HANYA SEORANG SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours, Uskup – Rabu, 11 November 2015) 

SEORANG KUSTA ORANG SAMARIADalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19

Bacaan Injil hari ini adalah mengenai mukjizat dan penyembuhan sepuluh orang kusta. Namun ada perbedaan hakiki antara penyembuhan orang kusta dalam bacaan Injil hari ini dengan cerita-cerita penyembuhan di bagian lain Injil Lukas, bertolak belakang dengan yang biasanya kita bayangkan.

Misalnya, dalam cerita tentang penyembuhan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (Luk 5:17-26; bdk. Mrk 1:16-20), Yesus melihat iman dari teman-teman si lumpuh, lalu Ia berkata kepadanya: “Hai saudara, dosa-dosamu  sudah diampuni.”  Hanya setelah Yesus mengetahui pikiran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menuduh bahwa Dia menghujat Allah, maka Dia menyembuhkan orang lumpuh itu secara fisik. Namun bacaan Injil hari ini menunjukkan suatu perbedaan, malah boleh dikatakan kebalikannya. Pertama-tama Yesus menyembuhkan penyakit kusta dari sepuluh orang itu di tengah perjalanan mereka untuk menemui para imam, lalu hanya seorang saja (orang Samaria) yang kembali menemui-Nya untuk berterima kasih penuh syukur karena disembuhkan. Yesus berkata kepada orang-orang yang hadir: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”  (Luk 17:17-18). Lalu Dia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19). Ucapan Yesus yang terakhir ini mengindikasikan penyembuhan rohani dari pengampunan dan keselamatan (spiritual healing of forgiveness and salvation).

Memang sungguh mengagetkan, sembilan dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan tidak kembali untuk berterima kasih penuh syukur kepada Yesus. Kita tidak dapat mengetahui apa-apa lagi tentang sembilan orang yang tidak tahu berterima kasih itu, namun kita dapat berasumsi bahwa  ketiadaan pertimbangan mereka tersebut masih menghadang mereka untuk menjadi selamat pada tingkatan rohani. Dengan tidak kembalinya mereka kepada Yesus, mereka membuat diri mereka luput dari kesembuhan yang lebih besar. Memang benar bahwa Yesus ingin menyembuhkan kita secara fisik, namun Ia juga berminat – malah boleh dikatakan lebih berminat – dalam hal penyembuhan rohani (spiritual healing). Kita tahu bahwa paling sedikit ada seorang di antara sepuluh orang kusta tersebut yang diangkat ke surga karena dia telah diselamatkan.

reconciliation2Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kita berjumpa dengan kuat-kuasa Yesus untuk menghapus dosa-dosa kita dan mengatakan kepada kita: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”  Apa yang harus kita lakukan sebenarnya mudah. Kita perlu datang menghadap Yesus dan mohon pengampunan-Nya, dan kemudian mencoba untuk tidak berdosa lagi. Yesus akan melakukan selebihnya. Dia mengampuni, Dia menyembuhkan, Ia memperbaiki relasi kita dengan Bapa dan diri-Nya. Pokoknya, Yesus menyelamatkan, Ia membuat kita OK. Jikalau Yesus dapat melakukan begitu banyak kebaikan bagi kita, bagaimana kita sampai mengabaikan/lupa untuk melakukan bagian kecil yang diminta dari kita, yaitu berterima kasih penuh syukur kepada-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa oleh otoritas-Mu sebagai Putera Allah, Engkau memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosaku. Melalui Sakramen Rekonsiliasi, aku mengakui dosaku dan mohon kepada-Mu untuk menyelamatkan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 6:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN” (bacaan tanggal 11-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 6 November 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS