IKUT AMBIL BAGIAN DALAM KEMENANGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Oktaf Natal – Senin, 28 Desember 2015)

 Cranach_Massacre_of_the_Innocents_(detail)

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18) 

[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Mengungsinya Keluarga Kudus ke Mesir untuk menghindari pembunuhan massal atas diri anak-anak tak bersalah di Betlehem adalah suatu ilustrasi dramatis dari pertempuran antara “kegelapan” dan “terang”. Namun demikian, walaupun seluruh hidup Yesus – dari Betlehem sampai bukit Kalvari – ditandai dengan kemiskinan, perlawanan dari orang-orang yang tidak menyukai-Nya – teristimewa para pemuka agama Yahudi – dalam berbagai bentuknya, penderitaan sengsara; tidak ada kekuasaan manusia ataupun roh jahat yang mampu menggagalkan keberhasilan karya-Nya. Seperti tertulis dalam awal Injil Yohanes: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

Mengapa Herodes takut pada Bayi kecil ini? Dia tidak mengetahui bahwa Yesus telah datang untuk mengalahkan hati dan jiwa, bukan tanah dan mahkota. Untuk “menghabiskan” nyawa seorang bayi tak berdaya, Herodes tega untuk memerintahkan dilakukannya pembunuhan massal atas dari banyak sekali anak-anak yang lain. Ia menghancurkan kehidupan anak yang lemah dan tak berdaya, yang tidak dapat membela diri karena rasa takut telah menghancurkan hatinya sendiri. Untuk memperpanjang hidupnya sendiri, Herodes mencoba untuk membunuh Hidup itu sendiri.

Walaupun Herodes menggunakan kekuatan dan kekejaman untuk mewujudkan tujuan-tujuannya duniawinya yang mementingkan diri sendiri, Allah mengubah tragedy ini menjadi kemenangan bagi Kerajaan Allah. Anak-anak tak bersalah di Betlehem menjadi saksi-saksi dari kuat-kuasa rahmat Allah. Mereka mati untuk dan demi Yesus Kristus, walaupun mereka sendiri tidak memahaminya. Mereka belum dapat berbicara, namun Yesus membuat mereka menjadi saksi-saksi yang cocok terhadap dirinya. Mereka tidak mampu mengangkat senjata namun sekarang mereka membawa daun palma kemenangan. Yesus membebaskan jiwa-jiwa mereka dari cengkeraman Iblis dan membuat mereka anak-anak angkat Allah sendiri. Sekarang mereka ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya dan memerintah dengan Dia dalam kemenangan.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita juga ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus, walaupun ketika kita merasa kalah. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”  (Rm 8:28). Kemunduran-kemunduran, kegagalan-kegagalan dlsb. – tidak ada sesuatu pun yang kita hadapi dalam hidup ini perlu memisahkan kita dari Kristus. Kasih-Nya dapat berkemenangan di atas segala sesuatu, baik dalam kehidupan pribadi kita secara pribadi maupun dalam dunia secara keseluruhan.

Pada hari ini kita menghadapi kejahatan yang jauh lebih buruk daripada pembunuhan massal di Betlehem sekitar 2000 tahun lalu. Lihat saja pembunuhan-pembunuhan kejam yang dilakukan oleh ISIS di Timur Tengah serta kelompok-kelompok teroris lainnya di mana-mana, dan juga aborsi atas diri anak-anak yang belum dilahirkan. Bagaimanakah kiranya kita dapat menghentikan dan membalikkan “budaya kematian” seperti ini? Kasih Allah dapat dan akan menang! Memang kejahatan besar sedang berlangsung. Benarlah bahwa kita harus banyak berdoa dan berupaya untuk mengubah “budaya kematian” seperti ini. Akan tetapi, doa-doa kita tidak pernah boleh didasarkan pada rasa frustrasi, keputus-asaan, atau kebencian terhadap mereka yang melakukan kejahatan tersebut. Kita harus ingat bahwa “terang Kristus” tidak pernah dapat dikalahkan oleh apapun dan siapapun.

DOA: Bapa surgawi, hiburlah semua anak yang menjadi korban aborsi dan mereka yang menjadi korban kekejaman para teroris. Bawalah mereka ke hadapan hadirat-Mu di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-18) bacalah tulisan yang berjudul “SUATU KEMENANGAN BAGI KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 28-12-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 26 Desember 2015 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS