MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 13 Maret 2015)

OFM: Peringatan B. Ludovikus dr Casoria, Imam 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Lalu seorang  ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Ahli Taurat ini datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang seringkali merupakan topik perdebatan dalam sekolah-sekolah para rabi. Dalam Yudaisme terdapat kecenderungan ganda. Ada kecenderungan untuk meluaskan hukum secara tanpa batas ke dalam ratusan dan bahkan ribuan peraturan. Di sisi lain ada juga kecenderungan untuk mencoba merumuskan hukum itu ke dalam satu kalimat, sebuah pernyataan umum yang akan menjadi ringkasan dari keseluruhan pesan. Hillel sekali diminta oleh seorang pengikut baru untuk mengajarkan kepadanya seluruh hukum sementara dia berdiri dengan satu kaki saja. Jawaban Hillel: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan pada sesama. Ini adalah seluruh hukum, selebihnya adalah tafsiran. Pergilah dan belajarlah.” Simon sang Budiman telah berkata, “Dunia berdiri di atas tiga hal – atas hukum, atas penyembahan, dan atas karya-karya kasih.”

Sammlai telah mengajarkan bahwa Musa menerima 613 aturan/ajaran di Gunung Sinai, 365 sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan 248 sesuai dengan jumlah generasi manusia. Daud mengurangi jumlah 613 itu menjadi 11 saja dalam Mazmur 15:

TUHAN (YHWH), siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

  1. Dia yang berlaku tidak bercela,
  2. yang melakukan apa yang adil,
  3. dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
  4. yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya,
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
  7. yang memandang hina (terjemahan LAI: orang yang tersingkir) bajingan (Inggris RSV: reprobate),
  8. tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
  9. yang berpegang teguh pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,
  11. dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

12Yesaya mengurangi semua itu menjadi 6 aturan/ajaran (baca sendiri: Yes 33:15); Mikha mengurangi 6 aturan/ajaran ini menjadi 3 (baca sendiri: Mi 6:8); sekali lagi Yesaya mengurangi 3 aturan/ajaran menjadi 2 (baca sendiri: Yes 56:1); dan akhirnya Habakuk datang dengan satu saja aturan/ajaran: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:4).

Di sini kita dapat melihat kecerdikan/kelihayan dari sekolah atau tradisi para rabi. Dalam hal ini ada dua arus pemikiran, yang pertama adalah mereka yang percaya adanya hal-ikhwal hukum yang lebih ringan dan ada pula hal-ikhwal hukum lebih berat yang sangat-sangat penting untuk dipahami. Di lain pihak ada yang berpandangan bahwa setiap prinsip – betapa kecil sekalipun – sama-sama mengikatnya, dan percobaan untuk menimbang-nimbang pentingnya prinsip-prinsip itu secara relatif sungguh berbahaya. Nah, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus sesungguhnya mengajukan pertanyaan tentang suatu isu yang hidup dalam pemikiran di kalangan Yahudi dan diskusi yang terkait.

Untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat itu, Yesus mengambil dua perintah besar dan menggabungkan kedua perintah itu.

  • “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4).

Kalimat ini adalah kredo nyata dari Yudaisme dan dinamakan syema (shema), kata kerja dalam bahasa Ibrani yang berarti mendengar. Keseluruhan kalimat disebut syema, diambil dari kata pertama dalam kalimat. Kalimat ini digunakan dalam tiga hal.

  1. Setiap kebaktian di sinagoga senantiasa dimulai dengan kalimat syema ini. Syema yang lengkap terdapat dalam Ul 6:4-9, 11:13-21; Bil 15:37-41. Ini adalah deklarasi bahwa Allah adalah satu-satunya Allah, dasar dari monotheisme Yahudi.
  2. Teks syema dimasukkan ke dalam kotak-kotak kecil yang terbuat dari kulit (phylacteries) yang dikenakan oleh orang Yahudi saleh pada dahinya dan pergelangan tangannya pada saat dia berdoa. Selagi dia berdoa, dia mengingatkan dirinya akan kredonya. Kewajiban untuk mengenakan kotak-kotak kecil kulit itu dapat dilihat dalam Ul 6:8.
  3. Teks syema juga dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil berbentuk silindris yang dinamakan Mezuzah yang dipasang pada pintu setiap rumah orang Yahudi dan juga pada pintu setiap ruangan yang ada dalam rumah itu, guna mengingatkan orang Yahudi akan Allah ketika dia ke luar dan pada waktu dia masuk.
  • “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Dalam hal ini Yesus melakukan sesuatu yang inovatif. Dalam konteksnya yang asli, yang dimaksudkan dengan “sesama manusia” adalah sesama Yahudi. Jadi samasekali tidak ada urusannya dengan orang non-Yahudi (baca: kafir), yang malah boleh-boleh saja dibenci. Yesus mengartikan “sesama” tanpa kualifikasi dan tanpa batas-batas tertentu. Jadi, Yesus mengambil hukum lama dan mengisinya dengan suatu makna baru.

Hal baru yang dilakukan Yesus adalah untuk menaruh dua perintah secara bersama-sama. Tidak pernah ada rabi mana pun yang pernah melakukan hal seperti yang dilakukan Yesus ini. Memang sekitar tahun 100 SM, pernah disusun serangkaian traktat (risalat) yang dinamakan “Warisan 12 Bapa bangsa” di dalam mana seorang penulis tak dikenal menaruh ke dalam mulut para bapa bangsa tersebut beberapa ajaran yang sangat baik. Dalam “Warisan Isakhar” (5:2) kita membaca: “Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu, berbela-rasalah terhadap orang-orang miskin dan lemah.” Dalam warisan yang sama (7:6) kita membaca: “Aku mengasihi Tuhan, demikian pula setiap orang dengan segenap hatiku.”  Dalam “Warisan Dan” (5:3) kita membaca: “Kasihilah Tuhan sepanjang hidupmu, dan kasihilah satu sama lain dengan suatu hati yang benar.”

Childrens-Home-of-the-Immaculate-Heart-babyNamun demikian, tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang menempatkan kedua perintah secara bersama-sama dan membuat dua perintah itu menjadi satu. Agama menurut Yesus adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Menurut Dia jalan satu-satunya seseorang dapat membuktikan bahwa dia mengasihi Allah ialah dengan menunjukkan bahwa dia mengasihi manusia sesamanya.

Ahli Taurat menerima dengan baik jawaban Yesus itu dan dia juga mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya (Mrk 12:32-33). Dalam hal ini ahli Taurat itu berada dalam tingkat tertinggi pemikiran umat Yahudi. Berabad-abad sebelumnya Samuel berkata, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1Sam 15:22). Hosea telah mendengar Allah bersabda: “… Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” (Hos 6:6).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa senantiasa lebih mudahlah untuk membiarkan segala macam rituale lahiriah menggantikan kasih yang sejati. Selalu lebih mudahlah membuat penyembahan sejati menjadi soal membangun Gereja daripada kehidupan secara menyeluruh. Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37), imam dan orang Lewi dapat melewati seorang Yahudi yang babak belur terkapar di jalan karena kedua “pejabat” agama itu berpandangan bahwa menjalankan “rituale keagamaan” di Bait Allah adalah jauh lebih penting daripada memikirkan “nasib” sesamanya yang baru “dikerjain”  oleh para pembegal di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Nah ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sudah melampaui para rekan sezamannya. Itulah sebabnya mengapa dia bersikap positif penuh simpati terhadap sang Rabi dari Nazaret.

Kita dapat membayangkan adanya pandangan penuh kasih pada mata Yesus ketika Dia berkata kepada ahli Taurat itu: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34).

Sumber: William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MARK, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 (Revised Edition), pages 292-297.

DOA: Bapa surgawi, jikalau aku pada saat ini mengatakan bahwa aku mengasihi Engkau, tetapi aku membenci saudaraku, maka aku adalah seorang pendusta. Karena jika aku tidak mengasihi saudaraku yang kelihatan tak mungkinlah bagiku untuk mengasihi Engkau yang tidak kelihatan (1Yoh 4:20). Biarlah Roh-Mu menggerakkan hatiku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat semakin serupa dengan Guruku – Yesus Kristus – sehingga mampu melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHASETIA” (bacaan tanggal 13-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAKASIH DAN MAHAPENGAMPUN” (bacaan tanggal 8-3-13)  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH”  (bacaan tanggal 16-3-12) dan “KASIH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 28-3-14) keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. Juga tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG PALING UTAMA?” (bacaan tanggal 16-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 25 Maret 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS