BUKAN RAJA DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA – Minggu, 22 November 2015) 

christ-before-pilate-mihaly-munkacsy
Pilatus masuk kembali ke dalam istana gubernur, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yoh 18:33-37)
 

Bacaan Pertama: Dan 7:13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5; Bacaan Kedua: Why 1:5-8

Pada hari ini kita merayakan HARI KRISTUS RAJA. Kita memproklamasikan Yesus sebagai Raja, namun kita mengakui-Nya sebagai Raja dengan suatu perbedaan. Yesus bukanlah Raja dunia.

Bacaan pertama yang diambil dari Kitab Daniel berbicara mengenai penglihatan Daniel tentang seorang tokoh eskatologis – anak manusia – yang datang kepada Yang Lanjut Usianya. Kepada anak manusia ini diberikan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suka bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14). Mazmur Tanggapan hari ini menjelaskannya dengan baik: “TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, …” (Mzm 93:1).

Dalam bacaan kedua yang diambil dari Kitab Wahyu, tema “Raja” ini terus berlanjut. Namun tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang dimaksudkan sebagai “Raja segala raja” adalah Yesus Kristus. Ia adalah “yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” (Why 1:5). Martabat Yesus Kristus sebagai raja mencakup seluruh dunia, dan semua bentuk otoritas tunduk pada pemerintahan-Nya.

KRISTUS RAJA - 1Sekarang, kita mulai bertemu dengan aspek-aspek yang lebih menyusahkan hati berkaitan dengan Kristus sebagai Raja. Dalam Kitab Wahyu kita membaca bahwa Yesus Raja kita “telah melepaskan/menebus kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (Why 1:5). Walaupun Yesus akan datang kembali dengan penuh kuasa, kita membaca: “juga mereka yang telah menikam Dia. Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia” (Why 1:7). Jadi, walaupun dalam kemuliaan-Nya, Yesus terus mengenakan bekas-bekas luka karena penyaliban diri-Nya.

Mengapa ada paradoks seperti ini? Karena penulis Kitab Wahyu menginginkan agar kita menyadari bahwa pemuliaan dan kemuliaan tidak datang begitu saja. Kemuliaan dan rekonsiliasi dimungkinkan karena Yesus mencurahkan darah-Nya sendiri bagi kita. Di atas kayu salib, Yesus menyatakan apa artinya kasih itu dan siapa Allah itu sebenarnya. Dia adalah Allah yang menderita bagi kita dan kasih-Nya tak kenal lelah. Alfa dan Omega, Yang Mahakuasa dinyatakan di atas kayu salib sebagai KASIH. Kasih di sini bukanlah suatu perasaan nyaman atau suatu cinta yang asyik-nyaman selalu. Kasih adalah komitmen dan kesetiaan di hadapan dosa, perpecahan dan kebencian. Luka-luka karena penderitaan Yesus tidak boleh dibuang atau digeser ke tempat lain. Luka-luka Kristus tidak dapat dilepaskan dari takhta dan mahkota-Nya. Pemuliaan dan kemuliaan Yesus Kristus (dan kita juga) tumbuh dari pengalaman dina akan kematian dan kebangkitan.

Pertanyaan Pilatus dalam bacaan Injil hari ini adalah pertanyaan kita juga: “Apakah Engkau seorang Raja?” Pilatus tidak dapat menangani realitas kuat-kuasa kasih. Ia hanya mengenal cinta kekuasaan. Yesus adalah seorang Raja yang tidak memiliki pasukan darat, laut maupun udara. Kekuasaan Yesus adalah kuat-kuasa kasih yang mentransformasikan hati manusia dan bekerja sepanjang sejarah. Ini adalah kasih dari seorang Raja yang berdiam dan memerintah dari awan-awan di langit sana karena memerintah juga dari Salib. Mampukan kita “berurusan” dengan Raja seperti ini?

Pada hari ini kita merayakan Yesus Kristus sebagai Raja. Akan tetapi, kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing apakah Dia sungguh hadir dalam kehidupan kita? Apakah Dia memerintah dalam hati kita? Kita dapat saja membayangkan diri kita berada di takhta dan menghakimi dua belas suku Israel. Namun kita pun harus mengingat bahwa Dia yang berkuasa dan penuh kemuliaan itu juga membawa bekas-bekas luka di bagian-bagian tubuh-Nya. Kita tidak dapat memiliki mahkota tanpa salib. Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil untuk membawa Yesus Kristus bersama kita, salib-Nya, … semuanya yang berkaitan dengan diri-Nya. Dalam dunia yang penuh dengan berbagai macam klaim, baik dari raja-raja palsu, raja-raja kecil ataupun raja-raja uang yang penuh kuasa, kita harus berani memproklamasikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja kita, dan kepada Dia sajalah kita akan mengabdikan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah Engkau sebagai Rajaku! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu bahwa Engkau sungguh melindungiku, memperhatikanku, dan mendengar seruanku kepada-Mu. Berikanlah kepadaku kebaikan-Mu dan belas kasih-Mu setiap hari sepanjang hidupku. Semoga aku dapat berdiam bersama-Mu dalam Kerajaan-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 18:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN-KU BUKAN DARI DUNIA INI” (bacaan tanggal 22-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015] 

Cilandak, 19 November 2015 [Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS