SABTU PEKAN KEEMPAT PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HenriNouwenBeberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!”  (Yoh 7:40-41).

Bacaan Injil pada hari ini menunjukkan bahwa Yesus mempunyai banyak sahabat yang baik dan setia. Mereka rela mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi. Yesus juga mempunyai musuh yang sangat membenci-Nya dan tidak sabar lagi untuk segera menyingkirkan-Nya. Tidak sedikit pula orang-orang yang tertarik kepada-Nya, tetapi sekaligus merasa takut.

Orang muda yang kaya mencintai Yesus, namun ia tidak rela meninggalkan kekayaannya dan mengikuti Dia. Nikodemus mengagumi Yesus tetapi takut kehilangan penghormatan di antara kawan-kawannya. Saya semakin menyadari pentingnya melihat orang-orang yang tertarik kepada Yesus tetapi merasa takut itu, karena saya merasa dalam kelompok itu saya tergabung …

Nikodemus berkata kepada kawan-kawannya orang Farisi, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” (Yoh 7:51). Nikodemus sangat teliti dan hati-hati. Ia berbicara kepada orang-orang yang membenci Yesus. Tetapi ia berbicara dengan cara bicara mereka. Seakan-akan ia berkata, “Juga seandainya kalian membenci Yesus dan ingin membunuh-Nya, jangan mengorbankan nama baik kalian dan tempuhlah jalan yang sesuai dengan adat-istiadat kalian.” Nikodemus mengatakannya untuk menyelamatkan Yesus, tetapi ia tidak mau kehilangan kawan. Ternyata usahanya tidak berhasil. Ia ditertawakan oleh kawan-kawannya, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Nikodemus diserang: pribadinya dan juga keahliannya.

Peristiwa ini rasanya sangat biasa. Saya sering berbicara seperti Nikodemus dalam pertemuan-pertemuan kegerejaan maupun akademis. Saya tidak langsung berbicara mengenai cinta saya terhadap Yesus, tetapi berputar-putar dan mengatakan bahwa mereka dapat saja melihat masalahnya dari sudut lain. Biasanya mereka menanggapi dengan mengatakan bahwa saya tidak cukup mendalam menyelidiki sumber-sumber yang saya pakai; atau mereka melihat bahwa saya tidak sungguh-sungguh mengembangkan sikap profesional karena membawa-bawa perasaan ke dalam penelitian yang saya buat. Orang-orang yang mengatakan hal itu memang berpikir benar, dan saya dibuat diam karenanya. Namun sebenarnya rasa takut sayalah yang membuat saya tidak berani berbicara dari hati dengan risiko ditolak. Nikodemus memang perlu saya perhatikan.

DOA: Allah, Bapa yang berbelas-kasih, Engkau mengetahui kelemahan dan kecemasan kami. Namun semakin kami lemah, semakin kuat kami rasakan pertolongan-Mu. Bantulah kami agar kami dapat menerima dengan hati gembira dan rasa syukur saat-saat rahmat yang Kauberikan kepada kami, dan menjadi saksi-saksi karya agung-Mu dalam kehidupan kami. 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 101-103. 

Cilandak, 21 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS