SELASA PEKAN KEEMPAT PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

downloadKemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Engkau telah sembuh; janganlah berbuat dosa lagi” (Yoh 5:14). 

Doa itu menyembuhkan. Bukan hanya jawabannya. Kalau kita melepaskan semangat bersaing kita dengan Allah dan menyerahkan diri seutuhnya kepada-Nya, tanpa tanggung-tanggung, tanpa menahan sesuatu pun untuk diri kita sendiri, lalu kita akan mengenal kasih Allah terhadap kita dan mengalami betapa kita benar-benar aman dalam pangkuan-Nya. Sekali kita sadar lagi bahwa Allah tidak menolak kita, tetapi memegang kita supaya tetap tinggal dekat pada diri-Nya kita akan menemukan kembali kegembiraan hidup, meskipun mungkin Allah menuntun hidup kita ke jurusan yang lain dibandingkan dengan yang kita rencanakan sendiri.

+++++++

Saya tidak ingat lagi mengapa, tetapi suatu kritik yang biasa dan beberapa hal kecil yang menjengkelkan saya di tempat kerja saya, cukup membuat saya merasa sangat terpukul dan menjadikan saya muram. Berbagai perasaan bermusuhan terpancing keluar, menjalin suatu rangkaian perasaan perasaan pahit dan membuat saya menjadi semakin sakit hati. Bukan hanya itu, perasaan itu lalu menyusup masuk juga ke dalam masa lampau saya, pekerjaan saya dan orang-orang yang masuk dalam ingatan saya. Namun syukur bahwa saya mengalami kejatuhan semacam itu dan merasa heran sendiri karena hal-hal yang begitu kecil sudah dapat membuat saya kehilangan rasa damai dan cakrawala hidup yang lebih luas. Betapa ringkih sebenarnya diri saya.

Suasana tempat ini yang terbangun oleh orang-orang yang mengkhususkan diri untuk berdoa, menghalangi saya untuk mengungkapkan diri, menjadi marah dan meledak. Saya dapat duduk dan merasakan betapa cepat ruangan kecil tempat kedamaian yang kosong dalam hati saya terisi lagi oleh batu-batu dan sampah yang dilempar dari berbagai tempat.

Sulit untuk berdoa dalam suasana hati seperti itu. Namun selama doa sesudah bekerja, ketika kami berdiri di luar masih mengenakan pakaian kerja yang kotor, kami membaca: “Adakah di antaramu yang sedang berada dalam kesulitan? Semestinya ia berdoa.” Sungguh, doa adalah satu-satunya jalan untuk membersihkan hati saya dan menciptakan kembali ruangan batin itu. Kalau ruangan batin itu ada, rasanya saya dapat menampung berbagai macam sikap orang lain di dalamnya, tanpa merasa kecewa. Kalau saya merasakan adanya ruangan batin yang hening itu, saya dapat berdoa bagi bagitu banyak orang lain dan merasakan hubungan yang sangat dekat dengan mereka. Di situ rasanya ada cukup tempat untuk beribu-ribu orang yang sedang menderita di penjara atau di gurun Afrika Utara. Kadang-kadang saya merasa hati saya dapat memberi tempat kepada orangtua saya yang sedang berada di Indonesia dan kawan-kawan saya yang berada di Los Angeles, atau merangkum jarak antara penjara-penjara di Chili sampai ke paroki-paroki di Brooklyn.

Sekarang saya tahu, bahwa bukan saya yang berdoa tetapi Roh Allah yang berdoa dalam diri saya. Sungguh, kalau kemuliaan Allah bersemayam dalam diri saya, tidak ada sesuatu pun yang terlalu jauh, terlalu menyakitkan, terlalu asing atau terlalu dekat, yang tidak dapat diresapi atau dibarui oleh sentuhan-Nya. Setiap kali aku merasakan kemuliaan Allah yang ada dalam diri saya dan memberinya ruangan untuk menyatakan diri-Nya kepada saya, segala macam pengalaman manusiawi dapat dibawa ke sana, dan segala sesuatu akan menjadi baru. Kadang-kadang saya menyadarinya saja: pasti Allah mendengarkan doa saya. Ia sendiri berdoa dalam diri saya dan menyentuh seluruh dunia dengan kasih-Nya, sekarang dan di tempat ini.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengampuni dosa orang lumpuh sebelum menyembuhkannya. Aku berdoa semoga masa Prapaska ini membuatku semakin sadar akan kehadiran-Mu yang memberikan pengampunan dalam hidupku, serta tidak cemas memikirkan diri agar dapat tampil di panggung dunia ini. Biarlah aku mengenal-Mu dalam lubuk hatiku yang terdalam, di situ Engkau bersemayam dan memberikan kesembuhan. Biarlah aku mengalami kehadiran-Mu dalam batinku, dari situ Engkau mengajar dan menuntun hidupku. Biarlah aku mengenal-Mu sebagai saudaraku, yang tidak memperhitungkan apa pun, termasuk dosa-dosaku yang paling besar untuk menjatuhkan aku. Singkirkanlah segala macam rasa takut, curiga, dan keraguan yang dapat menghalangi diriku untuk sujud di hadapan-Mu. Anugerahkanlah keberanian dan kemerdekaan untuk tampil seadanya di dalam cahaya terang kehadiran-Mu, sambil mempercayakan diri kepada kemurahan hati-Mu yang tak mengenal batas.

Aku sadar betapa besar hambatan yang ada dalam diriku, berapa cepat aku memilih kegelapan, bukan cahaya. Namun aku juga tahu bahwa Engkau terus-menerus memanggil aku berjalan menuju terang-Mu. Di situ aku tidak hanya dapat melihat dosa-dosaku tetapi juga wajah-Mu yang memancarkan kasih setia. Sertailah aku setiap saat dalam hidupku.

Pujian dan kemuliaan bagi-Mu, sekarang dan selamanya. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 88-91. 

Cilandak, 17 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS