KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN:  SEBUAH PERKENALAN 

proverbs

Kitab-Kitab Kebijaksanaan (Kitab-Kitab Hikmat-Kebijaksanaan)

Apakah yang dimaksudkan dengan Kitab-Kitab Kebijaksanaan? Kitab-Kitab ini mencakup berbagai tulisan yang sering luput dari pengamatan pembaca modern, namun mencerminkan sisi yang sangat penting dalam iman-kepercayaan Yahudi. Rasa hormat di zaman kuno atas hikmat-kebijaksanaan dengan baik digambarkan dalam sebuah insiden yang tercatat dalam 2Sam 15-16, di mana anak laki-laki Daud yang bernama Absalom memimpin sebuah pemberontakan melawan ayahnya. Daud sangat kaget mendengar bahwa kepala penasihatnya, Ahitofel (seorang bijak) bergabung dengan kelompok pemberontak. Daud memohon-mohon kepada Allah agar talenta-talenta Ahitofel dikacaukan, karena “pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom” (2 Sam 16:23).

Karakteristik-karakteristik kitab-kitab hikmat-kebijaksanaan

Kitab-Kitab Kebijaksanaan berbeda satu sama lain, baik dalam gaya maupun subjek yang dicakup, namun semuanya mempunyai kesamaan dalam karakteristik-karakteristik tertentu yang membedakan kitab-kitab kebijaksanaan ini dengan kitab-kitab lainnya dalam Kitab Suci:

  1. suatu minat yang minimal dalam hal tindakan-tindakan penyelamatan ilahi sebagaimana diproklamasikan oleh Taurat dan kitab-kitab para nabi;
  2. minat yang kecil atas Israel sebagai sebuah bangsa atau dalam sejarahnya;
  3. suatu sikap yang mempertanyakan tentang persoalan-persoalan kehidupan: mengapa ada penderitaan, ketidakadilan dan kematian, dan mengapa orang-orang jahat-curang juga hidup makmur;
  4. suatu pencaharian untuk mengetahui bagaimana menguasai kehidupan dan memahami bagaimana manusia harus berperilaku di hadapan Allah;
  5. suatu minat besar dalam hal pengalaman-pengalaman manusia yang universal yang mempengaruhi semua orang dan tidak hanya orang-orang yang percaya kepada YHWH;
  6. suatu sukacita dalam kontemplasi tentang ciptaan dan Allah sebagai sang Pencipta.

Terkadang pandangan hikmat-kebijaksanaan kelihatan sebagai pandangan sekular. Banyak amsal-amsal dalam “Kitab Amsal” sama sekali tidak berkaitan dengan iman-kepercayaan akan Allah. Orang-orang atheis pun akan setuju dengan ucapan dalam Ams 10:4. Kisah tentang Yusuf dalam Kej 37-50 juga memberi gambaran tentang seorang pribadi  – yang walaupun belum pernah menerima perwahyuan dari Allah – yang melakukan penilaian dan tindakan dengan penuh hikmat. Dalam setiap peristiwa yang terjadi di sekitar dirinya, Yusuf mempersepsikan rencana dan hikmat Allah.

Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama yang tergolong Kitab-Kitab Kebijaksanaan

Kualitas-kualitas seperti ini muncul di sana sini dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi sejumlah kecil kitab dalam Perjanjian Lama secara spesifik dapat digolongkan sebagai kitab kebijaksanaan karena kitab-kitab itu secara konsisten fokus pada permenungan intelektual tentang persoalan-persoalan kehidupan, pencaharian akan kebenaran universal, aturan-aturan hidup, dan sifat dari realitas tercipta di hadapan Allah. Kitab-kitab yang dimaksudkan adalah:

  1. Kitab Amsal (Ams)
  2. Kitab Ayub (Ayb)
  3. Kitab Pengkhotbah (Pkh)
  4. Kitab Yesus bin Sirakh (Sir)
  5. Kebijaksanaan Salomo (Keb)

Atas kelima kitab ini harus ditambahkan Kitab Kidung Agung (Kid). Walaupun “Kidung Agung” tidak berisikan hikmat-kebijaksanaan jenis pertanyaan (yang mempertanyakan), kitab ini menghargai keindahan ciptaan dan mengekskpresikan keyakinan dalam hal kehidupan dan kapasitas manusia untuk mencapai kebahagiaan.

Sastra Kebijaksanaan dalam kitab-kitab lain

Beberapa mazmur juga harus diklasifikasikan sebagai sastra kebijaksanaan: Mzm 1, 19:8-15, 37, 49, 73, 111, 119, dan barangkali juga beberapa lagi yang lain. Banyak pakar Kitab Suci mengemukakan adanya unsur-unsur kebijaksanaan dalam kitab-kitab para nabi, teristimewa Yesaya dan Amos. Kedua orang nabi ini menggunakan ungkapan-ungkapan hikmat-kebijasanaan khusus dan juga memiliki keprihatinan untuk mengetahui nasihat-nasihat Allah atau rencana-Nya, namun dalam arti umum saja. Di samping itu ada pula gema-gema dari pemikiran terkait hikmat-kebijaksanaan dalam bacaan-bacaan tentang cerita di Firdaus (Kej 2-3), kehidupan Salomo dalam 1Raj 3-11, narasi tentang Yusuf (Kej 37-50) dan dalam Kitab Daniel.

Asal-usul hikmat-kebijaksanaan di Israel

Hikmat-kebijaksanaan bukanlah monopoli Israel atau orang Yahudi, bukan unik Israel. Malah ada bukti yang menunjukkan bahwa justru Israel yang meminjam dan belajar tentang pertanyaan-pertanyaan hikmat-kebijaksanaan (tetapi bukan jawabannya) dari bangsa-bangsa lain di Timur Dekat kuno. Ada kumpulan amsal dari Sumeria dan Babel tertanggal sebelum 2000 SM. Banyak yang terdengar seperti padanannya dalam Kitab Amsal dlsb.

Menurut para pakar, ada dua sumber dari minat Israel dalam hal hikmat-kebijaksanaan. Yang pertama adalah keluarga. Daftar yang berisikan amsal-amsal khususnya, seringkali berurusan dengan relasi antara para orangtua dan anak-anak, pendidikan, dan instruksi di bidang moral bagi kaum muda. Di sana-sini kita menemukan bukti istimewa bahwa para bapak keluarga meneruskan pengalaman berharga mereka kepada anak-anak mereka. Lihatlah Ul 32:7 dan Ams 4:1 dsj. Sumber kedua adalah pendidikan formal, teristimewa dalam administrasi kerajaan. Baik dalam masyarakat Sumeria maupun Babel ada sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi anak muda untuk mempersiapkan mereka menjadi ahli kitab guna meniti karir di lingkungan istana atau kuil.

Alkitab menunjukkan bahwa Israel mempunyai ahli kitab profesional seperti bangsa-bangsa lain (1Taw 27:32-33, Ams 25:1, dan Sir 38:24-39:11). Ada indikasi-indikasi bahwa raja memakai para penasihat berhikmat yang siap dipanggil oleh raja (lihat 2Sam 15:31; 16:15-17:23; 1Raj 12:6-7). Dalam hal ini Israel mencontoh bangsa-bangsa lain. Alkitab seringkali mengacu kepada para bijak dari Edom dan Mesir, Tirus dan Asyur (lihat Ezr 28:3-4; Yer 49:7).

Raja sebagai pemilik utama hikmat-kebijaksanaan

Raja sendiri dipandang sebagai pemilik utama dari hikmat-kebijaksanaan dan penghakiman dalam kerajaan. Daud dinamakan “tuanku bijaksana” sama seperti malaikat Allah, sehingga mengetahui semua yang terjadi di bumi (2Sam 14:20) dan Salomo terkenal dengan hikmat-kebijaksanaannya. Dalam 1Raj 3-11 pemerintahan Salomo digambarkan sebagai model dari hikmat kerajaan. Salomo pertama-tama mohon hikmat dari Allah, di atas kekayaan atau kekuasaan (1Raj 3). Ia juga menghakimi dengan akurat dan penuh kebijaksanaan dalam kasus dua orang perempuan yang mengklaim seorang anak yang sama (1Raj 3). Bait Suci dan keindahannya dipandang sebagai hasil dari hikmat-Nya (1Raj 6-8), dan banyak penguasa negeri lain datang untuk mendengar hikmat Salomo (1Raj 10). Pemerintahan negerinya digambarkan sebagai pemerintahan yang bijaksana (1Raj 4). Bacalah 1Raj 4:29-34 untuk mengenal lebih lanjut tentang Salomo dan hikmatnya.

King_SolomonSecara tradisional, raja Salomo memang dianggap sebagai yang mengawali sastra kebijaksanaan di Israel. Raja Salomo dianggap sebagai orang yang paling bijaksana di Israel, bahkan di seluruh dunia. Sebagian besar kisah mengenai dirinya yang terdapat dalam Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari kebijaksanaannya. Tidak ada seorang pun yang lebih bijaksana daripada Salomo di Israel, sampai akhirnya Dia (Yesus) berkata: “… dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”  (Mat 12:42).

Kitab-kitab Amsal, Pengkhotbah, Kebijaksanaan Salomo, dan Kidung Agung dihubungkan dengan raja Salomo. Cara seperti itu biasa dipakai pada waktu itu untuk memberi wibawa besar kepada tulisan-tulisan itu agar dapat meyakinkan pendengarnya. Bagi kita mungkin hal seperti itu dapat dianggap sebagai pemalsuan, namun tidak demikian halnya bagi mereka pada waktu itu. Apalagi tradisi kebijaksanaan memang dianggap berawal dan berasal dari Salomo.

Catatan Akhir

Di atas telah dikatakan bahwa Israel meminjam sastra kebijaksanaan dari bangsa-bangsa lain. Dengan demikian tidak mengherankanlah apabila kebijaksanaan yang terdapat dalam Kitab Suci serupa dengan kebijaksanaan yang ditemukan di negeri-negeri lain. Itulah sebabnya banyak ucapan dan pemikiran yang terdapat di dalamnya tidak sangat bernada keagamaan. Bahkan tidak sedikit yang harus disebut kebijaksanaan yang sangat duniawi atau sekular.

Ketika semakin berkembang di Israel, kebijaksanaan semakin pula menerima muatan keagamaan. Kebijaksanaan dipahami sebagai keutamaan (kebajikan), sedang lawan katanya – kebodohan – dimengerti sebagai cacat. Akhirnya, baik kebijaksanaan maupun keutamaan bermuara pada agama yang sejati, dan orang bijak akan mengatakan, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN (YHWH)”  (Ams 9:10; bdk. Mzm 111:10).

Tradisi kebijaksanaan memuat pandangan yang luas, bahkan universal. Pernyataan diri Allah tidak dibatasi di Israel, karena kebijaksanaan dapat diperoleh atau dicapai oleh orang-orang bijak dari segala bangsa. Kebijaksanaan itu sendiri datang dari Allah dan membawa orang kepada Allah. Dengan demikian kitab-kitab kebijaksanaan yang kita temukan dalam Kitab Suci menawarkan kesusilaan hidup yang  benar yang dapat dicapai oleh semua orang. Kebijaksanaan tidak diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi saja, melainkan bagi semua orang yang bahkan tidak mengenal hukum yang diberikan kepada Musa.

Pertanyaan-pertanyaan:

  1. Bagaimana anda dapat menggambarkan sebuah Kitab Kebijaksanaan? Apa bedanya dengan kitab-kitab lain dalam Kitab Suci (Alkitab)? Sebutkanlah kitab-kitab dalam Perjanjian Lama yang dapat digolongkan sebagai kitab-kitab Kebijaksanaan!
  2. Apakah tradisi kebijaksanaan unik bagi Israel?
  3. Ceritakanlah asal-usul sastra kebijaksanaan di Israel!

Sumber:

  1. Lawrence Boadt, READING THE OLD TESTAMENT – AN INTRODUCTION, New York, N.Y.: PAULIST PRESS, 1984, hal. 472-491.
  2. Darmawijaya, Pr., JIWA & SEMANGAT PERJANJIAN LAMA 3 – PESAN PARA BIJAK BESTARI, Jakarta-Yogjakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA – PENERBIT KANISIUS, 1992.
  3. C. Groenen OFM, PENGANTAR KE DALAM PERJANJIAN LAMA, Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS, Edisi Kedua Cetakan Pertama 1992, hal. 186-217..
  4. Suharya, Pr., MEMBACA KITA SUCI – MENGENAL TULISAN-TULISAN PERJANJIAN LAMA, Jakarta-Yogyakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA-PENERBIT KANISIUS, 1995, hal. 83-92.

Catatan: Pertama kali disusun sebagai hand-out dalam Pertemuan Kitab Suci Kelompok Dei Verbum pada hari Kamis, tanggal 11 Juni 2015 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. 

Cilandak, 16 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS