APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT? [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun C] – 13 Desember 2015)

Baptista-cropped 

Orang banyak bertanya kepadanya, “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya kepada mereka, “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”  Pemungut-pemungut cukai juga datang untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya, “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawabnya, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.”  Prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya, “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawab Yohanes kepada mereka, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”  Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”  Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. (Luk 3:10-18)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Flp 4:4-7 

“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” (Luk 3:10)

Dengan gaya yang sangat dramatis, Yohanes Pembaptis mengajar para pendengarnya bahwa mereka harus mereformasi hidup mereka dalam mempersiapkan diri bagi kedatangan sang Mesias. Ia mengatakan kepada para pendengarnya untuk memberi dengan penuh kemurahan hati kepada orang-orang miskin. Ia menyerukan kepada para pemungut cukai dan serdadu untuk meninggalkan praktek korupsi. Yohanes Pembaptis mengetahui bahwa tipe-tipe reformasi pribadi seperti ini akan membuka hati mereka guna menerima Dia yang akan datang untuk membaptis mereka dengan Roh Kudus dan api – yaitu Yesus, Penebus kita semua.

Dari ajaran Yohanes Pembaptis kelihatan dengan jelas bahwa dia mengkaitkan antara tindakan mereformasi hidup kita dan kemampuan kita untuk menerima Roh Kudus. Pada kenyataannya, nasihat mendesak yang menjadi favoritnya adalah “Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Mat 3:8). Bagi Yohanes Pembaptis, mempersiapkan kedatangan Mesias menyangkut lebih daripada sekadar menyesali dosa-dosa dan bertobat. Persiapan itu berarti juga membuat perubahan-perubahan yang kelihatan dalam hal gaya hidup kita selama ini, sebagai bukti adanya pertobatan yang sejati.

Tentu saja seorang pemungut cukai yang secara tiba-tiba menjadi “bersih” dalam melakukan urusan bisnisnya menyebabkan banyak orang dalam kota yang akan bertanya-tanya, berkasak-kusuk, bergosip-ria, dlsb. tentang “pejabat” tersebut. Bayangkanlah bahasa tubuh, teristimewa ekpresi wajah dari orang-orang yang melihat dirinya atau bertemu dengan dia ketika dia berjalan dari rumah yang satu ke rumah yang lain untuk mengembalikan uang yang telah lebih-dibebankan olehnya. Saya suka membayangkan kasus Zakheus (Luk 19:1-10), sang pemimpin pemungut cukai yang membuat deklarasi seperti tercatat dalam Luk 19:8). Ia dapat saja jatuh pailit jika dia dengan ketulusan hati mewujudkan apa yang telah dideklarasikannya di depan Yesus. Kembali kepada pemungut cukai yang bertobat di atas, bayangkanlah betapa terkejutnya orang-orang ketika mendengar dia mengumumkan dengan suara keras bahwa sekarang dia telah menjadi seorang pribadi yang berubah, dan sekarang dia sedang menantikan kedatangan Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Dapatkah para sahabat kita, para tetangga kita melihat adanya suatu perubahan dalam diri kita selagi Hari Raya Natal semakin mendekat? Apakah mereka melihat dalam diri kita ada sukacita yang lebih, kemurahan hati yang lebih, dan kasih yang lebih? Apabila jawabannya “ya”, maka tentunya kita (anda dan saya) dapat mengatakan bahwa kita ini tergolong orang-orang yang sungguh mendengarkan seruan Yohanes Pembaptis untuk bertobat. Keluarga serdadu/prajurit yang mentransformasikan hidupnya setelah mendengar seruan Yohanes Pembaptis dapat dipastikan akan pergi menemui sang nabi yang mampu menyebabkan terjadinya perubahan dramatis dalam diri sang serdadu/prajurit.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita berdoa agar hidup kita juga akan menjadi inspirasi bagi orang-orang lain dalam upaya mereka mencari Yesus yang begitu penuh kuat-kuasa bekerja dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku mengkomit diriku untuk menghayati suatu kehidupan yang berbuah-limpah sesuai dengan pertobatanku. Penuhilah diriku, ya Tuhan Yesus, dengan Roh Kudus dan berikanlah kepadaku rahmat dan kekuatan untuk senantiasa setia kepada-Mu. Semoga siapa saja yang kutemui pada hari ini dapat melihat Engkau – Yesus Kristus – yang ada dalam diriku, sehingga mereka pun akan bertanya: “Apakah yang harus kuperbuat agar dapat diselamatkan?” Terpujilah nama-Mu Yang Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:10-18), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT?” (bacaan tanggal 13-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 10 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements