KITAB AMSAL:  SEBUAH PERKENALAN

Prophet-Solomon 

Kitab Amsal

Kitab Amsal ini dinamakan juga Kitab Amsal Salomo. Reputasi Salomo terkait hikmat-kebijaksanaan sungguh besar sehingga Israel memandangnya sebagai pendiri dari tradisi hikmat-kebijaksanaan. Dalam Kitab 1 Raja-Raja ada tertulis:

Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir. Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu, dan dari pada Heman, Kalkol dan Darda, anak-anak Mahol; sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya. Ia menggubah tiga ribu amsal, dan nyanyiannya ada seribu lima. Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan. Maka datanglah orang dari segala bangsa mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu. (1 Raj 4:29-34)

Atas dasar bacaan Kitab Suci inilah maka Salomo dipercaya sebagai pengarang Kitab Amsal, Kidung Agung dan Pengkhotbah. Bahkan Kitab Kebijaksanaan Salomo (Deuterokanonika) juga dipandang dikarang oleh Salomo. Ada legenda yang menarik tentang Salomo dan (yang katanya) tulisan-tulisannya tersebut: Salomo menulis “Kidung Agung” ketika masih muda-usia, “Amsal” ketika setengah umur dan matang, dan “Pengkhotbah” yang bernada pesimistis ketika sang raja sudah tua renta.

Sebuah kumpulan peribahasa

Kitab Amsal pada dasarnya adalah sebuah kumpulan peribahasa, pepatah, ucapan, nasihat, petuah dan wejangan yang dapat dibeda-bedakan menjadi 7 (tujuh) kelompok, yaitu:

  1. Ams 1:2-9:18 (Amsal Salomo, Putera Daud; berisikan tujuan rupa-rupa wejangan nasihat dll.);
  2. Ams 10:1-22:16 (Kumpulan amsal-amsal Salomo);
  3. Ams 22:17-24:22 (Amsal-amsal orang bijak # 1);
  4. Ams 24:23-34 (Amsal-amsal orang bijak # 2);
  5. Ams 25:1-29:27 (Amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai-pegawai Hizkia, raja Yehuda);
  6. Ams 30:1-33 (Perkataan-perkataan Agur bin Yake);
  7. Ams 31:1-9, 10-31 (Amsal-amsal untuk Lemuel dari ibunya dan Puji-pujian untuk isteri yang cakap).

Kalau diperhatikan dengan baik, Kitab Amsal berisikan banyak peribahasa dlsb. yang pesannya sama tuanya dengan peradaban Sumeria pada tahun 3000 SM, dan tidak ada alasan untuk menyangkal bahwa semua ini dikumpulkan atas dasar perintah Salomo dan disusun menjadi sebuah Kitab. Namun Kitab Amsal yang kita kenal sekarang juga banyak mengalami penambahan yang dilakukan belakangan. Kita lihat di atas ada sekelompok amsal (lihat butir 5) yang dinamakan sebagai amsal-amsal Salomo, namun tidak ditulis/disusun setelah dua abad kemudian, yaitu pada zaman Hizkia meraja di Yehuda. Ada juga koleksi-koleksi kecil yang dikaitkan dengan guru-guru hikmat-kebijaksanaan dan raja-raja lain.

The-Book-of-Proverbs-4056_l_d60fcd45c1f53749Seni Hidup

Dalam kumpulan-kumpulan yang ada dalam Kitab Amsal ditemukan contoh-contoh jitu bahwa mula-mula hikmat-kebijaksanaan merupakan suatu “seni hidup”. Ada berbagai macam peribahasa dan ucapan serta wejangan kecil yang amat praktis dan mengena. Misalnya, amsal yang berbunyi: “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar” (Ams 25:24). Di lain pihak ada juga puji-pujian kepada isteri seperti sajak dalam Ams 31:10-31.

Peribahasa, ucapan, petuah yang termuat dalam Kitab Amsal merangkum seluruh kehidupan sehari-hari dan semua golongan masyarakat: kaum perempuan maupun para lelaki, raja dan petani, soal mendidik anak, tata-krama dlsb. Banyak nasihat itu amat praktis; tanpa cita-cita yang mengawang. Singkatnya orang diajak dan secara praktis dibimbing untuk mencari kebahagiaannya sendiri.

“Seni Hidup” yang praktis ini terbungkus dalam rasa keagamaan yang mendalam. Namun para penciptanya bukanlah orang yang ingin memperagakan kesalehan mereka atau membanggakan takwa mereka. Mereka selalu diresapi dengan kepercayaan  akan Allah. Beberapa contoh:

  1. “Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahnya” (Ams 10:22);
  2. “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari TUHAN” (Ams 16:1);
  3. “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan” (Ams 15:16);
  4. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Ams 9:10).

Tuhan adalah sumber hikmat

Hikmat-kebijaksanaan – seni hidup manusia – sebenarnya mempunyai ciri ilahi. Ini adalah keyakinan orang-orang berhikat di Israel yang mewariskan Kitab Amsal kepada umat Allah. Manusia sendiri tidak mampu memperoleh hikmat sejati. Barangkali dia dapat belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Akan tetapi rahasia dunia yang terdalam tidaklah terbuka baginya. Seni hidup sejati, keselarasan hidup dengan dunia sekitar manusia di luar jangkauan orang. Lihatlah dua amsal berikut ini:

  1. “TUHAN-lah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Ams 2:6);
  2. “TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Ams 3:12).

Amsal-amsal tersebut semua terdapat dalam bagian pertama Kitab Amsal (bab 1-9). Bagian ini memang memuat buah hasil renungan orang-orang berhikmat. Bab-bab ini berperan sebagai kata pendahuluan bagi koleksi-koleksi amsal yang menyusul. Dengan jalan itu disingkapkan latar belakang dan dasar hikmat-kebijaksanaan umat Israel. Iman kepercayaan kepada TUHAN membuka rahasia hidup sehari-hari. Bahkan dalam hal-hal yang biasa sekali pun tersembunyi sesuatu yang mengantar kepada TUHAN dan dapat menjalin hubungan mesra dengan sang “Guru” hikmat-kebijaksanaan sejati. Sembilan bab pertama Kitab Amsal ini berasal dari masa sesudah pembuangan.

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Ams 9:10)

101171240_Prorok_Car_Solomon“Takut akan Allah” yang adalah permulaan dari hikmat-kebijaksanaan bukanlah merupakan suatu hal yang kasar, kejam dlsb., melainkan sesuatu yang tinggi, suci dan bahagia. Ini adalah ketakjuban dari adorasi kepada Allah, keindahan dari tindakan penyembahan kita kepada sang Pencipta. Barangkali alasan utama mengapa hikmat-kebijaksanaan dari Kitab Amsal hilang dari dunia modern adalah karena sumbernya, “takut akan Allah” sudah hilang.

Barangkali bacaan yang paling besar dan paling dalam dalam Kitab Amsal adalah Ams 8:22-31. Isi Kitab Amsal pantas untuk kita baca dan baca lagi, namun teristimewa Ams 8:22-31 ini. Di sini, hikmat-kebijaksanaan – sebagai suatu atribut ilahi – dilihat  sebagai seorang pribadi. Biasanya personifikasi hanya alat dalam sastra, suatu fiksi. Namun dalam hal ini tidak ada fiksi-fiksian, melainkan fakta. Mengapa? Karena hikmat Allah adalah memang seorang Pribadi. Dia adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Jadi, Kitab Amsal bersifat Kristosentris (berpusat pada Kristus) Mengapa? Karena di dalam Kristus-lah “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3).

Kitab Amsal menyatakan bahwa hikmat-kebijaksanaan tersedia-bebas bagi semua orang (Ams 8:1-6,32-35), demikian pula Kristus yang tersedia-bebas bagi semua orang yang memiliki hati terbuka bagi kehadiran-Nya. Janji yang sangat jelas dalam Perjanjian Baru kepada orang Kristiani yang mana saja adalah seperti berikut ini: “… apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah,  –  yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya”  (Yak 1:5). Kepada kita telah diberikan hikmat-kebijaksanaan karena kepada kita telah diberikan Kristus sendiri. Hikmat-kebijaksanaan sudah ada dalam diri kita. Pada kenyataannya, hikmat-kebijaksanaan tidak hanya ada di dalam Dia, Hikmat adalah Dia sendiri, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… oleh Dia (Allah) kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita” (1Kor 1:30).

Cara membaca Kitab Amsal

Membaca Kitab Amsal seluruhnya terus-menerus pasti terlalu membosankan. Gayanya agak tetap sama dengan tidak banyak variasi. Masing-masing amsalnya kerap sangat padat dan singkat. Berikut ini adalah satu cara membaca Kitab Amsal yang bersifat praktis: Bacalah satu bab misalnya. Lalu isinya dikaitkan dengan hidup pembaca sendiri. Perhatikanlah apakah dalam bagian yang dibaca tidak ada sesuatu yang kena pada diri pembaca dan kehidupannya, keluarganya. Misalnya: “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (Ams 10:4). Jadi, kalau orang suka mengeluh tentang keadaan “elit” (ekonomi sulit), baiklah dia bertanya dulu apa sebabnya. Para pedagang juga tidak pernah boleh melupakan amsal ini: “Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat” (Ams 11:1). Jika kita membaca amsal yang ada sepotong-sepotong, maka kita segera akan melihat betapa aktual dan kena “hikmat-kebijaksanaan Salomo” itu.

Kitab Amsal ditutup dengan”Puji-pujian untuk isteri yang cakap” (Ams 31:10-31), yang patut seringkali dibaca oleh para perempuan maupun laki-laki yang sudah berkeluarga (atau berencana untuk memulai hidup berkeluarga).

Pertanyaan-pertanyaan:

  1. Apakah isi dari Kitab Amsal?
  2. Menurut anda, apakah yang dimaksudkan dengan ungkapan “takut akan Allah”?
  3. Jelaskan Ams 8:22-31 dalam kaitannya dengan Yesus Kristus! 

Sumber:

  1. Lawrence Boadt, READING THE OLD TESTAMENT – AN INTRODUCTION, New York, N.Y.: PAULIST PRESS, 1984, hal. 472-491.
  2. Darmawijaya, Pr., JIWA & SEMANGAT PERJANJIAN LAMA 3 – PESAN PARA BIJAK BESTARI, Jakarta-Yogjakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA – PENERBIT KANISIUS, 1992.
  3. C. Groenen OFM, PENGANTAR KE DALAM PERJANJIAN LAMA, Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS, Edisi Kedua Cetakan Pertama 1992, hal. 197-201.
  4. Peter Kreeft, YOU CAN UNDERSTAND THE OLD TESTAMENT – A BOOK-BY BOOK GUIDE FOR CATHOLICS, Ann Arbor, Michigan, Servant Publications, 1990, hal. 107-112.
  5. Werner H. Schmidt, OLD TESTAMENT – INTRODUCTION, Bombay, India: ST PAUL PUBLICATION, 1992, hal. 371-383.
  6. Suharya, Pr., MEMBACA KITA SUCI – MENGENAL TULISAN-TULISAN PERJANJIAN LAMA, Jakarta-Yogyakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA-PENERBIT KANISIUS, 1995, hal. 83-92.

Catatan: Pertama kali disusun sebagai hand-out dalam Pertemuan Kitab Suci Kelompok Dei Verbum pada hari Kamis, tanggal 11 Juni 2015 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. 

Cilandak, 17 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS