MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL INI [2]

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja, Pelindung Misi – Kamis, 1 Oktober 2015)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5) 

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b atau 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3; Bacaan Injil alternatif: Luk 10:1-12 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Pada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresia dari Lisieux [1873-1897], perawan dan Pujangga Gereja. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresa Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”.

Ada dua orang perempuan kudus dari Ordo Karmelites Tak Berkasut (OCD) – pada zaman yang berbeda – yang bernama Teresia, yang satunya adalah Santa Teresia dari Avila atau “Teresia Besar” yang juga adalah seorang Pujangga Gereja.

Ketika masih berumur 12 tahun Teresia sudah berjanji kepada Kristus: “Yesus di kayu salib yang haus, aku akan memberikan air pada-Mu. Aku akan menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat.” Pendosa pertama yang bertobat berkat doa gadis kecil ini adalah seorang penjahat kelas berat yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesali perbuatan-perbuatan jahatnya. Orang itu bertobat di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukumannya. Luar biasa!!! Meskipun para suster dalam biara (termasuk dua orang kakaknya) mencintai Teresia, hal ini tak berarti dia luput dari berbagai pencobaan batin dan kekeringan. Karena kematangan jiwanya, Teresia sudah diangkat menjadi magistra novis ketika dia baru berumur 20-an tahun.

Dalam biara dengan klausura ketat, Teresia berjuang untuk menempuh “jalan sederhana” menuju kesucian, yaitu secara konsekuen percaya dan mengasihi Tuhan. Ia selalu menampilkan wajah yang jernih dalam situasi yang bagaimana pun. Orang kudus muda ini menderita sakit paru-paru yang parah dan akhirnya meninggal ketika berusia 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadi yang ditulis atas permintaan pemimpin biaranya. Judulnya: “Kisah satu jiwa” (Inggris: The Story of a Soul). Di situ Teresia menunjukkan, bahwa kesucian dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa-biasa saja orang itu. Caranya adalah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Lewat teladan hidupnya, Teresia telah mengajarkan, bahwa kita dapat bersatu dengan Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya setiap saat dari kehidupan kita sehari-hari. Persembahan sederhana itu dapat menjadi sarana bagi kita guna mencapai kesucian yang kita rindukan.

st-therese-of-lisieuxPara suster Karmelites di Hanoi, Indo-China (Viet Nam sekarang) memintanya untuk memperkuat biara di sana, namun penyakit yang dideritanya tak mengizinkan. Delapan belas bulan terakhir dari hidupnya adalah periode penderitaan-badani yang sangat menyakitkan bagi Teresia, pada saat yang sama juga merupakan masa pencobaan rohani. Pada bulan Juni 1897 Teresia dipindahkan ke ruangan khusus untuk para penderita sakit di biara dan tidak pernah keluar lagi dari sana sampai saat ajalnya pada tanggal 30 September. Suster muda, sederhana dan suci ini menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah bibirnya mengucapkan sabda-sabda ilahi dari Kitab Suci. Teresia diangkat menjadi seorang beata oleh Paus Pius XI pada tahun 1923 dan Paus yang sama mendeklarasikannya sebagai seorang santa pada tahun 1925.

Pada tahun 1927, bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius, Teresa diangkat menjadi pelindung Misi, meskipun belum pernah pergi ke luar negeri. Dia adalah juga pelindung para penjual bunga. Santo Fransiskus Xaverius yang Yesuit itu diutus Yesus Kristus ke ujung-ujung bumi, tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh tujuh puluh murid seperti diceritakan dalam bacaan Injil alternatif di atas (Luk 10:1-12), sedangkan Teresia diutus – melalui doa-doanya – juga ke mana-mana, meskipun secara fisik berkedudukan secara statis dalam selnya. Kita memang suka lupa bahwa kegiatan doa yang benar juga merupakan kegiatan kerasulan. Memang Jalan Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata yang berdasarkan akal budi semata. Inilah Penyelenggaraan Ilahi yang penuh dengan misteri. 

Setiap hari, marilah kita menanggapi panggilan Tuhan Yesus Kristus. Memang kadang-kadang barangkali kita merasa tak pantas, namun sebenarnya kepada kita telah diberikan kuasa dan wewenang untuk menjadi “kaki-tangan” Yesus membawa jiwa-jiwa ke surga. Kalau kita berdiam dalam Kristus dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya, maka cinta kasih-Nya akan dapat dipastikan mengalir dari dalam diri kita. Baiklah kita melihat setiap hari dengan pengertian bahwa kepada kita telah diberikan suatu kesempatan untuk menjadi saksi Injil, mendoakan orang yang menderita segala sakit-penyakit, fisik maupun rohani, dan mengusir roh-roh jahat.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut cara Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus, dengan demikian kami dapat melihat kemuliaan-Mu yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL INI” (bacaan tanggal 1-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 28 September 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS