SANTO AMBROSIUS, USKUP & PUJANGGA GEREJA [c. 334-397]

matthias-tom-st-ambrose-detail-featured-w740x493

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Ambrosius, uskup dan salah seorang dari keempat Bapak Gereja di Barat. Yang tiga lainnya adalah S. Augustinus [354-430], S. Hieronimus [347-420] dan S. Gregorius Agung [540-604].

Ambrosius berasal dari keluarga bangsawan Romawi  dan dilahirkan di Trier, Jerman dan wafat di Milano. Berikut ini adalah sedikit petikan dari riwayat hidup orang kudus ini.

Ambrosius adalah seorang ahli hukum yang ternama. Dia diangkat oleh kaisar menjadi gubernur propinsi Liguria dan Emilia, dan berkedudukan di Milano (Italia Utara). Pada waktu uskup kota ini meninggal dunia dan umat sedang berkumpul dalam katedral untuk memilih uskup baru, Ambrosius menjaga ketenangan dan keamanan suasana pemilihan.

Ketika dia memasuki pintu gereja, seorang anak berteriak dengan lantang: “Uskup Ambrosius, uskup Ambrosius!” Orang-orang yang hadir pun kemudian beramai-ramai memilih dia. Ambrosius sebenarnya enggan menerimanya karena dia belum dibaptis. Selain itu, dia merasa jabatan uskup adalah kedudukan yang sangat tinggi dan menuntut pertanggungjawaban yang besar. Namun akhirnya dia bersedia juga menerima panggilan Allah tersebut.

Sejak Ambrosius memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran. Dengan bijaksana dia membimbing hidup rohani umat; mengatur ibadat hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin dan mempertobatkan orang berdosa.

Ambrosius adalah uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya dan amat berkenan di mata Tuhan. Ia berhasil menyurutkan pengaruh bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran, Kaisar dikucilkan dari umat. Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat di depan umat. Tak peduli kaisar atau seorang pengemis, jikalau berdosa harus bertobat. Sang Uskup berkata kepada Kaisar Theodosius: “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud dalam berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula dalam bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, tetapi bukan tuannya.”

+++++++

Dikutip dengan beberapa perubahan kata dan tambahan oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS dari ENSIKLOPEDI ORANG KUDUS  yang disusun oleh P. A. Heuken SJ dengan bantuan Staf Yayasan CLC, cetakan keempatbelas tahun 2000.

Cilandak, 7 Desember 2015