AKU HAUS! SUDAH SELESAI!

 (Bacaan Injil dalam Liturgi Sabda, HARI JUMAT AGUNG – 3 April 2015) 

jesus-pictures-crucifixion

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci – , “Aku haus!” Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-nya. (Yoh 19:25-30) 

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16;5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42 

Yohanes Penginjil memberi gambaran yang berbeda dalam Injilnya ketimbang ketiga Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) terkait detik-detik terakhir dari hidup Yesus di dunia. Dalam ketiga Injil sinoptik Yesus tidak berseru “Aku haus!” dan juga tidak tercatat bahwa Yesus meminum “anggur asam” yang disodorkan ke mulut-Nya (lihat Mat 27:34; Mrk 15:23; Luk 23:36). Sebaliknya, dalam Injil Yohanes digambarkan bahwa Yesus menyadari bahwa saat kematian-Nya sudah dekat, oleh karena itu Dia berseru: “Aku haus!” Menurut Yohanes, seruan Yesus ini adalah untuk menggenapi yang tertulis dalam Kitab Suci (Yoh 19:28). Mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus (Yoh 19:29). Lalu Injil Yohanes mencatat yang berikut ini: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh 19:30).

Jelaslah bahwa dalam teks Injil Yohanes, rasa haus Yesus memiliki makna mendalam. Injil ini mengkaitkan kata-kata “Aku haus” dengan penggenapan yang tertulis dalam Kitab Suci. Kiranya ini mengacu kepada teks yang berbicara tentang anggur asam – “… mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mzm 69:22) dan Mzm 22:16 yang menggambarkan rasa haus dari “orang benar yang menderita” – “kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.” Dua petikan Mazmur ini memainkan suatu peranan kunci dalam tradisi sengsara Yesus dan episode pemberian anggur asam kepada Yesus yang tersalib tanpa ragu lagi terkait dengan mazmur-mazmur lain yang terdapat dalam keempat kitab Injil (Mzm 22:2; 22:8; 22:19; 31:6; 109:25).

Dengan seruan-Nya: “Aku haus!” dan meminum anggur asam, Yesus “membuat lengkap” Kitab Suci. Dalam ketiga Injil Sinoptik, pemberian anggur asam (cuka) dimaksudkan untuk mengolok-olok Yesus yang sudah sekarat, namun dalam Injil Yohanes kiranya hal ini mengacu kepada meminum cawan dalam Yoh 18:11. Pada saat-saat penangkapan Yesus di taman Getsemani, Yesus menegur keras Petrus dan memerintahkan kepadanya untuk menyarungkan kembali pedangnya. Yesus tidak akan mundur dari misi yang diberikan Allah Bapa kepada-Nya: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yoh 18:11).

stdas0748Dalam menyelesaikan atau membuat lengkap karya Bapa – menyerahkan hidup-Nya sendiri karena kasih-Nya kepada dunia dan kemudian mengembalikan peninggian bagi Allah – ini adalah “makanan” yang akan dimakan oleh Yesus (Yoh 4:34) dan cawan yang Ia akan minum (Yoh 18:11). Dalam gambaran Yohanes, inilah kekuatan pendorong dari misi Yesus. Dengan demikian seruan “Aku haus!” dari atas kayu salib di Golgota tidak lagi merupakan suatu seruan akibat penderitaan seperti dikira orang-orang yang ada di tempat itu, melainkan tindakan final dari sebuah komitmen. Yesus merasa haus akan Allah dan Ia haus karena kasih-Nya kepada “milik-Nya di dunia ini”.

Tindakan ini “membuat lengkap” semua pekerjaan yang dijanjikan Allah dalam Kitab Suci karena ini adalah tindakan penebusan definitif yang telah ditandakan sebelumnya dalam semua tindakan Allah untuk Israel. Di sini kita diingatkan kepada sebagian dari prolog Injil Yohanes yang berbunyi: “… hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus” (Yoh 1:17).

Seruan “Aku haus!” adalah suatu tindakan bebas dari Yesus, suatu penegasan kembali – di depan maut – kebebasan-Nya yang lengkap dan komitmen-Nya yang tak tergoyahkan terhadap misi yang dipercayakan Allah Bapa kepada-Nya. Yesus merasa haus karena hasrat-Nya yang mendalam untuk meminum cawan yang diberikan kepada-Nya – cawan yang akan membuat lengkap pekerjaan yang telah diberikan kepada-Nya, pekerjaan untuk mengasihi milik-Nya di dunia sampai pada titik akhir. Darah kematian-Nya akan membawa pembebasan yang telah ditandakan sebelumnya dengan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.

Jadi, rasa haus yang radikal dari Yesus membuat lengkap semua janji suci di Kitab Suci  dan membawa misi Yesus ke puncaknya. Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Yesus, yang harmonis secara sempurna dengan nada keseluruhan kisah sengsara dalam Injil Yohanes, adalah “Sudah selesai” (Yoh 19:30). Ungkapan “sudah selesai” ini juga sudah muncul dalam Yoh 19:28). Hal ini dapat diartikan bahwa hidup Yesus di dunia sudah mencapai tujuannya. Dia telah menyelesaikan pekerjaan-Nya dan kembali kepada Allah. Saat kematian-Nya digambarkan dengan cara yang cocok dengan nada penyelesaian suatu tugas secara tuntas: Yesus “menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh 19:30). Frase “menyerahkan nyawa-Nya” mengacu kepada saat kematian-Nya dan fokusnya adalah kembalinya Yesus kepada Bapa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh Tuhan dan Juruselamat kami. Dengan berseru dari atas kayu salib: “Aku haus!” dan “Sudah selesai”, kami percaya bahwa hidup-Mu di tengah dunia sudah mencapai tujuan. Engkau telah mencurahkan darah-Mu untuk mengampuni dosa-dosa kami dan menyediakan bagi kami suatu hidup baru. Dengan penuh rasa syukur kami menerima karunia darah-Mu dan kuasa untuk mengatasi godaan dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 18:1-19:42; versi pendek: Yoh 19:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “TINDAKAN KASIH YANG PALING AGUNG DALAM SEJARAH” (bacaan tanggal 3-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MEMBUAT KITA MENJADI MANUSIA BEBAS-MERDEKA” (bacaan tanggal 18-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 52:13-53:12), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ENGKAU MEMBEBASKAN AKU, YA TUHAN, ALLAH YANG SETIA” (bacaan tanggal 29-3-13) dan “SEGALANYA BERPUSAT PADA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS” (bacaan tanggal 6-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 31 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS