MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MEMELIHARANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 10 Oktober 2015) 

YESUS GURU KITAKetika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Yl 3:12-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12

Ketika 70 murid-murid Yesus kembali dari perjalanan misi mereka (Luk 10:17-20), mereka memuji Dia dan diri mereka sendiri untuk kuasa nama Yesus atas roh-roh jahat. Kemudian Yesus meluruskan kembali “euforia” mereka dengan mengajar mereka: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga”  (Luk 10:20). Langsung setelah mengatakan hal itu Yesus juga bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa-Nya di surga untuk apa yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya. Sekarang, ketika perempuan dalam bacaan Injil hari ini memuji Yesus dan ibunda-Nya dengan mendeklarasikannya sebagai “berbahagia” karena mengandung dan menyusui seorang nabi besar, sekali lagi Yesus meluruskan kembali pujian itu kepada Allah: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28).

Jauh dari sikap “mengecilkan” peranan ibunda-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Maria bukanlah sekadar seorang gadis beruntung yang menjadi favorit Allah dan kepadanya dicurahkanlah rahmat berlimpah. Yesus memahami bahwa Maria adalah seorang pribadi manusia yang senantiasa memilih untuk meletakkan hidupnya demi ketaatan pada Allah, dan ini sungguh merupakan berkat sejati. Baik Malaikat Agung Gabriel maupun saudaranya, Elisabet, dapat melihat iman dan ketaatan Maria, dan inilah sebabnya mengapa Maria disebut “penuh rahmat” (doa Salam Maria) atau “beroleh anugerah di hadapan Allah” (Luk 1:30; TB II-LAI) oleh Gabriel. Elisabet mengatakan: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Kepada Gabriel, Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Sekarang, pertimbangkanlah konsekuensi-konsekuensi dari fiat atau “ya” dari Maria terhadap pesan luarbiasa sang malaikat. Bayangkanlah diri kita (anda dan saya) sebagai seorang gadis muda pada zaman itu, sudah bertunangan dan siap untuk pernikahan, sekarang bersedia menerima kehendak Allah untuk hamil secara ajaib (oleh kuasa Roh Kudus) sebelum kita memasuki saat pernikahan resmi. Hal ini tentu saja sulit untuk kita jelaskan kepada ibu kita maupun tunangan/calon suami kita, apalagi berbagai kemungkinan menyebarnya desas-desus di Nazaret tempat kita tinggal? Tidak inginkah kita mengusulkan kepada Allah untuk menunda perkandungan oleh Roh Kudus itu sampai saatnya pernikahan? Apakah dunia sungguh perlu mengetahui bahwa itu adalah kelahiran dari seorang perawan? Apakah kita sungguh mau mengambil risiko dirajam dengan batu oleh para anggota masyarakat karena dosa perzinahan?

Tindakan iman Maria dan ketaatannya sungguh luarbiasa, dan sampai hari ini sulit untuk dibayangkan oleh kita dengan sekadar memakai akal-budi kita. Oleh karena tindakan imannya itu Maria pantas untuk dijuluki “Hawa yang baru”. Mengapa? Karena seperti juga Hawa, Maria memiliki kehendak bebas, namun tidak seperti Hawa, dia menaruh kepercayaannya dengan benar, beriman, dan dia taat. Ini adalah sosok perempuan yang dikenal oleh Yesus sebagai ibunya. Yesus melihat kondisi terberkatinya dalam hikmat-kebijaksanaannya, kekuatannya, imannya, dan ketaatannya. Kita pun dapat terberkati apabila kita berupaya untuk mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah sangat memberkati kami dengan privilese-privilese untuk menjadi murid-murid-Mu. Semoga kami dapat belajar untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu dan mentaati Engkau, seperti yang dicontohkan oleh Maria. Tolonglah kami juga untuk memahami berbagai implikasi dari penyangkalan diri kami guna mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), bacalah tulisan yang berjudul “TINDAKAN-TINDAKAN KETAATAN” (bacaan tanggal 10-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-10-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 7 Oktober 2015 [Peringatan SP Maria, Ratu Rosario] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS