kasih dan murah hati, Allah yang mengampuni dan mencintai, Allah yang lemah lembut dan baik hati. Janganlah mengatakan bahwa Aku tidak dapat tahan melihatmu lagi, bahwa tidak ada jalan untuk kembali. Itu semua tidak benar. Aku sangat merindukan agar engkau dekat pada-Ku. Aku mengenal seluruh pikiranmu. Aku mendengar semua yang kaukatakan. Aku melihat segala yang kaukerjakan. Dan Aku mencintaimu karena engkau agung, diciptakan serupa dengan gambar-Ku sendiri dan merupakan ungkapan cinta-Ku yang paling dalam. Jangan mengadili dirimu sendiri. Jangan menghukum dirimu sendiri. Jangan menolak dirimu sendiri. Biarlah cinta-Ku menyentuh sudut-sudut hatimu yang paling tersembunyi dan menyatakan kepada dirimu keagunganmu sendiri. Engkau sudah tidak melihat lagi keagungan itu. Namun dalam terang kerahiman-Ku engkau akan melihatnya kembali. Datanglah, Aku akan mengusap air matamu dan membisikkan di telingamu, “Aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu”.

Inilah suara yang diinginkan Yesus untuk kita dengar. Inilah suara yang memanggil kita agar kita selalu kembali kepada Dia yang telah menciptakan kita dalam cinta dan berkenan menciptakan kita kembali dalam kerahiman.

DOA: Tuhan, Tuhanku, bantulah aku agar mampu mendengarkan suara-Mu dan mengalami kerahiman-Mu. 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 59-61. 

Cilandak, 7 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS