MEREKA ADALAH ANAK-ANAK ALLAH, KARENA MEREKA TELAH DIBANGKITKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Sabtu, 21 November 2015)

JesandSadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40) 

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16,19

Orang-orang Saduki adalah sebuah kelompok pemuka agama yang – seperti juga orang-orang Farisi – menentang Yesus. Namun tidak seperti orang-orang Farisi, mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati dan mereka juga berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai sumber otoritas mereka satu-satunya. Orang-orang Saduki ini adalah kelompok yang lebih kaku-keras-ketat daripada orang-orang Farisi. Jadi, tidak mengherankanlah apabila mereka merasa tersinggung oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatannya radikal dan juga penerimaan oleh orang banyak atas ajaran-Nya.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang guna menjebak Yesus dan mempermalukan Dia dan ajaran-Nya. Persoalan hipotetis tentang perempuan yang tidak beranak dan kawin berturut-turut dengan saudara laki-laki suaminya yang meninggal seturut hukum Levirat adalah umpan agar Yesus dapat terjerat. Apakah ada kebangkitan setelah seseorang meninggal dunia? Kalau begitu jadinya, bagaimana ajaran Musa dapat diterapkan dalam situasi yang mengandung teka-teki tersebut?

Yesus mengetahui apa yang ada di belakang pertanyaan “nakal” orang-orang Saduki tersebut. Mula-mula Yesus menjawab pertanyaan mereka  berdasarkan pengertian mereka sendiri, namun pada saat sama Dia berupaya meningkatkan pikiran mereka ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, – seperti juga yang secara tradisional dilakukan oleh para rabi – Yesus pertama-tama menyajikan suatu ringkasan dari ajaran-ajaran-Nya. Guna mendukung ajaran-ajaran-Nya, Yesus memetik dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Luk 20:37), satu-satunya otoritas yang dapat diterima oleh orang-orang Saduki.

Namun kita harus mencatat bahwa Yesus ingin melakukan lebih daripada sekadar membuktikan siapa diri-Nya. Sementara bentuk tanggapan Yesus sejalan dengan tradisi mereka, isi pesan-Nya menunjukkan suatu perbedaan yang radikal. Orang-orang benar tidak hanya dibangkitkan ke dalam kehidupan, melainkan juga mereka adalah  “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36). Bapa surgawi tidak hanya memberikan kehidupan di atas bumi, melainkan juga Dia menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan melampaui kubur. Karena kematian dikalahkan, anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; mereka semua hidup di hadapan-Nya” (Luk 20:36,38) dalam suatu kehidupan baru yang lengkap, mengatasi kehidupan yang mereka kenal di atas bumi.

Dengan demikian jawaban Yesus sungguh melampaui pertanyaan-pertanyaan orang-orang Saduki untuk menyatakan kasih dan rahmat Bapa. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita (anda dan saya) dapat mengalami kehidupan seperti hidup Yesus sendiri, bebas dari maut dan hidup bagi Allah (Rm 6:5-11). Jika kita bersatu dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengenal kebebasan dan mengalami kebebasan dari dosa dan maut, buah pertama dari hidup surgawi yang menantikan kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu hidup yang ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami agar senantiasa setia selagi kami mengantisipasi sukacita hidup kekal-abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA TIDAK BERANI LAGI MENANYAKAN APA-APA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 21-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 18 November 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS