MINTALAH KEPADA TUAN YANG EMPUNYA TUAIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 7 Juli 2015) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Kej 32:22-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-36-8,15

Peristiwa pengusiran roh jahat dari orang bisu yang menimbulkan dua reaksi berbeda dari orang-orang yang menyaksikan hal tersebut (Mat 9:33-34) telah disinggung dalam bacaan hari Senin kemarin  yang berjudul “IMAN VS KETIDAKKEPERCAYAAN”. Oleh karena itu baiklah kita memusatkan perhatian kita sekarang pada bagian kedua bacaan Injil hari ini (Mat 9:35-38).

Bacaan bagian kedua ini menjadi semacam jembatan, yang mendesak kita untuk melihat kembali ke belakang, ke Mat 4:23, membuat ringkasan dengan kata-kata yang kira-kira sama tentang pelayanan Yesus, baik lewat kata-kata maupun tindakan-tindakan-Nya. Hal ini menceritakan kepada kita bahwa berbagai mukjizat penyembuhan yang baru saja kita saksikan adalah contoh-contoh dari pelayanan Yesus yang lebih diperluas. Bacaan Mat 4:23-25 diakhiri dengan catatan sebagai berikut: “Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan” (Mat 4:25). Kehadiran orang banyak ini membuat Yesus menyampaikan ajaran-ajaran-Nya yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). Seperti kita ketahui, khotbah Yesus yang terkenal ini dimulai dengan “Ucapan Bahagia” (Mat 5:3-12). Khotbah tersebut sesungguhnya diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya sementara orang banyak ikut mendengarkan.

Demikian pula, bacaan Injil kita hari ini (Mat 9:35-38) melatarbelakangi panggilan-Nya kepada dua belas orang rasul (Mat 10:1-4) dan pengutusan mereka (Mat 10:5-15). Ajaran Yesus tentang “tuaian yang banyak” tidak ditujukan kepada orang banyak (walaupun mereka turut mendengarkan), melainkan kepada para murid yang akan diutus. Walaupun “pelatihan para murid” oleh Yesus belum selesai, Dia menilai mereka sudah siap untuk suatu pengalaman misioner. Para murid-Nya memang tidak perlu sempurna sebelum mensyeringkan Kabar Baik dengan orang-orang kepada siapa mereka masing-masing diutus. Barangkali upaya mereka untuk mensyeringkan Kabar Baik kepada orang-orang lain akan membuat mereka menjadi lebih bergairah untuk belajar lebih banyak lagi setelah kembali. Yang jelas, keputusan Yesus untuk mengutus para rasul-Nya bersumber pada belas kasih dan bela rasa sama yang mendesak diri-Nya untuk melakukan karya pelayanan di tengah publik.

YESUS BERODA DI TEMPAT SUNYIDalam Luk 6:12-16 diceritakan bagaimana Yesus semalam-malaman berdoa kepada Allah sebelum memanggil dua belas orang rasul-Nya. Dalam bacaan hari ini, Yesus mengatakan kepada mereka (para murid yang akan diutus) untuk berdoa kepada “Tuan yang empunya tuaian” (Allah Bapa? Yesus?) supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (lihat Mt 9:38). Bacaan dari Injil Matius ini memandang jauh ke depan, kepada situasi gereja yang berkesinambungan di mana kebutuhan akan tuaian merupakan suatu panggilan yang bersifat permanen untuk berdoa kepada “Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.

Gambaran “tuaian” tidak atau kurang menyebabkan timbulnya kesan pada pembaca modern tentang finalitas dan urgency yang diingatkan dalam Alkitab, di mana kata ini praktis sama artinya dengan penghakiman Allah: (1) “Ayunkanlah sabit, sebab sudah masak tuaian; marilah, iriklah, sebab sudah penuh tempat anggur; tempat-tempat pemerasan kelimpahan, sebab banyak kejahatan mereka” (Yl 3:13); (2) “Juga bagimu, hai Yehuda, telah ditentukan penuaian: Apabila Aku memulihkan keadaan umat-Ku” (Hos 6:11); (3) “Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu, ‘Ayunlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak’” (Why 14:15).

Kedua belas rasul/murid adalah para pekerja untuk tuaian orang-orang terpilih dan berkumpulnya mereka untuk Kerajaan Allah adalah bagian dari bab penutup sejarah dunia (akhir zaman), sebagaimana digarisbawahi oleh Matius dengan memasukkan banyak bacaan tentang ajaran eskatologis dari Injil Markus (Mrk 13:9-13; bdk.  Mat 24:3-13).

(Uraian di atas adalah adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: PAULIST PRESS, 1989, pages 124-125)

DOA: Bapa surgawi, kami menyadari kebenaran dari sabda Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, bahwa tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Biarlah Roh Kudus membentuk kami menjadi pekerja-pekerja yang baik untuk tuaian. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUH ROH JAHAT YANG BARU” (bacaan tanggal 7-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 1 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS