BAGAIKAN SEBUAH KATEDRAL YANG INDAH

(Bacaan Kedua Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Selasa, 8 Desember 2015)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT 

immaculate-conception3

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami diberi warisan – kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. (Ef 1:3-6,11-12)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Luk 1:26-38

Apa yang ada dalam pikiran Saudari dan Saudara ketika anda mendengar kata-kata “Dikandung tanpa Dosa”? Kita (anda dan saya) mungkin saja sudah mengetahui apa yang diajarkan Gereja: Maria disebut “tanpa dosa” karena dia dikandung tanpa dosa asal. Namun apakah yang sebenarnya dimaksudkan dengan itu?

Ada yang mengatakan bahwa suatu cara yang baik untuk memikirkan hal-ikhwal tentang Maria adalah berpikir tentang sebuah katedral yang indah. Sebuah katedral adalah sebuah tempat yang secara istimewa didedikasikan sebagai sebuah tempat ibadat, tempat umat menyembah Allah. Tempat sedemikian dipenuhi dengan kehadiran Allah dan mengingatkan kita akan hal-hal surgawi. Begitu kita masuk ke dalamnya, kita merasakan dorongan untuk berlutut dan memuji Tuhan.

Itulah sebabnya mengapa kita menghormati Maria pada hari ini. Ia seperti katedral tadi, malah jauh melampauinya. Maria sedemikian dipenuhi oleh Allah dan rahmat-Nya sehingga dirinya dimampukan untuk mengandung Putera Ilahi-Nya dalam rahimnya. Pada saat ia berjumpa dengan Elisabet dan mengatakan: Jiwaku memuliakan Tuhan” (Luk 1:46), seakan Maria mengatakan bahwa dirinya adalah sebuah “kaca pembesar”. Mengapa? Karena ketika kita melihat pada penyerahan dirinya yang total-lengkap kepada kehendak Allah, kita melihat di situ suatu “model sempurna” dari suatu penghayatan hidup Kristiani yang sejati.

The Visitation - Mary and Elizabeth meet - Luke 1:39-45Akan tetapi, itu pun belum segalanya. Mengapa? Karena dengan Maria mengatakan “Ya” kepada Allah, kita telah menerima segala “berkat-berkat rohani” yang datang dari Kristus. Kita tidak pernah boleh memandang remeh kenyataan luarbiasa bahwa kita mempunyai Yesus yang hidup dalam diri kita. Walaupun kita tidak membawa Kristus seperti yang dilakukan Maria, kita sungguh mempunyai Roh-Nya. Jika kita ada dalam Kristus, maka kita sungguh hidup. Kita telah menjadi “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19), bersama-sama dengan Maria. Dengan demikian kita pun sesungguhnya dapat membuat pernyataan seperti yang dilakukan oleh Maria ketika berjumpa dengan Elisabet di Ain Karim: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang, segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:46-49).

Saudari-Saudaraku yang terkasih, cara yang terbaik untuk menghormati Maria adalah dengan menjadi suatu “model” bagi saudari-saudara kita, seperti Maria adalah suatu “model” bagi kita semua. Marilah kita berjalan dalam kekudusan seperti yang dilakukan oleh Maria, dan memperkenankan terang kita bercahaya bagi orang-orang di sekeliling kita. Marilah kita tunjukkan kepada dunia bahwa itulah privilese menjadi bagian dari Tubuh Kristus – dipersatukan dengan Maria, semua orang kudus, bahkan dengan Yesus sendiri!

Sekarang, marilah kita mengingat lagi bahwa tidak ada seorang pun akan selamat karena upaya dan kekuatan dirinya sendiri, melainkan melalui rahmat dan kuat kuasa Allah yang dimanifestasikan dalam diri umat-Nya, Gereja-Nya, yaitu Tubuh Kristus sendiri di atas bumi.

DOA: Tuhan Yesus, murnikanlah hatiku. Aku menginginkan agar tidak ada sesuatu pun yang menghalangi hubungan antara aku dan Engkau. Tolonglah diriku agar supaya dapat menjadi seperti Maria, yang mau dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 3:9-15,20), bacalah tulisan yang berjudul “TANPA NODA” (bacaan tanggal 8-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 6 Desember 2015 [HARI MINGGU ADVEN II – TAHUN C]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS