TINGGAL DI DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Sabtu, 2 Januari 2016

YOHANES-220px-JohnEvangelistReniSiapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1 Yoh 2:22-28).

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

Ungkapan “tinggal dalam Kristus” beberapa kali muncul dalam petikan bacaan di atas. Kenyataan ini kiranya merupakan tanda betapa penting arti ungkapan itu. Memang sungguh vital bagi kita untuk mempelajari rahasia dari ungkapan “tinggal dalam Kristus” ini – berada bersama Dia sepanjang masa. Yohanes menjelaskan bahwa “pengurapan” (baptis) kita “terima dari dari Dia tinggal dalam diri kita (1 Yoh 2:27). Kita  dapat mengalami saat-saat berdoa yang terasa manis dan indah selagi kita mulai memahami bahwa Yesus sungguh hidup dalam diri kita! Kita merasakan indahnya kehadiran Yesus apabila kita memahami pernyataan/perwahyuan bahwa kita adalah anak-anak Allah!

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari, apakah kita (anda dan saya) ingat untuk mencari Juruselamat kita? Apakah kita merasakan betapa hangat kehadiran-Nya pada saat-saat doa yang dipenuhi keheningan? Apakah kita juga merasakan kehangatan kehadiran-Nya itu selagi kita menjalankan tugas-tugas harian kita? Yohanes menjelaskan bahwa Yesus itu begitu riil dan berwujud sehingga hampir dapat merasakan sentuhan-Nya atau mendengar suara-Nya yang lembut. Bisikan kasih-Nya dan bisikan dorongan guna menyemangati kita seharusnya membuat hati kita tenang. Sabda Allah dalam Kitab Suci seharusnya hidup dalam diri kita, memenuhi diri kita dengan sukacita dan pernyataan diri-Nya.

ROHHULKUDUSKadang-kadang memang kita merasa bahwa hubungan kita dengan Yesus suka keluar dari rel. Barangkali karena kita memperkenankan tekanan/beban kehidupan sehari-hari kita membuat kita hampir berputus-asa dan merampas rasa percaya kita akan kehadiran-Nya. Barangkali, selagi kita menghadapi berbagai kesulitan atau pengejaran serta penganiayaan dalam hidup kita, kita bertanya kepada diri kita: “Di mana Allah dalam setiap peristiwa ini? Dalam hal ini kita harus senantiasa tidak boleh lupa bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia memanggil kita kepada suatu iman yang lebih mendalam, suatu pengosongan diri yang lebih mendalam lagi guna memberi ruang yang lebih luas lagi bagi-Nya. Selagi kita bereksperimen dengan iman kita kepada-Nya, kita mulai memahami kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi.

“Tinggal di dalam Kristus” berarti kita menerima dalam iman bahwa Yesus telah mencurahkan Roh Kudus-Nya ke dalam diri kita. Tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia meninggalkan kita – tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia tidak tinggal dalam diri kita. Semakin besar kepercayaan kita pada kebenaran ini, semakin sering pula kita akan mengingat dan menggantungkan hidup kita pada kasih-Nya selagi kita menjalani hidup kita sehari-harinya.

Manakala kita (anda dan saya) merasa terpisah dari Allah, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menyatakan kehadiran-Nya dalam hati kita. Marilah kita mengingatkan diri kita bahwa Yesus tidak akan meninggalkan kita. Dia tidak pernah melupakan “kasih setia dan kesetiaan-Nya” (Mzm 98:3).

DOA: Yesus, aku percaya bahwa Engkau ada bersamaku. Dalam iman dan kasih, aku menyerahkan diriku kepada kehendak-Mu. Aku menyatakan dalam iman bahwa Engkau tidak pernah akan meninggalkan diriku. Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku yang sungguh setia, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan untuk tanggal 1-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUMA http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 30 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS