HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 22 Desember 2015)

magnificat (1)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria – Magnificat – adalah sebuah kidung pujian yang indah. Kidung ini mencerminkan kontemplasi penuh kerendahan hati tentang belas kasih Allah yang begitu besar bagi dirinya. Maria mengetahui bahwa orang-orang segala zaman akan menyebutnya berbahagia karena perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan-Nya kepadanya. Maria yakin sepenuhnya bahwa dirinya – orang yang rendah dan lemah – akan ditinggikan oleh kuat-kuasa Allah sebagai suatu testimoni, tidak untuk kebaikan dirinya, melainkan untuk kemampuan Bapa surgawi mentransformasikan siapa saja yang membuka hatinya bagi diri-Nya.

Dalam permenungannya tentang peranan Maria dalam sejarah keselamatan, Santo Efrem [306-373], diakon, penyair dan pujangga Gereja di Siria, menulis sebagai berikut: “Sang Mahatinggi [Allah] … telah membuat diri-Nya kecil dalam diri Santa Perawan Maria agar membuat kita besar” (Madah Kelahiran Kristus). Santo Efrem memahami bahwa Allah ingin membuat kita semua menjadi “besar” seperti Maria. Maria itu “penuh rahmat” (“yang dikaruniai”; Luk 1:28); ia adalah pribadi manusia pertama dari orang-orang yang tak terhitung banyaknya, yang ingin dibangkitkan oleh Allah ke dalam suatu hidup yang baru dan penuh kuat-kuasa dalam kehadiran-Nya.

Satu dari berbagai peranan penting yang dimainkan oleh Maria adalah sebagai suatu contoh dari kehidupan yang ingin diberikan Allah kepada kita semua. Maria hanya muncul beberapa kali saja dalam Kitab Suci, namun ia menunjukkan kerendahan hati yang dapat membuka diri kita bagi rahmat-Nya yang mampu mentransformasikan diri kita masing-masing. Dalam kidungnya, Maria mengatakan: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48). Kata-kata Maria dalam kidung tersebut menunjukkan apakah kerendahan hati yang sejati itu. Kerendahan hati yang sejati bukanlah “kelemahan” atau “sifat/sikap takut-takut” atau “mencela diri sendiri”. Kerendahan hati yang sejati adalah kesadaran mengenai kebutuhan kita akan Allah dan suatu pengakuan penuh rasa takjub pada keanggunan-Nya terhadap kita. Kerendahan hati membuat kita cenderung untuk menaruh kepercayaan kepada Dia yang menciptakan kita dan untuk menyerahkan diri kita  kepada-Nya tanpa reserve. 

Saudari dan Saudaraku, Allah ingin mengangkat diri kita jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi dan alamiah kita. Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Hanya rahmat ilahi dan kuat-kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan kita selagi kita bekerja sama dengan Dia. Hanya apabila kita memahami betapa mulia kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita, maka kita pun – seperti Maria – akan benar-benar menjadi rendah hati, karena diliputi rasa penuh syukur atas kemurahan hati-Nya yang tanpa batas itu. Marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Tuhan untuk meluaskan visi kita tentang bagaimana Dia ingin bekerja dalam hidup kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang mengangkat orang yang rendah dan lemah. Angkatlah juga diriku oleh rahmat-Mu. Biarlah aku mengetahui tujuan hidup yang Engkau rencanakan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS” (bacaan tanggal 22-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

Cilandak, 19 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS