KAMIS PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HenriNouwen“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan”  (Luk 11:23). 

Hidup rohani adalah suatu anugerah. Hidup itu adalah anugerah Roh Kudus, yang memasukkan kita ke dalam kerajaan cinta Allah. Namun itu tidak berarti bahwa kita hanya menunggu secara pasif sampai anugerah itu diberikan kepada kita. Yesus mengatakan agar kita mengarahkan hati kita pada kerajaan itu. Mengarahkan hati tidak hanya mengandaikan adanya cita-cita yang jelas, tetapi juga ketetapan hati yang kuat. Hidup rohani menuntut usaha manusia. Kekuatan-kekuatan yang menarik kita kembali kepada kehidupan yang ditandai kecemasan, tidak mudah diatasi.

Yesus bersabda, “Alangkah sukarnya … masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10:23). Dan untuk meyakinkan kita agar kita berusaha keras, Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24).

Dengan demikian kita sampai pada yang disebut disiplin hidup rohani. Hidup rohani tanpa disiplin tidaklah mungkin. Disiplin adalah sisi lain dari hidup sebagai murid (= Murid dalam bahasa Latin adalah discipulus, mempunyai akar kata yang sama dengan disiplin). Disiplin rohani membuat kita semakin peka terhadap suara Allah yang lirih dan lembut. Nabi Elia tidak berjumpa dengan Allah dalam angin yang besar atau gempa bumi atau api melainkan dalam suara yang lembut, dalam angin sepoi-sepoi basa (1Raj 19:9-13). Melalui disiplin hidup rohani kita dapat memberi perhatian kepada suara yang lirih itu dan bersedia untuk menanggapinya kalau kita mendengarnya.

+++++++

Atas dasar semua yang saya bicarakan mengenai hidup kita yang sibuk dan penuh, jelas bahwa biasanya kita diganggu oleh suara-suara baik dari luar maupun dari dalam yang begitu gaduh, sehingga sulit bagi kita untuk mendengarkan Allah kalau Ia berbicara kepada kita. Seringkali kita menjadi tuli, tidak tahu kalau Allah berbicara kepada kita dan tidak mengerti ke mana Ia memanggil kita. Kalau demikian hidup kita menjadi absurd, suram. Dalam kata absurd terkandung kata surdus, yang berarti tuli. Hidup rohani menuntut disiplin karena kita perlu belajar mendengarkan Allah, yang selalu berbicara tetapi jarang kita dengarkan. Namun kalau kita belajar mendengarkan, hidup kita akan menjadi hidup yang taat (= dalam bahasa Latin obedire). Dalam pengertian taat itu terkandung itu terkandung unsur mendengarkan (= dalam bahasa Latin audire). Disiplin rohani itu perlu agar kita sedikit demi sedikit dapat bergerak dari hidup yang suram menuju hidup yang taat, dari kehidupan yang selalu sibuk dan bising menuju hidup yang memberi tempat pada keheningan batin; di situ kita dapat mendengarkan Allah kita dan mengikuti tuntutan-Nya. Hidup Yesus adalah hidup yang taat. Ia selalu mendengarkan Bapa, penuh perhatian terhadap suara-Nya dan siap mengikuti tuntutan-Nya. Seluruh hidup Yesus adalah mendengarkan. Inilah yang disebut doa sejati: mendengarkan Allah dengan penuh perhatian. Inti seluruh doa sebenarnya adalah mendengarkan, berdiri di hadirat Allah dengan sikap taat.

Kalau demikian, disiplin rohani adalah usaha gigih untuk menciptakan ruangan baik di dalam maupun di luar diri kita, tempat kita dapat mempraktekkan ketaatan. Dengan disiplin rohani kita tidak membiarkan dunia memenuhi hidup kita sedemikian rupa sampai tidak ada tempat lagi untuk mendengarkan. Disiplin rohani membuat kita bebas untuk berdoa, atau mungkin lebih tepat, membiarkan Roh Allah berdoa dalam diri kita.

DOA: Allah yang Mahakuasa, bantulah kami, agar kami dapat mengikuti panggilan rahmat-Mu, dan mempersiapkan diri lebih tekun untuk merayakan misteri Paska yang sudah semakin mendekat.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 74-76. 

Cilandak, 12 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS