TUJUAN SEBENARNYA DARI HUKUM SABAT ADALAH MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 17 Juli 2015) 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18 

Secara teknis, tindakan memetik bulir gandum itu melanggar hukum Musa (lihat Kel 20:8-11). Tentunya berdasarkan apa yang ditulis dalam kitab Keluaran itu, orang-orang Farisi merasa dibenarkan dalam menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat. Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengacu kepada bacaan Kitab Suci (1Sam 21:1-6) yang menceritakan apa yang dilakukan oleh Raja Daud sendiri dalam situasi yang khusus, agar orang-orang Farisi itu mengerti sedikit apa tujuan sebenarnya dari hukum Sabat.  Orang-orang Farisi ini begitu disibukkan dengan adat-istiadat serta disiplin agama mereka sehingga mereka lupa mendalami tujuan sebenarnya dari hukum itu, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.

Di lain pihak, kita pun harus berhati-hati untuk tidak cepat-cepat menyalahkan orang-orang Farisi. Mereka sebenarnya mencoba untuk menjaga tradisi-tradisi Yahudi di tengah-tengah suatu krisis nasional pada masa itu. Kekaisaran Romawi menduduki wilayah Palestina untuk waktu yang lama, sehingga tidak sedikit orang Yahudi yang terpengaruh oleh praktek-praktek kekafiran orang Romawi. Mereka menukarkan iman-kepercayaan mereka dengan berbagai filsafat atau falsafah hidup yang berpusat pada manusia.  Bagi kaum Farisi, satu-satunya batasan dalam rangka memelihara dan menjaga identitas bangsa Yahudi, adalah penerapan hukum Musa secara ketat. Namun  sayang saja jalan yang mereka tempuh di tengah masyarakat keliru, teristimewa dalam pengungkapannya.

Sepanjang sejarah, legislasi moral yang kaku itu bersifat opresif dan ujung-ujungnya membuat orang-orang merasa bersalah dan merasa tidak dikasihi. Dalam kelemahan kita sebagai manusia, praktis kita tidak dapat mentaati hukum Allah yang adil. Mengharapkan diri kita sendiri dan orang-orang lain untuk memperoleh keselamatan sekadar melalui tindakan-tindakan sesungguhnya bertentangan dengan pesan Yesus. Dalam upaya mereka untuk mendorong hukum Yahudi, banyak orang Farisi menjadi orang-orang yang bersikap suka menghukum dan menuduh – hal ini sungguh bertentangan dengan tujuan Allah dalam hukum-Nya.

Upaya untuk mengikuti jalan-jalan Allah seturut kekuatan kita sendiri merupakan sebuah beban dan pasti akan menuju kegagalan.Efek-efek dari dosa asal telah melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi tuntutan-tuntuan hukum. Inilah sebabnya mengapa Yesus datang ke dunia: Demi kasih-Nya Dia ingin menebus kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri kita bagi Kabar Baik yang diwartakan-Nya. Sadar akan kenyataan bahwa kita tidak mempunyai harapan untuk mampu mengikuti hukum-Nya berdasarkan kekuatan sendiri, maka kita dapat menemukan Dia dalam doa-doa kita, dalam sakramen-sakramen dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci. Dia akan memimpin kita dalam jalan-jalan-Nya dengan hati baru yang mencerminkan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat berdiam bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “MELEBIHI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 17-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

Cilandak, 14 Juli 2015 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS