YA TUHANKU DAN ALLAHKU !!! [2]

(Bacaan Misa Kudus, PESTA S. TOMAS RASUL – Jumat, 3 Juli 2015) 

thomas2Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:24-29) 

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Ketika para murid mengatakan kepada Tomas bahwa mereka telah melihat Tuhan, ketidakpercayaan Tomas dan keragu-raguannya menghalangi dia dari suatu sikap keterbukaan, sikap mana sungguh diperlukan untuk memperkenankan Roh Kudus menyatakan Kristus kepadanya. Reaksi Tomas terasa keras sekali, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Tentu pengungkapan ketidak-percayaan Tomas itu mengejutkan para murid yang lain. Artinya, kesaksian mereka ditolak mentah-mentah oleh Tomas.

Tuntutan Tomas untuk melihat bekas paku pada tangan Yesus  dan menaruh jarinya ke dalam bekas paku itu tentu terasa sebagai suatu hujatan di mata rekan-rekannya. Namun, supaya adil kita juga harus dapat menilai sikap Tomas dari sisi lain. Tomas – sendirian – menentang kesepakatan kesaksian dari rekan-rekannya, suatu kesaksian yang bertentangan dengan logikanya. Jelas dia bukan seorang pribadi yang mudah ikut-ikutan, dan sikap ini tidak buruk sama sekali. Harus kita akui bahwa untuk menjadi “tanda lawan” diperlukan keberanian, tidak terkecuali dalam kasus Tomas ini. Dilihat dari sisi ini, sikap Tomas  seperti itu seharusnya dihargai!  “Seeing is believing,” bukankah ini paradigma yang berlaku di dunia? Itulah sebabnya Tomas merasa perlu bertemu sendiri dengan Yesus.

Kita lihat sekarang apa yang terjadi delapan hari kemudian: Yesus muncul lagi di tengah-tengah para murid-Nya, dan kali ini Tomas hadir. Ketika Yesus mengundang dia untuk melangkah maju dalam iman, kebutaan Tomas menjadi tersingkir dan pada saat itu juga secara spontan dia mempermaklumkan kata-kata iman-kepercayaan yang agung, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata-kata inilah yang kita ucapkan dengan suara lemah lembut sebagai ungkapan kepercayaan dan syukur kita pada saat Doa Syukur Agung (konsekrasi), ketika imam selebran mengangkat hosti atau piala yang berisi air anggur. Tomas si peragu bertemu face-to-face dengan Yesus, dengan cinta kasih-Nya yang tak bersyarat dan berkelimpahan …… Tanpa reserve, Tomas pun melepaskan sikap skeptis yang membentenginya, lalu sujud menyembah Yesus sebagai Tuhannya dan Allahnya.

stthomastheapostleSeruan Tomas ini mengungkapkan suatu keunggulan iman yang murni. Pada saat rahmat seperti itu, tentunya Tomas mengingat lagi apa yang telah Yesus ramalkan tentang sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya dalam perjalanan mereka menuju Yerusalem. Sekarang dia percaya penuh, sepenuh-penuhnya. Ia membuktikan dalam karya misinya kelak … setelah dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta, diutus oleh Tuhan dan Gurunya pada waktu Dia naik ke surga, Tomas berubah total menjadi seorang misionaris tangguh yang kemudian berhasil mewartakan Kabar Baik ke ujung-ujung dunia …… sampai ke India. Dan, dia pun mati sebagai martir, demi cinta kasih penuh ketaatan kepada Tuhan dan Gurunya.

Sekarang marilah kita kembali kepada penolakan dan ketidak-percayaan Tomas tadi. Ada dua hal yang perlu kita soroti dan renungkan. Pertama-tama, tuntutan Tomas untuk memperoleh bukti obyektif kelihatannya seperti suatu keangkuhan atau ketiadaan iman dalam dirinya. Namun kalau kita memandangnya dari sudut yang lain, hal itu menunjukkan kepada kita sebuah model atau contoh dari hidup kita sendiri. Seorang anak muda yang sedang mengalami pergumulan batin berkaitan dengan imannya, sekali peristiwa berdoa, “Ya Allah, kalau Engkau sungguh riil, buktikanlah kepadaku.”  Sekilas doa ini terasa tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun kepada Allah, namun sesungguhnya merupakan suatu ungkapan dari kerinduan mendalam yang ada dalam hati anak muda itu. Pada kenyataannya Allah memang senang sekali kalau kita mencari-Nya dengan “agresif” seperti itu. Allah senang menjawab doa-doa seperti itu karena di belakang semua itu Dia melihat ada hati yang terbuka, yang dengan penuh kerinduan mohon agar Dia menyatakan diri-Nya.

Kedua, apa yang membuat Tomas menjadi ragu? Apakah dia sekadar mau mengobati kekecewaannya karena tidak hadir pada waktu kedatangan Yesus? Apakah kekecewaan Tomas ini telah membuatnya tidak mau turut bersukacita dengan para murid lainnya? Apakah barangkali karena Tomas merasa takut jangan-jangan apa yang diceritakan oleh rekan-rekannya sekadar isapan jempol saja? Ada yang berpendapat, bahwa apa pun alasan Tomas, jelaslah bahwa emosi-emosinya telah mempengaruhi pemikirannya, sehingga telah menggiring dia sampai kepada sikap keras kepala tidak-mau-percaya. Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus Tomas ini?

Kita masing-masing memiliki  berbagai emosi yang praktis menyusupi semua yang kita pikirkan, kita nilai, kita katakan dan kita lakukan. Kebutuhan seseorang untuk berdamai dengan dirinya sendiri dapat membuat orang itu berkompetisi … artinya bersaing dengan orang-orang lain dengan begitu banyak cara dan dalam begitu banyak bentuknya yang tersembunyi. Misalnya, hasrat seseorang untuk merasa setingkat atau superior ketimbang orang-orang lain dapat membuat orang itu menjadi penuh prasangka buruk terhadap orang-orang lain itu. Tidak hanya prasangka buruk terhadap mereka sebagai pribadi-pribadi, tetapi juga atas apa yang dikatakan mereka dan apa yang telah berhasil mereka capai. Orang yang berprasangka buruk dapat begitu intensnya mencari berbagai kesalahan dan kekurangan orang lain yang menjadi sasarannya, sehingga dia dapat tidak mendengar kebenaran apa pun dalam kata-kata yang diucapkan oleh orang itu, atau melihat apapun yang baik yang dilakukan orang itu.

ST. J0HN MARY VIANNEY - 06Yesus minta kepada kita untuk percaya akan kebenaran-Nya dan sabda-Nya, kendati pun dibawakan kepada kita oleh utusan-utusan-Nya, entah seorang imam atau seorang pegawai rendahan di tempat kita bekerja. Dia mau agar kita mendengar suara-Nya dan melihat kehadiran-Nya dengan telinga dan mata iman. Akan tetapi rahmat-Nya dapat terhalang kalau kita tidak belajar puas terhadap diri kita sendiri secara wajar, dan apabila kita tidak memiliki kemauan untuk menerima orang-orang lain apa adanya.  Hanya apabila kita sudah bebas dari persaingan yang tidak dewasa dengan orang-orang lain, maka mudahlah bagi kita untuk ‘memanfaatkan’ karunia iman yang diberikan Yesus kepada kita.

Tomas sangat beruntung boleh hidup di zaman Yesus dan menjadi salah seorang murid-Nya. Bagaimana dengan kita yang hidup pada zaman modern ini dengan dengan segala perangkat high-tech di bidang informasi, mass media, kompleksitas dalam cara berorganisasi, dan lain-lainnya? Terdapat kesenjangan selama dua millenia! Tidak ada masalah, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Kita semua, anda dan saya, dapat mengalami Yesus sekuat dan se-intens yang dialami Tomas dan para rasul atau murid yang hidup satu zaman dengan Yesus. Yang harus kita lakukan hanyalah meng-komit diri kita pada doa yang keluar dari hati kita yang jujur, dan penuh kerendahan hati. Selagi kita berdoa dengan khidmat/khusyuk dan mohon kepada Yesus agar Dia menyatakan diri-nya kepada kita, Dia akan menunjukkan diri-Nya kepada kita dengan cara-cara yang akan meyakinkan kita tanpa keraguan sedikit pun, bahwa Dia hidup dan dipenuhi dengan kasih bagi kita. Maka kita pun dapat menggemakan juga seruan cinta dan iman dari Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” 

Ada satu lagi yang perlu direnungkan dari bacaan di atas: untuk melihat Tuhan seperti apa adanya, Dia mensyaratkan adanya iman-kepercayaan, dan inilah tujuan dari Yohanes menulis Injilnya, “… supaya kamu percaya bahwa Yesus-lah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:31).

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku yang penuh kasih. Aku sungguh rindu untuk melihat wajah-Mu, ya Tuhan. Nyatakanlah diri-Mu kepadaku secara lebih mendalam lagi. Sembuhkanlah segala ketidak-percayaanku, agar dengan demikian aku dapat bersembah sujud penuh hormat kepada-Mu seraya mengatakan, “Tuhanku dan Allahku!” Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:24-29), bacalah tulisan yang berjudul “DIDIMUS YANG PERLU BUKTI” (bacaan tanggal 3-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul “YA TUHANKU DAN ALLAHKU !!! [2]” untuk bacaan tanggal 3-7-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 27 Juni 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS