MENGKLAIM WARISAN KITA SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 27 Oktober 2015) 

St Paul Icon 4Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka  saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yuaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Rm 8:18-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Luk 13:18-21 

“… kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Rm 8:23). 

Santo Paulus mengatakan bahwa kita semua telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah (lihat Rm 8:15). Allah telah mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya sendiri. Rasa memiliki martabat, kepantasan, dan bahkan kemampuan untuk dikasihi dapat mengalir dari kebenaran yang mengejutkan ini. Kita semua sebenarnya tidak pantas, namun telah dirahmati dengan warisan ilahi yang tidak seorang pun yang dapat mengambilnya dari diri kita.

Bagaimana caranya kita mengklaim warisan ini? Kita dapat mencoba dengan suatu “eksperimen dalam Roh”. Untuk beberapa hari ke depan (katakanlah tiga hari) kita tentukan sesuatu yang spesifik dalam doa-doa kita, yaitu memohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita ke dalam suatu perjumpaan yang lebih mendalam dan lebih akrab dengan Bapa surgawi. Kita juga memohon kepada Roh Kudus untuk melingkupi kita dengan pengetahuan bahwa Allah sungguh adalah “Abba” atau “Ayah” kita (lihat Rm 8:15) – seorang Bapa yang penuh kebaikan, belas kasih dan suatu kasih yang lemah lembut dan melampaui bapa manusia mana pun.

Selagi kita berdoa, perhatikanlah cara bagaimana Roh Kudus mengubah pandangan kita tentang kehidupan. Carilah suatu keyakinan yang lebih mendalam bahwa kita (anda dan saya) dapat menghadap Yesus dan mohon kepada-Nya untuk membebaskan kita dari rasa takut, dosa, atau kebiasaan yang mungkin selama ini membelenggu kita. Kita harus berusaha untuk mengasihi Allah secara lebih mendalam, sesuatu yang mengalir dari hati kita dan yang mengangkat kita di tengah berbagai tantangan atau kemunduran. Marilah kita lihat juga apakah kita dapat melihat diri kita tersenyum, bahkan tertawa dengan lebih cepat dan spontan. Kita harus waspada agar supaya martabat kita yang telah dimenangkan oleh Yesus di atas kayu salib tidak dirampas oleh si Jahat. Kemenangan itu adalah milik kita. “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan …… tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah” (Rm 8:15).

Sementara kita melanjutkan doa untuk lebih mengenal Allah Bapa secara lebih mendalam, baiklah untuk memikirkan ROHHULKUDUStentang apa yang dimaksudkan dengan anak-anak Allah karena adopsi. Panti asuhan pada umumnya penuh sesak, di mana setiap anak yatim-piatu berharap-harap pada suatu hari sepasang orangtua ideal akan mengadopsi dirinya, dengan demikian mereka dapat mengalami kehidupan yang samasekali berbeda (tentunya lebih baik). Situasi kita dalam Kristus tidaklah seperti dalam panti asuhan seperti itu. Keselamatan dalam Kristus bukanlah suatu realitas masa depan, melainkan sesuatu yang kita mulai alami ketika diri kita digabungkan dengan/ke dalam Kristus pada saat dibaptis dan terus mengalaminya selagi hiidup-Nya bertumbuh dalam diri kita dan di antara kita.

Bagaimana kita dengan cara terbaik dapat menyiapkan adopsi tersebut? Dengan menghayati hidup seakan kita telah menjadi anggota penuh dari keluarga Allah. Keanggotaan itu mungkin sekali-kali sulit untuk dikenali. Para orangtua dan anak-anak mereka yang sedang berada di tengah ketidakcocokan dalam relasi, mungkin tidak menyadari betapa dalam mereka menilai/menghargai satu sama lain. Orang-orang yang terlibat dalam suatu tugas yang rumit dan menuntut banyak pikiran dan tenaga mungkin saja lupa sampai berapa jauh mereka telah melibatkan diri dalam tugas tersebut atau ke arah mana seharusnya mereka melanjutkan pengerjaan tugas itu.

Ada satu hal yang jelas: Dari hari ke hari, Allah bekerja dalam diri kita, tidak hanya memanggil kita sebagai anak-anak-Nya sendiri, tetapi juga rindu untuk mencurahkan kasih kebapaan-Nya atas diri semua orang (anak-anak-Nya) yang datang kepada-Nya. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku. Marilah kita mengklaim warisan kita, dan biarlah kasih-Nya membanjiri hati kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus Allah, aku mengetahui bahwa hidup Yesus telah bekerja dalam diriku. Aku tahu bahwa Engkau telah berseru “Abba! Bapa!” dari relung hatiku yang terdalam. Tolonglah aku agar supaya mampu suara-Mu dan hidup hari ini sebagai seorang anggota penuh dari keluarga Allah. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI SESAWI DAN RAGI” (bacaan tanggal 27-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 24 Oktober 2015 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements