RAHMAT YANG BERLIMPAH: BEBERAPA CATATAN TENTANG DOA 

ROHHULKUDUSDoa adalah suatu karunia atau anugerah.  Mengapa karunia? Karena doa Kristiani adalah berdasarkan pengenalan kita dengan Tuhan Yesus Kristus dan kita mempunyai kuasa Roh Kudus yang menggerakkan dan mengurapi kita, dan bergerak melalui diri kita dalam doa. Doa didasarkan pada kenyataan bahwa kita adalah bagian dari Tubuh Kristus dan berada bersama Yesus dalam doa. Bersatu dengan para malaikat dan para orang kudus di hadapan takhta Allah Bapa, kita mampu untuk menyembah, tidak pernah sendiri, namun selalu sebagai bagian dari komunitas besar yang akan memerintah selamanya bersama dengan Tuhan. Jadi doa adalah suatu karunia yang sungguh luarbiasa.

Kita harus memiliki hasrat mendalam untuk berdoa. Kita harus memiliki rasa dahaga akan doa, mengambil keputusan-keputusan untuk berdoa dan bertobat apabila hidup rohani kita tidak seturut apa yang telah kita putuskan. Karunia doa diberikan kepada kita agar kita dapat bersatu dengan Allah. Melalui karunia doa, kita dapat dipenuhi dengan kasih Allah.

Fondasi yang paling penting

DOA PRIBADIKita berdoa kepada Allah. Barangkali fondasi yang paling penting dari doa adalah bahwa kita memahami siapa Allah itu sebenarnya. Ada banyak aspek terkait pemahaman siapa  Allah itu: Allah itu tanpa kesalahan; Ia tidak pernah berubah pikiran atau berbuat salah; Ia kekal dan penuh kuat-kuasa; Dia Mahatahu dan tanpa kekurangan sedikit pun. Namun di atas segalanya, atribut terbesar Allah adalah kasih-Nya yang sempurna. Kasih Allah itu kekal-abadi; ada sejak sediakala, jauh sebelum kita dilahirkan, dan kasih-Nya itu tidak pernah akan memudar atau luntur. Kasih Allah adalah kasih yang membawa kebebasan dan sukacita kepada anak-anak-Nya. Kasih Allah adalah kasih yang menggerakkan-Nya untuk menyatakan (mewahyukan) diri-Nya kepada umat manusia,  untuk mengundang setiap orang masuk ke dalam relasi kasih dengan diri-Nya. “Mengenal” Allah harus mencakup pengalaman akan kasih-Nya yang mengalir dari hati Tritunggal Mahakudus.

Pada tingkat yang paling dasariah dan mendalam, doa berarti masuk ke dalam kontak dengan Allah, yang adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Kasih Allah dapat dilihat secara paling jelas dalam relasi Bapa dengan Yesus, sang Putera. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Kolose, ada tertulis bahwa seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Kristus (Kol 1:19). Bapa mengasihi Putera sedemikian penuh sehingga secara kekal-abadi Ia mencurahkan keseluruhan pribadi-Nya ke dalam diri sang Putera, kepenuhan hidup-Nya sendiri – Sakramen Bapa.

Karena kasih-Nya kepada sang Putera, Bapa menciptakan keseluruhan ciptaan, termasuk manusia. Dalam Kristus, dan sejak sediakala, Bapa mengenal dan mengasihi setiap orang. Ketika Dia memanggil nabi Yeremia, Allah-YHWH bersabda, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau”  (Yer 1:5). Sang pemazmur juga berdoa: “… Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. … Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, … dan  dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentukk sebelum ada satupun dari padanya” (Mzm 139:13,15-17).

Melihat sejarah

Sepanjang pelayanan-Nya di depan publik, Yesus mencerminkan kasih sempurna Allah Bapa dan hasrat-Nya untuk mengumpulkan umat-Nya di sekeliling-Nya. Pada perjamuan terakhir, Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita”  (Luk 22:15). Ini adalah suatu kerinduan yang penuh gairah, sebuah hati yang sepenuhnya dipersiapkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Ini adalah jenis kasih yang berkobar-kobar dalam diri Yesus bagi umat-Nya.

st-augustine-1Dalam sejarah Gereja, Allah terus menyatakan diri-Nya sebagai seorang Bapa yang memiliki hasrat mendalam untuk memanggil anak-anak-Nya dan membentuk mereka menjadi milik-Nya sendiri yang istimewa. Kita dapat melihat ini dalam kehidupan Santo Augustinus dari Hippo [354-430]. Orang kudus ini mengalami kasih Allah yang terus “mengejar”-nya, bahkan ketika dia masih terlibat dalam relasi penuh dosa atau menjadi pengikut aliran bid’ah. Walaupun ada berbagai penghalang seperti ini, Bapa surgawi terus saja “mengejar” Augustinus, untuk menariknya kepada diri-Nya. Akhirnya, Allah menang, seperti diakui oleh Augustinus di kemudian hari:

Betapa lambat aku akhirnya mencintai-Mu, wahai Keindahan setua lagi semuda ini, betapa lambat Kau kucintai! Engkau waktu itu di dalam dan aku di luar dan di sanalah Kau kucari. Keanggunan benda-benda yang telah Kaubuat itulah yang kuserbu, aku yang kehilangan keanggunan. Engkau bersamaku dan aku tidak bersama-Mu; aku tertahan jauh dari-Mu olehnya, oleh benda-benda itu, yang jika tidak berada dalam diri-Mu, tidaklah bakal ada! Engkau telah mengajak dan memanggil, dan memecahkan ketulianku. Engkau bersinar, Kau cemerlang dan menghalau kebutaanku. Engkau menyebar wangi, aku menghirup, dan terengah-engah Kau kudambakan. Aku telah mencicipi dan aku lapar dan aku haus. Kausentuh aku dan aku berkobar mendambakan kedamaian-Mu. (Pengakuan-Pengakuan,  Kitab X, XXVII.38, terjemahan Ny. Winarsih Arifin dan Dr. Th. Van den End, Yogyakarta/Jakarta: PENERBIT KANISIUS/BPK Gunung Mulia, 1997, hal. 308-309) 

San-Damiano-1-336x330Dalam hasrat-Nya untuk menarik semua anak-Nya kepada diri-Nya, Allah mencari hati yang akan berkata “ya” kepada-Nya. Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] adalah suatu contoh yang indah bagaimana sebuah “ya” yang sederhana dapat membawa dampak besar atas seluruh Gereja. Ketika Fransiskus untuk pertama kali mendengar panggilan Allah untuk membangun Gereja-Nya, dia sungguh tidak mempunyai bayangan bagaimana menanggapi panggilan Allah tersebut kecuali dengan mencoba memperbaiki sebuah gereja kecil San Damiano yang sudah berantakan tak terurus. Namun “ya”-nya Fransiskus yang penuh ketaatan memperkenankan Allah untuk membawa suatu pembaharuan besar dalam Gereja pada abad ke-13. Hari ini, Allah masih aktif dan dinamis dalam hasrat-Nya untuk menarik kita kepada diri-Nya, dan melalui doa-lah kita disentuh oleh kerinduan Allah ini.

Duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus

Mengutip Injil Yohanes, Katekismus Gereja Katolik (KGK) berbicara mengenai rahmat yang mengalir dari surga apabila kita berdoa: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah” (Yoh 4:10). Mukjizat doa justru menunjukkan diri di sana, di pinggir sumur, tempat kita mengambil air. Di sana Kristus bertemu dengan setiap orang; Ia mencari kita, sebelum kita mencari Dia, dan Ia meminta: “Berilah Aku minum!” Yesus kehausan; permohonan-Nya datang dari kedalaman Allah yang merindukan kita. Entah kita tahu atau tidak, di dalam doa kehausan Allah menemui kehausan kita. Allah merasa haus akan kehausan kita akan Dia  (KGK, 2560). Allah ingin agar kita memandang doa bukan sebagai sebuah beban, melainkan sebagai sebuah tanggapan penuh kasih. Kita mengasihi Allah dan rindu untuk ada bersama dengan-Nya karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita (1Yoh 4:9-10). Doa dimaksudkan untuk memperoleh dua aspek ini: Kita menerima kasih Bapa surgawi, dan kita menjadi lebih dekat kepada-Nya dan kita pun mengasihi Dia sebagai balasan.

2013_LT-MarthaCerita tentang Marta dan Maria menggambarkan sikap yang begitu menyenangkan Yesus (lihat Luk 10:38-42). Kedua perempuan kakak-beradik itu sungguh bergairah untuk menyambut kedatangan Yesus ke dalam rumah mereka, namun dengan dua sikap dan perilaku berbeda satu sama lain. Maria mengesampingkan urusan-urusan (tetek bengek) sehari-hari selama kehadiran Yesus dan ia duduk bersimpuh dekat kaki Yesus dan mendengarkan pengajaran dari Yesus. Yesus sangat senang dengan sikap Maria itu dan memujinya ketika menjawab pertanyaan Marta: “Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia” (Luk 10:42). Tentu saja Yesus tidak menginginkan kita mengabaikan berbagai tanggung jawab kita, namun Ia sangat senang dalam mengajar siapa saja yang mau duduk bersimpuh di dekat kaki-Nya untuk mendengarkan suara-Nya.

KAKI YESUS DIBERSIHKAN DI RUMAH FARISI SIMONSebuah cerita yang lain di mana kita melihat seseorang berada di dekat kaki Yesus adalah cerita tentang seorang perempuan berdosa yang mengurapi Yesus (Luk 7:36-50). Perempuan ini tidak terkendala oleh pandangan orang-orang lain tentang dirinya dalam melakukan tindakannya, walaupun ia mengetahui bahwa dirinya akan menghadapi oposisi dari orang-orang Farisi. Hasratnya akan Yesus mengatasi segala rasa takut akan dihina dan diolok-olok oleh orang-orang munafik tersebut. Bayangkan betapa bahagia Yesus karena perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi yang mahal harganya.

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSOrang-orang yang terakhir berada di dekat kaki Yesus di Kalvari adalah ibu-Nya dan saudara ibu-nya, Maria (isteri Klopas), Maria Magdalena dan murid yang dikasihi-Nya, Yohanes (lihat Yoh 19:25). Mereka memandangi Yesus yang tersalib, yang membawa pengampunan dan kesembuhan bagi seluruh umat manusia. Mereka menyaksikan Yesus yang memenuhi sabda-Nya sendiri pada perjamuan terakhir: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya”  (Yoh 15:13).

Seperti orang-orang percaya yang disebutkan di atas, kita (anda dan saya) pun diundang untuk duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus selagi kita datang menghadap Dia dalam doa setiap hari. Selagi kita berada di dekat-Nya dan merenungkan sabda-Nya yang disampaikan kepada kita, Yesus akan mengajar kita sebagaimana Dia mengajar Maria (saudari dari Marta). Bilamana kita menyembah Yesus dalam doa pribadi kita, kita mengungkapkan kasih kita dan rasa terima kasih penuh syukur kepada-Nya. Kita mencurahkan hidup kita kepada-Nya, serupa apa yang dilakukan oleh perempuan berdosa yang mengurapi Yesus. Seperti Maria (ibu-Nya) dan yang lain-lain menyaksikan persembahan kurban kasih-Nya di atas kayu salib, kita pun dapat menerima tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristi dan merayakan kasih-Nya bagi kita semua, para sahabat-Nya.

Kuasa untuk melakukan transformasi dan pembaharuan

God the FatherKetika anak-anak Allah datang menghadap hadirat-Nya, maka kehidupan mulai berubah. Orang yang sepenuhnya menggantungkan diri pada bukti ilmiah dapat melihat doa sebagai sesuatu yang memiliki “placebo effect”, yaitu hanya memberi manfaat bagi mereka yang ingin percaya bahwa doa itu efektif. Namun dengan mata iman, umat Kristiani melihat hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah – bahwa Bapa surgawi mendengar setiap doa dan mencurahkan rahmat-Nya atas mereka yang mencari Dia dengan segenap hati (lihat Yer 29:13).

Jadi, justru dalam doalah pergumulan-pergumulan dan masalah-masalah berukuran seperti gunung-gunung dapat diatasi. Cerita tentang Ayub menunjukkan bagaimana seseorang yang datang ke hadirat Allah dapat ditransformasikan secara dramatis. Kesusahan-kesusahan yang dialami Ayub sungguh luarbiasa berat: Ia kehilangan segala miliknya; anak-anaknya semua mati secara tragis; dan Ayub sendiri diterpa penyakit yang menjijikkan mata orang yang melihat. Setelah menjalani perjuangan yang cukup lama dengan para sahabatnya yang mencoba dengan sia-sia menasihati Ayub, orang saleh ini mengalami kehadiran Allah (Ayb 38-42). Semua kekhawatiran tentang kondisinya, segala kepahitannya terhadap Allah, semua ratapannya, berakhir pada saat dia memberi tanggapan: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”  (Ayb 42:5). Sungguh sebuah pengalaman akan Allah yang sangat indah. Mengalami banyak penderitaan sebagai pewarta Injil Yesus Kristus, rasul Paulus menulis: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Ini pun merupakan kesaksian tentang pengalaman akan Allah (Kristus) yang sungguh luarbiasa.

Hidup kita dapat ditransformasikan selagi kita mengalami kasih Allah dan kehadiran-Nya dalam doa. Rasa takut, keragu-raguan, kebencian, dan keterikatan pada dosa akan menyerah kepada kuasa Allah dan kasih-Nya. Dalam doa, kita dipersatukan secara intim dengan Kristus; oleh karena itu kita mulai mengasihi seperti Dia mengasihi, untuk mengampuni seperti Dia mengampuni, untuk menolak dengan efektif godaan seperti yang telah dilakukan-Nya, dan untuk menggantungkan diri pada Bapa surgawi seperti yang dilakukan-Nya. Doa memang mampu mentransformasikan keberadaan kita!

Cilandak, 26 Juni 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS