GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 9 Desember 2015) 

MARILAH DATANG KEPADAKU“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10

Orang banyak yang mengikuti Yesus barangkali merasa resah dan ciut hati dengan dipenjarakannya Yohanes Pembaptis. Orang-orang ini sedang mencari kelegaan dari beban-beban berat yang menindih mereka, yang “ditimpakan” pada diri mereka oleh para pemuka agama dan pemerintahan tirani dari Raja Herodes Antipas. Mereka telah mengharap-harap bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang yang dapat menolong mereka, namun sekarang sudah dijerumuskan ke dalam penjara. Yohanes Pembaptis memang telah menunjuk Yesus sebagai Dia yang dinanti-nantikan. Mereka bertanya-tanya apakah Yesus dari Nazaret ini sungguh merupakan orang yang akan membawakan keselamatan bagi mereka.

Sang pemazmur benar sekali ketika menulis: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8); semua sejalan dengan bacaan Injil di atas. Yesus memandang orang-orang banyak yang mengikutinya seperti kawanan domba tanpa seorang gembala yang menjaga dan memimpin. Hati-Nya yang penuh belas kasih langsung mendorong-Nya berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Mat 11:28). Yesus sangat mengetahui bahwa bagi orang-orang ini, kuncinya adalah “kasih”. Adalah kasih yang menggerakkan Bapa surgawi untuk mengutus Yesus ke tengah dunia  (lihat Yoh 3:16) dan mengalami segala sesuatu yang berurusan dengan kondisi umat manusia. Kasih jugalah yang mengutus Yesus untuk selama tiga tahun melaksanakan misi-Nya mewartakan Kabar Baik Kerajaan Surga, menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan membuat tanda-tanda heran lainnya, seraya berjalan menuju ke tempat di mana Dia akan melakukan tindakan kasih yang final, yaitu kematian-Nya di atas kayu salib.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan kepada kita mengapa Putera Allah menjadi manusia: “Sabda sudah menjadi manusia, supaya dengan demikian kita mengenal cinta Allah: ‘Kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya’ [1 Yoh 4:9]”. (KGK, 458).

GANDAR ATAU KUK - MAT 11 25-30Yesus mengundang para pengikut-Nya – seperti juga Dia mengundang kita sekarang – untuk mengenakan “gandar” atau “kuk”-Nya, yang sangat cocok dengan kebutuhan dan kemampuan kita masing-masing. Yesus pada dasarnya berjanji: “Aku tidak akan membuat engkau sulit. Jika engkau bersandar padaku dan memperkenankan Aku memikul bebanmu, maka Aku dan engkau dapat berjaya bersama. Datanglah kepada-Ku, dan kebenaran pun akan menang, penghalang-penghalang akan berjatuhan, dan engkau akan menemukan segala kekuatan dan keberanian yang engkau butuhkan.”

Yesus ingin mencurahkan kasih Bapa-Nya ke atas diri kita dan membuat kita “aman” dan berakar kuat dalam kasih itu. Masa Adven adalah masa yang cocok untuk menerima janji ini. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) datang kepada Yesus, seperti undangan-Nya, untuk memikul gandar/kuk-Nya dan mengikuti-Nya, dan bergembira penuh sukacita.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji-Mu untuk kesetiaan dan kasih-Mu. Bebanku lebih ringan karena Engkau telah mengutus Putera-Mu terkasih guna menjadi terang bagi jalanku dan tempat aku berlindung pada saat-saat pencobaan dan penderitaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 40:25-31), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH AKAN MEMENUHI SEGALA JANJI-JANJI-NYA” (bacaan tanggal 9-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 7 Desember 2015 [Peringatan S. Ambrosius, Uskup & Pujangga Gereja]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS