PENGAMPUNAN SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 23 Maret 2015) 

PEREMPUAN YANG BERZINAHLalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Orang-orang yang menyeret perempuan yang kedapatan berzinah itu kepada Yesus menunjukkan suatu sikap yang dapat membantu menjelaskan mengapa orang-orang pada waktu itu dan sekarang menolak tawaran-Nya. Sebenarnya mereka tidak peduli bahwa perempuan itu telah berdosa, bahwa dia telah melanggar hukum. Mereka juga tidak memahami para nabi, yang mengatakan bahwa semua dosa adalah zinah karena dengan dosa orang-orang tidak setia kepada Allah. Mereka mengetahui huruf-huruf hukum dan mereka menggunakan huruf-huruf itu tidak untuk membuat perempuan itu bertobat, melainkan untuk memenuhi tujuan mereka yang culas, yaitu menjebak seseorang yang mereka pandang sebagai ancaman terhadap cara mereka berpikir dan gaya hidup mereka (lihat Yoh 8:6).

Ketika Yesus mengemukakan bahwa mereka harus melihat diri mereka sendiri dengan suatu cara yang lain, bahwa mereka harus memandang diri mereka sebagai pendosa-pendosa seperti perempuan yang mereka seret-seret itu, maka sebenarnya kepada mereka diberikan suatu pilihan. Mereka dapat membuka diri terhadap suatu cara yang baru dan berbeda terhadap kesalahan-kesalahan orang lain dan suatu cara baru untuk melihat kebutuhan mereka akan Allah, atau mereka dapat tetap berhadapan dengan Yesus sebagai lawan, dengan tetap mengambil sikap yang mementingkan diri sendiri dan sok benar  sendiri. Mereka menutup rapat-rapat pikiran dan hati mereka, dan akhirnya memilih untuk pulang ke rumah masing-masing untuk kemudian merancang strategi lagi bagaimana sebaiknya “menghabiskan” Yesus. Tipu daya dengan menggunakan sabda Allah ini demi kepentingan diri sendiri, dan juga bersikap mutlak-positif dalam memegang cara kita sendiri guna memahami dan menafsirkan sabda Allah masih dapat ditemukan pada hari ini dalam diri orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai murid Kristus, percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Pada hari ini – seperti juga pada zaman Yesus dahulu – orang-orang seperti itu sebenarnya menghambat proses bertumbuh-kembangnya hidup baru yang ditawarkan oleh Yesus.

Apabila kita melihat apa yang ada di bawah permukaan konfrontasi ini, maka kita menemukan wajah “seorang” Allah yang baik, yang berbelas kasih, penuh pengampunan. Seorang pendosa yang kelihatannya pantas menerima hukuman yang berat dilepaskan tanpa dihakimi dan hanya diberi pesan untuk tidak berdosa lagi (Yoh 8:11). Yesus masih menunjukkan wajah tersebut kepada para pendosa dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Sebagai murid-murid Yesus kita pun harus meneladan Dia dalam hal mengampuni. Pengampunan bukanlah berarti kita menghapus peristiwa yang bersangkutan dari pikiran kita.  Hal tersebut telah terjadi dan kita telah merasakan sakitnya. Namun kita melihat peristiwa tersebut dengan cara berbeda, teristimewa  sebagai satu cara untuk meneladan “seorang” Bapa yang penuh kasih dan pengampunan. Kita melihat bahwa hidup kita menunjukkan buah-buah dari kebersatuan kita dengan Yesus, karena ketika kita mengampuni, maka kita paling serupa dengan Yesus.

Hanya apabila kita telah belajar mengampuni dalam satu kasus maka kita  menjadi lebih bebas untuk mengampuni “tujuh puluh kali tujuh kali” (lihat Mat 18:21-22). Kita menjadi bebas untuk melihat kebaikan dalam diri orang lain sebagaimana Yesus melihat perempuan yang kedapatan berzinah itu dan berkata: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11). Pengampunan juga menawarkan kebebasan kepada pihak yang diampuni.

Pada tingkatan tertentu cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah adalah cerita tentang orang-orang yang melawan Yesus dan ingin mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Pada tingkatan lainnya, bacaan Injil ini juga menggambarkan bela rasa Allah terhadap para pendosa, yang ditunjukkan melalui kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus. Pada tingkatan lainnya lagi cerita ini adalah perlambangan bagaimana pengampunan itu bekerja untuk membebaskan kita dan orang lain untuk hidup dalam kehidupan yang ditawarkan Yesus kepada kita. Sebagai catatan tambahan, inilah juga satu-satunya bacaan Injil di mana diceritakan bahwa Yesus menulis sesuatu.

DOA: Tuhan Yesus, mengampuni seseorang yang bersalah kepadaku memang tidaklah semudah diucapkan bibirku, namun aku sadar bahwa Engkau adalah Imanuel yang senantiasa menyertaiku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu yang senantiasa memberdayakanku, aku percaya bahwa aku senantiasa mau dan mampu mengampuni siapa saja yang bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil (Yoh 8:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH, DAN MULAI SEKARANG JANGAN BERBUAT DOSA LAGI” (bacaan tanggal 23-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatansorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “AKU PUN TIDAK MENGHUKUM ENGKAU” (bacaan tanggal 17-3-13) dan “MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI” (bacaan tanggal 18-3-13), keduanya dalam situs PAX ET BONUM. 

Cilandak,  18 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS