YESUS MEMBERI HIDUP BARU KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH – 11 April 2015) 

He-is-risen

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Yesus pernah mengusir tujuh setan dari dia. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang mengiringi Yesus sebelumnya dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.

Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kekerasan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21

Seperti Allah menciptakan dunia untuk membawa kehidupan, demikian pula Kristus dalam menebus dunia memulihkan kehidupan itu. Kebangkitan Yesus adalah perayaan kehidupan itu sendiri. Kebangkitan-Nya adalah jawaban kehidupan terhadap misteri kematian. Dalam Injil Yohanes, tercatat Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”  (Yoh 12:24-25).

Kita suka bertanya kepada diri kita sendiri, “Mengapa kita harus menderita sakit-penyakit, mengalami berbagai kekecewaan dan/atau kepahitan dalam hidup ini, kesendirian, kegagalan dan frustrasi dlsb.? Kristus sesungguhnya datang sebagai suatu bagian dari misteri yang baru disebutkan di atas lewat hidup-Nya sendiri.

Kita telah mendengar dari orang-orang – yang beriman dan menghayati hidup yang baik –  yang mengungkapkan “kebingungan” mereka terhadap penderitaan sengsara yang begitu berat dari orang-orang dan bangsa-bangsa yang tidak bersalah. Pada abad ke-20 saja dunia mengalami dua perang dunia, pembunuhan massal orang-orang Yahudi oleh rezim Nazi-Jerman, beberapa perang di Timur Tengah, perang saudara di Rwanda, Perang Irak I, perang di Afghanistan, berbagai peristiwa konflik kekerasan dan terorisme yang “bernuansa” keagamaan,dan banyak lagi. Abad ke-21 yang baru saja 15 tahun umurnya sudah dipenuhi dengan berbagai konflik bersenjata/kekerasan: Perang Irak II, Suriah, serta konflik-konflik bersenjata kelanjutan abad-20, Ukraina, ISIS, dan terakhir adalah Yaman. Kalau dua dekade lalu kita hanya mendengar nama-nama Al Qaida dan Taliban, maka sekarang kita mendengar nama-nama gerakan ekstrim seperti Boko Haram di Nigeria, Chad dan Kamerun; Al-Shabaab di Somalia dan Kenya, dan sejenisnya.

Abad ke-20 yang baru berlalu harus kita akui sebagai abad para martir. Banyak sekali umat Kristiani mati dibunuh karena iman mereka. Ordo Saudara Dina saja (OFM) mempersembahkan 400 orang martir pada abad ke-20 tersebut. Hal-ikhwal kemartiran ini berlanjut pada abad ke-21. Baru beberapa hari yang lalu sebuah universitas di Kenya diserbu para teroris Al-Shabaab, dan sebanyak 147 mahasiswi-mahasiswa, dll. yang Kristiani secara diskriminatif dibantai oleh para teroris tersebut yang selalu membawa-bawa nama Allah yang Mahabesar dan penuh belas kasih dalam “misi” mereka.

Yang dikemukakan di atas adalah para martir yang meninggal dunia karena dibunuh. Namun tidak kurang banyaknya juga adalah orang-orang yang mengalami kemartiran dalam hidup mereka. Ada berjuta-juta orang dalam zaman modern ini yang hidup dalam perbudakan (lihat peristiwa di Indonesia yang masih hangat beritanya), berjuta-juta orang yang hidup dalam ketakutan tanpa henti, kebosanan, kemiskinan, sakit-penyakit dlsb., sekan Allah membuang orang-orang yang tidak berbahagia ini.

Ya memang demikian, …… apabila kita lupa akan apa yang terjadi dengan Putera-Nya di bukit Kalvari sekitar 2.000 tahun lalu!

Yesus Kristus telah memutuskan untuk menjadi salah satu dari kita, artinya menjadi manusia. Yesus ini juga menempatkan diri-Nya sendiri di bawah “hukum capaian manusia” (Inggris: the law of human achievement) – yaitu, hal-hal yang bernilai paling tinggi menuntut pengorbanan yang paling besar; hal-hal tersebut bernilai/berharga tinggi dan seringkali harga yang menyangkut kepahlawanan (Inggris: heroic price).

Kesusahan hati hari ini adalah untuk sukacita di esok hari. Kematian hari ini adalah kebangkitan di esok hari, …… apabila kita telah menemukan kuncinya. “Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah bagi kita adalah Alah yang menyelamatkan, ALLAH, Tuhanku, memberi keluputan dari maut”  (Mzm 68:20-21). Allah telah membayar harganya, namun kita harus ikut ambil bagian dalam menanggung harga itu dengan Dia, jika kita sungguh ingin ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Anak Domba Paskah. Engkau adalah sang Kurban yang mengembalikan Bapa surgawi kepada kami. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat-Mu, ya Penebus kami. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK MUNGKIN BAGI KAMI ……” (bacaan tanggal 11-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 8 April 2015 [HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements