BUKAN TINDAKAN-TINDAKAN PENUH KEMUNAFIKAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 17 Juni 2015) 

Sermon_on_the_Mount“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-4,9 

Selagi Yesus berbicara mengenai kebenaran sejati yang diperlukan agar seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, Ia juga mengemukakan bahwa apabila kita mengembangkan suatu relasi pribadi dengan Allah, maka hal itu dapat mentransformasikan diri kita.  Kebenaran lahiriah seperti ditunjukkan oleh banyak pemimpin agama pada zaman Yesus seringkali berakar pada kesombongan dan pemuliaan-diri sendiri. Sebaliknya, kebenaran sejati (Inggris: true righteousness) merupakan akibat dari relasi batiniah dengan Bapa surgawi (Mat 5:20). Pada waktu kita bertemu dengan kasih dan kebenaran Allah dalam doa, maka kita pun akan menjadi semakin serupa dengan Dia dan terhitung di antara orang-orang yang sungguh benar. Yesus berjanji bahwa Bapa akan memberi ganjaran berlimpah kepada orang yang hidupnya ditransformasikan dengan cara ini.

Yesus menekankan bahwa doa, puasa dan pemberian sedekah dimaksudkan sebagai tanda-tanda kehidupan kita dengan Allah, bukan tindakan-tindakan penuh kemunafikan yang dilakukan demi dilihat/diakui oleh orang-orang lain. Tindakan-tindakan benar, yang diinspirasikan oleh kasih kepada Allah, barangkali tidak pernah akan terlihat oleh dunia, dan pribadi-pribadi yang sungguh benar tidak memegang sebuah daftar perbuatan-perbuatan baik mereka lalu mengumumkan perbuatan-perbuatan baik itu kepada setiap orang yang ditemui. Sebaliknya, mereka memberi tanpa hitung-hitung dan tanpa mencari-cari pengakuan sehingga “tangan kiri” tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh “tangan kanan” (Mat 6:3).

Allah akan membuat diri kita benar apabila kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa dan mencari kehendak-Nya setiap hari. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk berdoa di tempat-tempat tersembunyi di hati mereka – sehingga mereka dapat mengenal kehadiran Bapa surgawi dan memperkenankan sentuhan-Nya mengubah hati mereka. Seperti dijanjikan oleh Yesus, kita akan diberi ganjaran yang melampaui imajinasi kita selagi kita mencari Allah dengan cara ini. Allah tidak pernah akan menolak dan mengusir kita pergi. Sebaliknya, Dia akan melembutkan hati kita sehingga kita dapat sungguh berdoa, berpuasa dan memberi sedekah dengan hati yang mencerminkan hati-Nya sendiri.

Dalam saat-saat kita bersama Allah, marilah kita mempertimbangkan kefanaan dunia dan berupaya untuk ikut membangun Kerajaan-Nya yang kekal. Umat Kristiani yang berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah seturut cintakasih mereka kepada Allah akan menerima berkat berlimpah – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Selagi kita menghadap hadirat Bapa dan memohon kepada-Nya untuk memenuhi diri kita dengan hidup-Nya dan kasih-Nya sendiri, maka Yesus dan Roh Kudus akan datang dan tinggal di dalam diri kita, memberdayakan kita untuk melakukan kehendak Bapa.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memasuki tempat doa yang tersembunyi agar kami dapat sungguh-sungguh mengenal Engkau. Transformasikanlah diri kami oleh kasih-Mu agar kebenaran-Mu dapat mengalir melalui segala sesuatu yang kami lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6.16-18), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN MUNAFIK” (bacaan tanggal 17-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 15 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS