KITA HANYALAH ALAT-NYA !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Sabtu, 11 Juli 2015) 

stdas0609“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

Wajarlah apabila seseorang merasa takut terhadap faktor-faktor yang tidak diketahuinya. Dalam ilmu manajemen, khususnya manajemen perubahan (management of change), “fear of the unknown”  merupakan salah satu penghalang terciptanya perubahan. Bagi banyak dari kita, “evangelisasi” merupakan suatu unknown yang sangat besar. Begitu banyak pertanyaan yang kita ajukan: “Bagaimana kalau pewartaan Injil kita itu tidak diterima? Bagaimana kalau terjadi perlawanan dari berbagai pihak? Bagaimana kalau ada ini, bagaimana kalau ada itu, dst.? Dengan demikian kita akan “aman” apabila dapat menghindar atau bersembunyi dari “makhluk aneh” yang bernama “evangelisasi” itu. Namun selagi kita mengembangkan suatu relasi dengan Roh Kudus, maka kita akan melihat bahwa tahap demi tahap rasa takut itu pun akan menghilang.

Dengan melakukan praktek mendengarkan suara Roh Kudus dan mengikuti pimpinan-Nya kita dapat belajar bahwa Allah tidak akan memberikan kita apa-apa yang kita tidak dapat mengurusnya, dengan demikian kita tidak perlu menjadi cemas. Kita belajar bahwa dengan Allah segala hal mungkin. Kita bahkan belajar bahwa bilamana kita “salah omong” atau “salah langkah”, Allah ada di dekat kita dan Ia akan mengoreksi kita dengan lembah lembut dan menghibur kita, mengajar kita, dan bahkan memberkati upaya-upaya kita yang salah jalan tadi.

Ketergantungan kita pada Roh Kudus – seperti diungkapkan dalam doa-doa, sikap dan perilaku hidup Kristiani kita sehari-hari – memberdayakan penginjilan karena hal tersebut menghubungkan kita dengan kasih yang mengusir rasa takut kita. Manakala kita berdoa untuk orang-orang lain, kita belajar untuk rileks dalam damai-sejahtera yang melampau pemahaman. Selagi kita  memperkenankan Allah membuat ringan beban-beban kita, maka kita  semakin dibebaskan untuk memperhatikan orang-orang di sekeliling kita. Kita pun belajar bahwa tindakan kebaikan hati kita yang sederhana dapat berdampak jauh. Misalnya, kita dapat mencoba memperkenalkan diri kita kepada seseorang setelah Misa Kudus selesai, dan katakanlah kepada orang itu sesuatu yang positif. Kadang-kadang diperlukan suatu tindakan iman yang istimewa agar dapat mengatasi rasa “kikuk”, akan tetapi sikap bersahabat kita (di gereja atau di super market, atau di mana saja kita secara teratur bertemu dengan orang yang sama) dapat membentuk “panggung” untuk melakukan syering pribadi iman-kepercayaan kita.

Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita bilamana waktunya telah tiba untuk berbagi Injil Yesus Kristus dengan orang-orang lain yang kita temui. Dalam hal ini baiklah kita masing-masing tetap sederhana dan mengambil sikap sebagai seorang pribadi. Kita fokus pada kasih Allah, pengampunan-Nya, berkat-berkat-Nya, penghiburan-penghiburan-Nya, dan janji-janji-Nya akan kehidupan kekal. Tidak perlulah bagi kita dalam hal ini untuk masuk ke dalam debat-debat berkaitan dengan isu-isu doktrinal.  Barangkali berguna bagi kita untuk mengikuti kerangka dasar dari “Pengakuan Iman” (Syahadat Para Rasul) yang memiliki urut-urutan sebagai berikut: Ciptaan, penebusan, dan pengudusan. Kita tidak boleh sekali-sekali menjelek-jelekkan agama-agama lain, termasuk denominasi-denominasi Kristiani lainnya! Selagi proses penginjilan kita berjalan dan terasa ada desakan dalam batin untuk melakukannya, maka kita dapat mendorong mereka untuk membaca Injil. Kita dapat meminjamkan Kitab Suci kepada mereka. Apabila mereka ingin mendalami lebih lanjut, kita dapat menganjurkan mereka untuk membaca buku-buku rohani yang telah menolong kita sendiri di masa lampau. Di atas segalanya, kita harus mendorong mereka untuk bertekun memohon kepada Yesus agar terjalin relasi pribadi dengan-Nya. Yang senantiasa harus kita ingat adalah, bahwa evangelisasi adalah mengenai segala sesuatu yang telah Yesus katakan dan lakukan, bukan apa yang kita katakan dan lakukan! Kita hanyalah alat, seperti “keledai” yang ditunggangi Yesus ketika memasuki kota Yerusalem, bukan Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, begitu sering aku merasa takut dan tak berdaya untuk melakukan penginjilan seturut perintah-Mu. Namun dengan rendah hati aku mohon kepada-Mu agar jangan lupa mengutus aku untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kasih Allah kepada umat manusia, pada saat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “TAKUT DAN TIDAK TAKUT” (bacaan tanggal 11-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 8 Juli  2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS