CATATAN KECIL TENTANG HAMBA ALLAH YANG BERNAMA TOBIT

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Selasa, 2 Juni 2015)

OFMCap.: Peringatan S. Feliks dr Nikosia [+1787], Bruder

 TOBIT - 000

Pada malam itu juga aku membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur di dekat pagar temboknya.  Mukaku tidak tertudung karena panas. Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahi hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais.

Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan. Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustrus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan. Tetapi setibanya di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu istriku kupanggil dan berkata:  “Dari mana anak kambing itu?” Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!” Sahut isteriku: “Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku.” Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kemb alikan kepada pemiliknya – Karena perkara itu aku merah padam karena dia! Tetapi isteriku membantah, katanya: “Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itju? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!” (Tb 2:9-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,7-9; Bacaan Injil: Mrk 12:13-17

Kitab Tobit adalah sebuah cerita singkat mengenai sebuah keluarga saleh yang selamat dari tragedi melalui belas kasih Allah dan intervensi-Nya. Seperti yang akan dilakukan oleh Yesus sekitar 200 tahun kemudian dalam mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan, pengarang kitab Tobit mencoba untuk menyampaikan pesannya dalam bentuk sebuah cerita yang mudah diingat. Selagi anda membaca kitab Tobit ini dalam beberapa hari ke depan, peganglah dua pertanyaan dalam pikiran anda: Bagaimana Allah digambarkan dalam kitab itu? Apakah yang terjadi apabila orang-orang menaruh kepercayaan kepada Dia?

Tobit adalah seorang Yahudi yang murah hati dan benar di mata Allah, dan ia hidup dalam pembuangan di Niniwe. Tobit mengambil risiko kehilangan nyawanya sendiri dengan menguburkan sesama Yahudi secara layak. Di tengah hidupnya yang penuh pengabdian kepada sesama itu, Tobit terkena sakit mata yang membutakan. Kelihatannya semua ini sangat tidak adil! Semakin Tobit berupaya keras untuk melayani Allah dan umat-Nya, semakin banyak pula derita yang harus ditanggungnya. Dalam beberapa hal penderitaan Tobit lebih buruk daripada penderitaan Ayub. Tobit menjadi buta selagi dia mempertaruhkan nyawanya dalam melayani Allah.

Akan tetapi, dengan berjalannya cerita kita melihat bahwa Tobit tidak hanya disembuhkan, melainkan juga diangkat ke tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya, dan ia melambungkan puji-pujiannya kepada Allah. Apakah pesan hal itu bagi kita? Allah mempunyai kecenderungan untuk menguji dan membentuk umat-Nya menjadi lebih baik, teristimewa para hamba-Nya yang paling dekat. Jadi, selagi Tobit mencapai suatu titik krisis dalam imannya, dan pada awalnya gagal untuk lolos dari ujian-Nya, Allah tetap berada bersama dia dan menarik dirinya lebih dekat kepada-Nya. Perhatikanlah nyanyian pujian Tobit pada akhir kitab Tobit – betapa banyak yang telah dipelajarinya tentang Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik! (lihat Tob 13:1-18). Allah memperkenankan banyak pencobaan menimpa para hamba-Nya yang setia. Dalam proses ini, kesabaran dan iman-kepercayaan Tobit diperkuat dan disempurnakan.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, seperti halnya dengan Tobit, kita juga akan mengalami banyak pencobaan. Tidak seorang pun dari kita yang dapat melihat apa yang akan terjadi di masa depan, juga tidak ada seorang pun yang mempunyai jawaban terhadap berbagai kebutuhan kita. Namun kita mempunyai karunia iman. Di tengah saat-saat penuh kegelapan, misalnya kehilangan anggota keluarga yang kita sangat kasihi, iman-kepercayaan yang goyah, ketidakadilan, atau ketidakpastian total – kita tetap dapat berpegang pada kebenaran-kebenaran yang datang dari Allah. Ia sungguh mengasihi kita dan mempunyai sebuah rencana sempurna bagi kita masing-masing. Mukjizat-mukjizat dapat terjadi ketika kita menaruh kepercayaan pada Bapa surgawi – teristimewa pada saat-saat yang paling gelap dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, di tengah-tengah penderitaanku, Engkau menunjukkan belas kasih-Mu dan intervensi yang penuh keajaiban. Engkau senantiasa memberkati anak-anak-Mu yang setia dalam mengikuti jejak Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, tolonglah diriku agar dengan teguh berpegang pada kebenaran-Mu dan merangkul hidup yang Kauberikan kepadaku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEPADA ALLAH DAN WONG CILIK” (bacaan tanggal 2-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 1 Juni 2015 [Peringatan S. Yustinus, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS