MAKNA SESUNGGUHNYA DARI APA YANG KITA BERIKAN MENGALIR DARI HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 23 November 2015)

003-widow-mite 

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4) 

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu”  (Luk 21:3).

Guna memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus di sini, maka bergunalah bagi kita untuk mengetahui betapa rendah/kecilnya nilai dua uang tembaga tersebut. Dalam bahasa Yunani, uang logam tembaga dikenal sebagai lepta; uang Yunani  dengan denominasi paling kecil, yang ada dalam peredaran pada masa itu. Satu denarius – upah seorang pekerja untuk satu hari – terdiri dari 128 lepta. Artinya, sang janda miskin memberi sumbangan kepada perbendaharaan Bait Allah hanya sebanyak 1/64 dari upah harian rata-rata seorang buruh. Jumlah yang sedikit saja, bukan?

Jadi, mengapa Yesus mengatakan bahwa sang janda miskin telah memberi lebih banyak daripada semua orang (beberapa di antaranya adalah orang-orang kaya)? Sebagaimana biasanya, keprihatinan Yesus adalah bahwa tindakan-tindakan eksternal seseorang mencerminkan hatinya terhadap Allah. Sang janda miskin tentunya sangat mengasihi Allah sehingga dia ikhlas mempersembahkan segala yang dimilikinya untuk melanjutkan hidupnya. Baginya Allah jauh lebih berharga ketimbang uang-uang logam terakhir yang dimilikinya, uang yang ada antara dirinya dan rasa lapar. Di lain pihak, cerita dari Injil Lukas ini juga tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa Yesus tidak menghargai uang persembahan yang telah diberikan orang-orang kaya tersebut. Namun Yesus mengetahui hati mereka dan Ia pun sangat tahu bahwa mereka memberikan uang persembahan mereka dari surplus/kelebihan uang mereka, sedangkan sang janda memberikan uang persembahannya dari kemiskinannya, demi kasihnya kepada Allah.

Makna sesungguhnya dari apa yang kita berikan mengalir dari hati. Apakah kita memberikan waktu kita, energi kita, dan karunia-karunia lainnya karena kasih, atau karena dengan demiian kita merasa lebih baik atau kelihatan lebih baik di depan orang-orang lain?

Allah menciptakan kita bagi diri-Nya sendiri. Karena Allah sedemikian mengasihi dunia, Yesus diutus ke tengah dunia. Dia mati sehingga kita-manusia dapat ditebus/diampuni dan memperoleh hidup kekal. Roh Kudus telah datang untuk memberikan hidup baru bagi kita dan mengajar kita, memimpin kita serta membimbing kita kepada Bapa surgawi. Dalam keheningan kita dapat merenungkan betapa besar kasih Alah dicerminkan dalam karya Tritunggal Mahakudus dalam hidup kita. Segala sesuatu yang kita butuhkan telah disediakan. Apabila kita percaya akan Allah, maka kita tidak akan merasa ragu dan bimbang untuk menaruh kepercayaan kita pada-Nya dan melayani Dia tanpa reserve.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, ampunilah diriku untu cara-caraku membatasi kasihku dan pelayanan kepada-Mu serta memberi hanya dari kelebihanku. Tolonglah aku agar mau dan mampu menjadi seperti sang janda miskin dalam bacaan Injil hari ini, yang memberi persembahan karena cintakasihnya kepada Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “KEMURAHAN HATI JANDA MISKIN YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 23-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 20 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS