PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XI, 14 Juni 2015) 

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTLalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10 

Kita dapat memandang diri kita –  bahkan membanggakan diri kita –  sebagai ahli dalam banyak bidang, namun apabila didesak untuk memberi penjelasan yang mendetil tentang sesuatu, maka tanpa ragu sedikitpun kita tidak akan mampu alias gagal. Banyak dari kita menguasai bagaimana mengendara sebuah mobil, namun masih melihat sebagai sebuah misteri bagaimana sesungguhnya mobil itu bekerja sebagai suatu sistem. Hal yang sama kurang lebih benar untuk benda-benda seperti pesawat radio, pesawat televisi, kalkulator dlsb. Setiap orang dapat menyalakan korek api, namun berapa banyak yang dapat menjelaskan misteri api? Kita melihat jutaan organisme hidup – pepohonan, burung-burung, binatang-binatang lain dan juga manusia – namun siapa yang sungguh dapat menjelaskan tentang misteri kehidupan?

Sifat “pemerintahan Allah” atau “Kerajaan Allah” yang penuh misteri digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Yesus membandingkan Kerajaan Allah ini dengan sebutir benih yang ditanam untuk pertama kalinya, kemudian “mati” dan akhirnya matang menjadi sebatang tanaman yang bertumbuh-penuh. Bahkan, kata Yesus, sebutir biji mustar yang kecil mampu untuk tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya (Mrk 4:32). Bayangkanlah pohon beringin atau pohon besar apa saja yang menjulang tinggi. Bukankah semua pohon besar tersebut berasal dari sebutir benih yang berukuran relatif kecil? Namun, dalam hal ini, baik benihnya maupun kondisi tanahnya bersifat hakiki.

n80Tuhan Yesus mengatakan yang sama juga benar dalam hal sabda-Nya dan tanggapan kita. Kerajaan Allah tidak semata-mata didirikan oleh sabda-Nya atau hanya oleh upaya kita, melainkan oleh sintesa keduanya. Seorang petani tidak memahami mengapa atau bagaimana sebutir benih bertumbuh, karena semuanya kelihatannya terjadi secara otomatis, namun sebenarnya sesuai dengan seperangkat “aturan” (atau katakanlah: proses) yang telah di-“program” oleh sang Pencipta. Jadi, petani itu dapat tidur sementara proses pematangan tanaman terjadi.

Sabda Allah – benih dari hidup Kristiani – telah ditanamkan ke dalam diri kita masing-masing pada waktu kita dibaptis. Dalam hal baptisan anak-anak, hal tersebut tidak diketahui oleh sang anak yang dibaptis namun terus bertumbuh, bahkan pada jam-jam tidur. Demikian pula halnya dengan orang yang dibaptis tatkala dia sudah bukan anak-anak lagi. Namun apabila “tanah” jiwa kita menolak benih tersebut, maka tidak akan ada “hidup baru”. Menerima atau menolak benih yang ditanamkan adalah suatu pilihan yang sepenuhnya berada di bawah kuasa pribadi penuh kesadaran dari seseorang. Allah tidak menciptakan kita sebagai robot, melainkan dengan kehendak bebas.

Karena jam-alam bergerak dengan lambat, maka kita tidak boleh memaksakan diri kita untuk matang di luar “jadual” yang sudah ada. Sebelum kita dapat sepenuhnya berkembang, maka pertama-tama kita harus memperkenankan waktu yang cukup banyak bagi benih yang ditanamkan ke dalam diri kita untuk mengembangkan akar-akar iman, pengharapan, kasih, ketekunan dan keadilan ke dalam tanah jiwa kita. Semakin tinggi kita bertumbuh, semakin dalam pula akar-akar tersebut harus masuk ke dalam tanah jiwa kita.

Saudari dan Saudariku, sabda Allah akan menghasilkan panen berkelimpahan dalam diri kita apabila kita memperkenankannya. Apa yang harus kita lakukan sederhananya adalah menyediakan suatu atmosfir yang cocok bagi penanaman benih, pertumbuhannya dan panenan di ujungnya.

DOA: Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang menanamkan benih dalam kehidupan kami, membuat kami bertumbuh dan mendatangkan buah-buah. Tolonglah kami hari ini agar dapat mengenali karya-Mu dan menghargai buah-buah yang dihasilkan. Semoga kami tidak pernah menjadi penghalang terhadap karya-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan dengan judul  “ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA” (bacaan tanggal 14-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Surabaya, 11 Juni  2015 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS