JUMAT PEKAN KEEMPAT PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

9780824517687_p0_v1_s260x420“Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”  (Yoh 7:28-29).

Persahabatan dengan Yesus tidak berarti kesediaan untuk menderita sebanyak mungkin, melainkan kerelaan untuk mendengarkan suara kasih Allah tanpa takut, bersama Dia …

Kita seringkali tergoda untuk menjelaskan penderitaan sebagai kehendak Allah. Penjelasan seperti ini tidak hanya dapat mengecewakan atau membuat orang marah, tetapi juga salah. Kehendak Allah bukanlah cap yang dapat diberikan pada keadaan-keadaan yang tidak membahagiakan. Allah ingin memberikan kegembiraan bukan kemalangan, damai bukan perang, kesembuhan bukan penderitaan. Karena itu kita harus mau bertanya kepada diri kita sendiri, apakah di tengah-tengah kemalangan dan penderitaan kita dapat melihat kehadiran Allah yang mencintai.

Kalau kita merasakan bahwa mendengarkan dengan taat membawa kita kepada sesama kita yang menderita, kita dapat pergi menjumpai mereka dengan keyakinan yang membahagiakan yaitu bahwa kasihlah yang membawa kita ke sana. Kita bukanlah pendengar-pendengar yang baik karena kita takut jangan-jangan ada sesuatu yang lain, tidak hanya cinta, dalam diri Allah. Ini tidak begitu aneh, karena kita jarang mengalami kasih yang tidak diwarnai noda iri hati, dendam, pembalasan atau bahkan rasa benci. Seringkali kita melihat kasih dibungkus oleh batas-batas dan syarat-syarat. Kita cenderung untuk meragukan ha-hal yang muncul di hadapan kita sebagai kasih dan selalu berjaga-jaga dan bersiap-siap untuk merasa kecewa …

Oleh karena itu sulit bagi kita untuk sungguh mendengarkan atau taat begitu saja. Namun Yesus sungguh-sungguh mendengarkan dan taat karena hanya Dia mengetahui kasih Bapa. “Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah. Dialah yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa” (Yoh 6:46). “Dia tidak kamu kenal, tetapi Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia …” (Yoh 7:28-29).

Yesus datang untuk mengikutsertakan kita ke dalam ketaatan ilahi-Nya. Ia ingin membawa kita kepada Bapa sehingga kita dapat menikmati kasih mesra yang sama dengan yang Ia rasakan. Kalau kita mulai mengakui bahwa dalam dan melalui Yesus, kita dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah dan untuk mendengarkan Bapa yang penuh cinta dengan kepercayaan dan penyerahan diri yang utuh, kita juga akan melihat bahwa kita diundang untuk bermurah hati, seperti Yesus sendiri. Kalau kita benar-benar taat, kita juga dapat masuk ke dalam dunia dan merasakan penderitaan dunia sampai sedalam-dalamnya, sambil menyatakan kemurahan hati Allah dan dengan demikian memberikan kehidupan baru kepada sesama.

+++++++

Dunia tempat kita hidup adalah dunia yang penuh dengan penderitaan. Tampaknya Yesus semakin menjauhkan diri dari dunia kita itu. Bagaimana mungkin saya dapat percaya bahwa di dunia ini kita selalu ditawari untuk menerima Roh? Namun saya berpikir, justru inilah yang disebut kabar pengharapan. Allah tidak menarik diri. Ia mengutus Anak-Nya untuk hidup sebagai manusia seperti kita dan Anak mengutus Roh-Nya yang menuntun kita masuk ke dalam hidup ilahi-Nya. Di tengah-tengah dunia dan umat manusia yang terluka dan hancur ini Roh Kudus, Roh Kasih menyatakan diri-Nya. Namun dapatkah kita mengenali kehadiran-Nya?

DOA: Allah, Bapa yang berbelas-kasih, Engkau mengetahui kelemahan dan kecemasan kami. Namun semakin kami lemah, semakin kuat kami rasakan pertolongan-Mu. Bantulah kami agar kami dapat menerima dengan hati gembira dan rasa syukur saat-saat rahmat yang Kauberikan kepada kami, dan menjadi saksi-saksi karya agung-Mu dalam kehidupan kami.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 98-100. 

Cilandak, 20 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS