BERBALIK KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven – Selasa, 15 Desember 2015) 

Jesus_181“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Zef 3:1-2,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,6-7,17-19,23

Bayangkanlah bahwa kepada anda diberitahukan bahwa para koruptor dan bandar narkoba akan mendahului anda masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bagaimana anda akan bereaksi? Yesus menggunakan imaji-imaji serupa ketika Dia berbicara kepada para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Ada sejumlah dari mereka yang mengikuti hukum dengan teliti sekali, namun tetap luput/lalai menjalani sesuatu yang bersifat hakiki: Dengan tidak melakukan pertobatan, mereka sebenarnya menutup diri mereka dari belas kasih Allah!

Yesus mengajar para pendengar-Nya dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang muda. Ayah dari orang muda ini memerintahkan kepadanya untuk bekerja di kebun anggur. Orang muda itu menolak, namun kemudian ia “mengubah pikirannya”: dia menyesal dan pergi! (Mat 21:30). Kata Yunani yang digunakan di sini adalah metanoia. Istilah ini dapat diterjemahkan/diartikan bahwa orang muda ini mengubah pikirannya atau dia bertobat. Karena pikiran orang muda itu tentang relasinya dengan sang ayah, maka dia berbalik dari “tidak” menjadi “ya”, dan kemudian melakukan apa yang  diperintahkan ayahnya tersebut. Jadi, sungguh mengagumkanlah apabila kita mau dan mampu memohon pengampunan dari Allah dan kemudian menerima rahmat-Nya untuk berubah!

Yesus sungguh rindu untuk melihat para pemuka Yahudi itu melihat dosa-dosa mereka sendiri, bertobat dan menerima belas kasih-Nya. Para PSK dan pemungut pajak dengan rendah hati bertobat, dan Ia berjanji bahwa bahwa mereka akan masuk ke dalam Kerajaan Allah! Lebih menggembirakan lagi adalah kenyataan bahwa Dia memberikan janji sedemikian kepada mereka yang telah mengabdikan diri guna menolong umat Allah – hanya apabila mereka mau berbalik kepada-Nya!

Selagi kita terus menjalani masa Adven ini, baiklah kita (anda dan saya) memeriksa hati/batin kita dan bertobat atas dosa-dosa kita. Selagi kita melakukannya, kita akan melihat kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya mengubah diri kita. Dengan menerima sakramen rekonsiliasi, hati kita dapat menjadi terbuka bagi rahmat kesembuhan ilahi dalam cara yang tidak dapat dilakukan oleh jenis doa lainnya. Sebagai tanggapan,  janji Allah bergema melalui nabi Zefanya akan menjadi milik kita: “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN (YHWH), yakni sisa Israel itu” (Zef 3:12-13).

DOA: Allah Yang Mahakuasa, aku memuji Engkau untuk belas kasih-Mu. Engkau adalah tempat pengungsianku. Kasih-Mu dan pengampunan-Mu hebat sekali. Aku menyembah Engkau dan dengan rendah hati datang ke hadapan hadirat-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karunia pertobatan mulia yang Kauanugerahkan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32),  bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH PENDAPATMU TENTANG PERUMPAMAAN INI?” (bacaan tanggal 15-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Cilandak, 12 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS