RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

hqdefault“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hiilang dari ingatanmu, seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anamu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul 4:9). 

Dengan mengenangkan kita masuk ke dalam hubungan dengan Kristus yang memperkaya dan meneguhkan. Dalam sabda perpisahan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu … Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:7,13). Yesus menyatakan kepada sahabat-sahabat-Nya yang paling dekat, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka dapat tinggal dalam persatuan dengan diri-Nya, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka akan memahami seutuhnya hal-hal yang telah mereka saksikan.

Mereka mendengarkan sabda-Nya, melihat-Nya di gunung Tabor. Mereka mendengar Ia berbicara mengenai wafat dan kebangkitan-Nya, tetapi mata dan telinga mereka tetap tinggal tertutup dan tidak mengerti. Roh yang adalah Roh-Nya belum datang. Oleh karena meskipun mereka melihat dan mendengar, menyentuh dan meraba, tetap saja mereka jauh. Baru kemudian setelah Ia pergi, Roh-Nya dapat menyatakan-Nya kepada mereka. Ketika Ia tidak ada di antara mereka lagi, kehadiran yang baru dan lebih pribadi menjadi mungkin. Itulah kehadiran yang memperkaya dan meneguhkan di tengah-tengah penderitaan dan menciptakan kerinduan untuk melihat-Nya kembali. Rahasia agung perwahyuan ialah bahwa Allah menjadi satu dengan kita tidak hanya dengan kedatangan Kristus, tetapi juga dengan kepergian-Nya. Sungguh benar, dalam ketidakhadiran Kristus kesatuan kita dengan Dia menjadi begitu erat, sampai kita dapat berkata bahwa Ia tinggal dalam diri kita, menyebut-Nya makanan dan minuman kita dan mengalami kehadiran-Nya dalam pusat batin kita.

Ini bukan sekedar gagasan teoritis, tetapi sunguh nyata dalam hidup orang-orang seperti Dietrich Bonhoeffer dan Alfred Delp. Ketika mereka berada di penjara Nazi, menunggu hari kematian mereka, mereka mengalami kehadiran Kristus di tengah-tengah ketidakhadiran-Nya. Bonhoeffer menulis, “Allah yang  menyertai kita adalah Allah yang meninggalkan kita (Mrk 15:34) … Di hadapan Allah dan bersama dengan Allah, kita hidup tanpa Allah”. Dengan demikian kenangan akan Yesus Kristus bukan hanya sekedar mengingat kembali peristiwa penyelamatan di masa lampau. Kenangan itu mendatangkan kehidupan, meneguhkan dan memperkaya kita dalam peziarahan hidup kita sekarang ini. Kenangan itu menjadi jangkar di tengah-tengah pergulatan hidup keseharian kita.

+++++++

Dalam diri Yesus sabda dan karya adalah satu, tidak terpisahkan. Sabda-Nya tidak hanya berbicara mengenai perubahan, penyembuhan, kehidupan baru tetapi mewujudkannya. Dalam arti ini Yesus adalah benar-benar Sabda yang menjadi daging. Dalam Sabda itu segala sesuatu diciptakan dan oleh Sabda itu segala sesuatu diciptakan kembali.

Hidup suci berarti hidup yang tidak memisahkan kata dan karya. Kalau saya sungguh-sungguh berusaha untuk menghayati kata-kata yang saya ucapkan dalam hidup saya, kata-kata saya akan menjadi tindakan dan kalau demikian setiap kali saya berbicara mukjizat akan terjadi.

DOA: Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah kami bersyukur dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku hendak bermazmur bagi Allah Yakub (Mzm 75:1,9).

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 71-73. 

Cilandak, 11 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS