KASIH SEJATI SEORANG MURID SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maria Magdalena – Rabu, 22 Juli 2015)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen 

william-brassey-hole-jesus-revealing-himself-to-mary-magdalenePada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9

Pada hari ini – tanggal 22 Juli – kita memperingati Santa Maria Magdalena. Maria Magdalena adalah seorang kudus yang tidak pernah menyusut atau menghilang dari hati umat Kristiani yang mencintainya sampai hari ini. Walaupun terdapat banyak legenda dan tradisi yang beredar tentang dirinya, sesungguhnya tidak banyak yang diketahui tentang dirinya. Maria Magdalena bukanlah Maria dari Betania, saudara perempuan dari Lazarus dan Marta. Juga tidak ada alasan bagi kita untuk menghubung-hubungkan Maria Magdalena dengan seorang perempuan yang kedapatan sedang berzina (Yoh 8:1-11), atau perempuan pendosa yang membasuh kaki Yesus dengan air-matanya (Luk 7:36-50).

Kita mengetahui bahwa Yesus mengusir tujuh roh jahat dari Maria Magdalena (Luk 8:2) dan ia adalah salah seorang perempuan yang mengikut Yesus  dan melayani kebutuhan-Nya waktu Yesus dan rombongan-Nya berkarya di Galilea (Mrk 15:40-41). Tiga penulis Injil menyebut Maria Magdalena sebagai salah seorang yang menyaksikan penyaliban Yesus (Matius, Markus dan Yohanes). Injil Matius mengidentifikasikan Maria Magdalena sebagai salah seorang yang hadir pada saat Yesus dikuburkan (Mat 27:61) dan bersama Maria yang lain merupakan orang-orang pertama yang pergi ke kubur yang kosong pada pagi hari Paskah, kemudian mewartakan kebangkitan Kristus kepada para murid-Nya (baca: Mat 28:1-10). Baiklah kita  mengambil waktu juga untuk membanding-bandingkan narasi pagi hari Paskah dalam Matius dengan ketiga kitab Injil lainnya (Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12; Yoh 20:1-10). Dalam narasi keempat kitab Injil, peranan penting Maria Magdalena dalam peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus sungguh tak terbantahkan. Maria Magdalena memang adalah seorang murid Yesus yang sejati!

Ketika Yohanes menggambarkan Maria Magdalena “menangis” di luar kubur, dia menggunakan kata Yunani klaio, artinya menangis tersedu-sedu karena kesedihan mendalam. Jadi, bukan sekadar mengeluarkan beberapa tetes air mata. Kata Yunani yang digunakan ini berarti menangis dengan hati yang sungguh hancur. Matius menggunakan kata Yunani yang sama sehubungan dengan kesedihan setelah terjadi peristiwa pembantaian anak-anak yang tidak bersalah di Betlehem atas perintah raja Herodus (Mat 2:18). Markus menggunakan kata Yunani yang sama untuk menggambarkan situasi di rumah Yairus ketika Yesus tiba: “dilihat-Nya orang-orang rebut, menangis dan meratap dengan suara nyaring” (Mrk 5:38-39). Di lain pihak, Lukas menggunakan kata Yunani yang sama untuk menggambarkan Petrus yang pergi ke luar dan menangis dengan sedih karena telah menyangkal Yesus (Luk 22:62). Jelaslah di sini, bahwa tangis Maria Magdalena adalah suatu tanda dari kesedihannya yang amat sangat karena dia mengetahui bahwa Yesus, perwujudan kebenaran dan kasih baginya, telah diambil dari dirinya.

Saudari dan Saudara yang terkasih, sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah kita (anda dan saya) mengasihi Tuhan Yesus sebagaimana Maria Magdalena mengasihi-Nya? Pada waktu kita memisahkan diri kita dari Yesus melalui/karena dosa, apakah kita merasakan kepedihan mendalam karena berpisah dengan-Nya setelah kematian-Nya seperti yang dirasakan oleh Maria Magdalena? Maria Magdalena berpikir bahwa dia tidak akan melihat Yesus lagi, namun hal ini tidak mengurangi kasihnya kepada Yesus. Nah, berapa banyak lagi kita harus menambah kasih kita kepada Yesus, apalagi kepada kita telah dijanjikan hidup kekal bersama-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, kasihku kepada-Mu seringkali begitu dangkal dan steril. Tolonglah diriku agar mengasihi-Mu dengan semakin intens, sehingga semakin mendalam dari hari ke hari. Biarlah kasihku bertumbuh untuk menjadi seperti kasih-Mu yang mendalam kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MAGDALENA HIDUP HANYA UNTUK MELAYANI-NYA” (bacaan tanggal 22-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 18 Juli 2015 [PESTA S. ODILIA, Perawan dan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS